Sudah 13 Negara yang Usir Dubes Suriah Terkait Pembantaian Oleh Rezim Syiah Presiden Bashar Al Assad

Sebagai sebuah aksi protes keras atas pembantaian warga sipil di Suriah oleh rezim Syiah Presiden Bashar Al Assad, sampai Rabu Kemarin (30/5) sudah 13 negara yang mengusir Dubes Suriah yang ada di Negara masing-masing yakni Turki, Jepang, Amerika Serikat, Swiss, Belanda, Bulgaria, Spanyol, Italia, Kanada, Inggris, Australia, Perancis dan Jerman. Rabu kemarin Turki dan Jepang yang terakhir mengusir Diplomat Suriah. Pemerintah Jepang telah meminta sang Dubes, Mohamed Ghassan Al Habash untuk pergi secepat mungkin. Demikian disampaikan seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang kepada kantor berita AFP, Rabu (30/5/2012). "Ini tindakan untuk memperlihatkan protes Jepang kepada Suriah, bukan cuma atas kekerasan namun juga pelanggaran HAM intens yang terbaru," kata pejabat Jepang yang tidak disebutkan namanya itu. Reaksi Indonesia Selain mengirim tim peninjau, Indonesia berencana memanggil diplomat Suriah di Jakarta untuk memberi penjelasan. "Kami punya opsi untuk memanggil perwakilan diplomatik Suriah di Jakarta. Saat ini tidak ada Dubes Suriah di Jakarta, hanya ada Kutap (kuasa usaha tetap). Yang bersangkutan akan kami panggil untuk menjelaskan," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Gedung DPR, Jakarta, Rabu 30 Mei 2012. Sebelumnya, Indonesia telah menarikduta besar untuk Suriah. Penarikan ini sebagai bentuk protes Indonesia atas berbagai kekerasan yang terjadi di Suriah. "Duta besar kita dari bulan Januari ditarik dari Suriah sebagai bagian dari sikap kita yang menunjukkan tentang ketidakpuasan atas apa yang terjadi," kata Natalegawa. Namun, duta besar Indonesia untuk Suriah itu kembali dikirim. Sebab, Indonesia juga mengirimkan 16 perwira dari TNI dan Polri untuk bergabung dengan Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai tim peninjau. "Baru minggu kemarin beliau saya instruksikan untuk kembali ke Suriah. Bukan apa-apa karena saat ini ada 16 observer Indonesia. Saya tidak ingin observer kita berada di Suriah tanpa ada Duta Besar RI," kata Natalegawa. "Dubes kita sudah ada di tempat untuk memastikan keselamatan, pelaksanakan tugas dari para peninjau di Suriah," lanjut dia. Komisi I: RI Lamban Tanggapi Krisis di Suriah Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, Mahfudz Siddiq, menilai Pemerintah Indonesia lambat dan tidak tegas mengambil kebijakan politik dalam menanggapi krisis Timur Tengah, termasuk pembantaian yang baru-baru ini terjadi di Suriah. Seharusnya, kata Mahfudz, Indonesia mengambil sikap politik yang tegas dengan cara mengajak organisasi dunia, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab untuk bersama-sama memberikan sanksi terhadap Suriah. "Pemerintah perlu untuk memberikan peringatan, tarik semua warga Indonesia di Suriah," kata politisi PKS itu Kekejaman Rezim Syiah Suriah Terus Berlanjut Menurut laporan Lembaga Hak Asasi Manusia PBB, sudah lebih 20 ribu rakyat Suriah yang dibantai oleh rezim Syiah-Alawiyyin yang dipimpin Bashar al-Assad. Pembantaian itu terus berlanjut. Sepertinya al-Assad tak peduli dengan kamatian yang terjadi. Rakyatnya diperlakukan seperti binatang. Dunia internasional tak mampu menghentikan semua kejahatan yang dilakukan al-Assad. Kekejaman yang tiada bandingnya sepanjang sejarah kemanusiaan. Seorang penduduk yang menyaksikan pembantaian di Houla, mengatakan, "Mereka membantai penduduk seperti binatang", tukasnya. Belum lama, rezim Syiah-Alawiyyin di Suriah dengan sangat menjijikkan membantai 108 penduduk Houla. Tanpa peduli. Kota Houla sebelumnya dihujani dengan tembakan senjata berat. Kemudian pasukan dan milisi Bashar al-Assad masuk, membantai perempuan, dan anak-anak, mereka di sayat-sayat dan dipotong. Kemudian mayat yang sudah dipotong-potong dibuang di jalan-jalan. Ini sebuah bentuk teror yang dijalankan negara. Tujuannya menghentikan gerakan rakyat Suriah yang menginginkan rezim Alawiyyin itu segera pergi. Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, mengatakan bahwa sebagian besar 108 orang yang tewas, termasuk 49 anak-anak di wilayah Houla Suriah, semuanya dieksekusi dengan cara-cara yang sangat mengerikan. Berbicara kepada pers di Jenewa, Rupert Colville, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, mengatakan bahwa menurut saksi mata sebagian besar pembunuhan dilakukan "oleh pasukan rezim al-Assad, ujarnya, Selasa. Pernyataan Collville muncul tidak lama setelah pertemuan antara utusan PBB Kofi Annan-Liga Arab dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus, Selasa. "Penyelidikan sedang berlangsung, sekurang-kurangnya lebih dari 20 korban di desa Taldou tewas akibat tembakan artileri. Sebagian besar sisa korban di kota Houla dieksekusi," kata Colville. Colville juga mengatakan bahwa 49 anak dan 34 wanita di antara korban pembantaian Houla. Kofi Annan menyebut pembantaian di Houla "sangat mengerikan dan akan membawa konsekuensi besar", ujarnya sebelum Annan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem, Senin. Berbicara kepada koresponden AA melalui internet, Abu Ubeyd, anggota Komisi Revolusi Suriah, mengatakan bahwa kunjungan Annan ke Suriah itu "tidak memiliki arti apa-apa". "Kunjungan Kofi Annan ke Damaskus sesudah pembantaian di Houla, tidak ada gunanya, karena rezim Alawiyyin setiap hari melanggar gencatan senjata", kata Ubeyd. Rezim Syiah Alawiyyin sudah tidak dapat menerima bahasa politik, dan hanya mengerti bahasa kekuatan, tambah Ubeyd. Melihat terus berlangsungnya kejahatan yang dilakukan oleh Bashar al-Assad terhadap rakyatnya, menunjukkan bagaimana al-Assad menanggapi sikap dunia internasional atas segala kejahatan yang sudah dilakukannya. Assad tidak peduli lagi dengan dunia internasional. Rezim Syiah di Suriah, nampaknya tak peduli, dan tidak mau mendengarkan opini internasional. Kekejaman yang dilakukan rezim Bashar al-Assad itu, benar-benar menjijjikan, dan mendapatkan dukungan dari Iran, Irak, dan Hesbollah di Lebanon. Penerbangan terus berlangsung dari Bandara Meherabad-Iran, Irak, dan Lebanon, yang mengirimkan pasukan elite mereka membantu rezim Bashar al-Assad. Mereka dengan menggunakan pakaian sipil, seakan-akan mereka merupakan turis yang akan mengunjungi Suriah. Tetapi, mereka adalah pasukan elite Iran, anggota Brigade al-Mahdi yang merupakan pasukan milisi yang dipimpin Al-Sadr di Irak, dan Hesbullah, sekarang bahu-membahu dengan pasukan al-Assad, melakukan pembantaian penduduk Suriah, yang ingin menggulingkan rezim Alawiyyin itu. Kekuatan Syiah yang membentang mulai dari Lebanon, Irak, Iran, Bahrain, sampai ke Yaman, benar-benar menjadi ancaman keamanan secara regional, di dunia Arab, yang sekarang ini terus menciptakan instabilitas di negara-negara Timur Tengah, seperti Lebanon, Bahrain, Yaman, dan bahkan di Saudi. Iran menjadi pemain dibalik semua situasi yang sangat krusial di Timur Tengah saat ini. Di tengah-tengah dunia Arab, yang sedang mengalami transisi politiki. Wallahu'alam.(Sumber: detik/viva news/voa islam)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan