Tampilkan postingan dengan label Dakwah Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Sekolah. Tampilkan semua postingan

Pesantren Ramadhan



Pesantren Ramadhan di SMKN 1 Namlea tepatnya di Aula Sekolah, kegiatan berlansung selama 6 hari.

Valentine's Day Hari Raya Mengenang Pendeta


Valentine’s Day atau biasa disebut hari kasih sayang, adalah saat-saat yang dianggap paling tepat oleh remaja, bahkan yang telah dewasa sekalipun untuk mengungkapkan cinta kepada pasangannya. Mulai dari memberikan hadiah berupa bunga, boneka, coklat, kirim kartu, dan sebagainya. Tak jarang, kehormatan pun dihadiahkan sebagai tanda cinta.



Tertipu Gemerlap Valentine’s Day
Keyakinan bahwa Valentine adalah hari kasih sayang mengundang tanya. Jika memang seperti itu, mengapa targetnya adalah anak-anak muda, bukan ibu-bapak kita, kakek-nenek kita? Jawabannya, karena merusak generasi yang bakal menjadi penerus peradaban alias pemuda jauh lebih strategis. Kalau pemudanya rusak, maka lebih mudah merusak sendi lainnya.

Jika benar mereka—baca Barat—yang suka menjajakan Valentine itu memang menjunjung kasih sayang, tanyakan buktinya. Angka perceraian tinggi, anak-anak mereka rusak karena brokenhome, prostitusi merajalela bahkan disahkan oleh negara, aborsi pun legal, orang tua diterlantarkan di panti jompo, diskriminasi ras dan warna kulit, dan lain-lain. Inikah kasih sayang yang bisa dicontohkan oleh mereka?

Sekarang tengok ke Timur. Irak hancur lebur. Muslimahnya jadi korban perkosaan para tentara Barat. Anak-anak kecil dan orangtua serta warga sipil dibantai tanpa ampun. Negerinya dijajah dan porak-poranda. Belum lagi Afghanistan, Bosnia, Chechnya, bahkan Indonesia. Semuanya dijajah. Bila tidak secara fisik, pastilah secara ekonomi dengan hutang yang diwariskan pada anak cucu kita. Secara budaya, salah satunya adalah memaksakan perayaan Valentine ini ke generasi muda kita melalui media yang begitu gencar menjajakan ritual ini.

Valentine itu hanya sebuah momen bagi para kapitalis yang mata duitan untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya. Coklat, boneka, dan bunga jadi laris manis. Begitu juga dengan kartu-kartu dan berbagai pernak-pernik Valentine’s Day lainnya.

Valentine, Merusak Generasi
Didorong oleh media, baik elektronik maupun cetak yang seolah dikomando oleh pihak tertentu menggaungkan acara ini, remaja kita pun menjadi malu dan minder, merasa ketinggalan jaman jika tidak turut merayakan Valentine.

Valentine’s day, sebetulnya bukan mengagung-agungkan cinta dan kasih sayang, tapi lebih ke arah mengumbar hawa nafsu, agar nafsu itu bangkit dan liar tanpa kendali.
Tahun 2004 lalu, puncak acara Valentine’s Day di Filipina ditandai dengan mencetak rekor dunia “ciuman massal”. Tidak kurang 5.122 pasangan antri di Manila, ibu kota negara itu, untuk berciuman selama paling tidak 10 detik guna merayakan Valentine. Bayangkan, jika hal ini terjadi di negara kita. Na’udzu billah min dzalik!

Ini baru dosa-dosa Valentine ditinjau dari dampak maksiat yang terjadi di dalamnya. Belum lagi kalau kita melihat asal-usul Valentine.

Latar Belakang Valentine's Day
Ada berbagai versi tentang asal muasal Valentin's Day ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa ia berasal dari seorang yang bernama Saint (Santo) Valentine, seorang yang dianggap suci oleh kalangan Kristen, yang menjadi martir karena menolak untuk meninggalkan agama Kristiani. Dia meninggal pada tanggal 14 Februari 269 M., pada hari yang sama saat dia mengungkapkan ucapan cintanya. Dalam legenda yang lain disebutkan bahwa Saint Valentine meninggalkan satu catatan selamat tinggal kepada seorang gadis anak sipir penjara yang menjadi temannya. Dalam catatan itu dia menuliskan tanda tangan yang berbunyi From Your Valentine.

Cerita lain menyebutkan bahwa Valentine mengabdikan dirinya sebagai pendeta pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Claudius kemudian memenjarakannya karena dia menentang Kaisar. Penentangan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara. Nyatanya, banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide "gila". Pikirannya, jika laki-laki tidak kawin, mereka akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengizinkan laki-laki kawin.

Kalangan remaja menganggap, ini adalah hukum biadab. Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta, dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan, setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia dan menyenangkan. Bayangkan, dalam sebuah kamar hanya ada sinar lilin dan ada pengantin putra dan putri serta Valentine sendiri. Peristiwa perkawinan diam-diam inilah yang menyeret dirinya ke dalam penjara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati.

Banyak yang datang mengunjunginya dalam penjara. Salah satu pengunjung tersebut adalah seorang gadis anak sipir penjara. Dia mengobrol dengannya berjam-jam. Di saat menjelang kematiannya dia menuliskan catatan kecil: Love from your Valentine. Dan pada tahun 496 Paus Gelasius menyeting 14 Februari sebagai tanggal penghormatan untuk Saint Valentine. Akhirnya secara gradual 14 Februari menjadi tanggal saling menukar pesan kasih, dan Saint Valentine menjadi patron dari para penabur kasih. Tanggal ini ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah. Bahkan, sering pula ditandai dengan adanya kumpul-kumpul atau pesta dansa.

Valentine’s Day Merusak Akidah
Dari paparan di atas kita tahu bahwa kisah cinta Valentine ini merupakan kisah cinta milik kalangan Kristen dan sama sekali tidak memiliki benang merah budaya dan peradaban dengan Islam. Celakanya, remaja-remaja Muslim ikut larut dan merayakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sungguh, kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai, jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun mengikuti mereka.” Kami bertanya, “ Wahai Rasulullah! Apakah yang Anda maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau bersabda, “Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Hari raya termasuk karakteristik yang menjadi ciri khas umat. Turut dalam perayaan hari raya agama lain adalah bentuk penyerupaan yang paling nyata terhadap agama tersebut.
Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka. Demikian pula, dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang muslim dalam setiap rakaat shalatnya membaca, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7).

Bagaimana bisa ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, sementara ia sendiri justru menempuh jalan sesat itu dengan sukarela?

Valentine's Day merupakan ungkapan kasih yang bukan bagian dari agama kita, juga saat ini dirayakan dengan menonjolkan aksi-aksi permisif, dengan lampu remang, dan lilin-lilin temaram. Meniru perilaku agama lain dan sekaligus melegalkan pergaulan bebas, inilah yang tidak dibenarkan dalam pandangan Islam.

Sekadar Ikut Merayakan
“Bolehkan, sekadar ikut merayakan saja, tanpa meyakini bahwa ini adalah hari raya orang Nasrani? Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang sifatnya universal?” Mungkin sebagian dari kita berdalih demikian. Tapi bagi kaum mus-limin, kita sudah diingatkan oleh Allah Subhaanahu Wata’ala melalui firman-Nya, artinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. al Isra’: 36).

Inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya sekadar ikut-ikutan. Sebelum melakukan suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana Islam menyikapinya. Ini mendidik kita, agar tidak menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut-ikutan tanpa tahu ilmunya. Islam mengajak kita untuk cerdas dalam menyikapi sesuatu.

Banyak orang berdalih untuk membenarkan dirinya sendiri ketika ia turut larut dalam perayaan ini. Namun, tidak ada kata “sekadar” dalam kehidupan seorang muslim. Itu karena tiap perbuatan meskipun itu sebesar debu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Aneh, jika setelah tahu hakekat asli wajah buruk di balik Valentine, mayarakat kita, khususnya remaja masih suka-cita menyambut-nya!

Maka menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengawasi dan melarang anak mereka untuk turut berpartisipasi dalam ritual ini. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta dan Kasih Sayang dalam Islam
Kurang cerdas, jika kaum Muslimin dan secara khusus kalangan remajanya ikut melestarikan budaya yang sama sekali tidak memiliki ikatan historis, emosioal, dan religius dengan mereka. Keikutsertaan remaja Muslim dalam "hura-hura" ini merupakan refleksi sebuah kekalahan dalam sebuah pertarungan mempertahankan identitas dirinya. Mungkin ada sebagian remaja yang akan bertanya, “Kenapa memperingati sebuah tragedi cinta itu tidak boleh dilakukan? Apakah Islam melarang cinta kasih? Bukankah Islam menganjurkan pemeluknya kasih kepada sesama?”
Islam tidak melarang cinta kasih. Islam sendiri adalah agama kasih dan menjunjung cinta kepada sesama. Dalam Islam cinta demikian dihargai dan menempati posisi sangat terhormat, kudus, dan sakral. Islam sama sekali tidak phobi terhadap cinta. Islam mengakui fenomena cinta yang tersembunyi dalam jiwa manusia. Namun demikian, Islam tidak menjadikan cinta sebagai komoditas yang rendah dan murahan.

Islam memandang cinta kasih itu sebagai rahmat. Maka, seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri. Kasih sayang dalam Islam bersifat Universal. Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia juga tidak dibatasi oleh objek dan motif. Kasih sayang diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditinpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari perbuatan tercela. Inilah Islam, dan setiap Muslim hendaknya merasa bangga dengan agamanya dan tak perlu latah mengikuti ajaran agama lain. Wallahu Waliyyut Taufi

(Al Fikrah Edisi No.05 Tahun XI/27 Safar 1431 H)





Cara Mudah Menghafal Bulan Hijriyah


Pertama, yang harus diingat adalah tahun hijriah berdasarkan hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinnah. Kalau lupa nama bulan pertama, ingat saja nama Rasul dan nama kota yang dituju beliau: Muhammad dari Mekkah Mukarrahmah ke Madinah, ketemulah kata Muharram. Hijrahnya Rasul adalah suatu perjalanan suci. Perjalanan dalam bahasa Arab adalah Safar. Itulah nama bulan kedua.


Selanjutnya, 4 bulan berikutnya merupakan bulan yang mengandung kata-kata awal dan akhir/tsani. Sesampainya Rasul berhijrah dan melakukan perjalanan, Rasul tercinta berulang tahun di Madinah. Kelahiran Rasul ada di bulan Rabi’ul Awal. Itu nama bulan ketiga. Ingat rumusannya tadi, ada kata awal harus ada akhir, jadilah Rabi’ul Akhir atau Rabi’ul Tsani sebagai bulan ke empat. Masih ada dua bulan lagi setelahnya yang mengandung awal dan akhir, yaitu Jumadil Awal dan Jumadil Akhir/Tsani sebagai bulan yang ke lima dan ke enam.

Nah, 4 bulan berikutnya, terdiri dari kombinasi RS-RS. Apa itu? Ingat saja doa Rasul pada saat bulan Rajab: ‘Sampaikan aku di bulan Sya’ban dan Ramadhan‘. Kalau sudah ketemu Ramadhan pasti ingat bulan Syawal. Jadi RS-RS adalah Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal.

2 bulan terakhir, diawali dengan kata Dzul. Bulan ke sebelas adalah Dzulkhaidah dan yang terakhir adalah bulan haji, yaitu Dzulhijjah.

Jadi urutan bulan dalam kalender Hijriah adalah Muharram, Safar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkhaidah dan Dzulhijjah. Gampang bukan?

Selamat Tahun Baru dan .. selamat mencoba menghafal ya.


ROHIS Must GO PUBLIC !!!


Pada saat ini, Organisasi Rohani Islam (ROHIS) telah menjadi salah satu Organisasi yang masuk pada jajaran Organisasi Favorit pilihan pelajar ataupun mahasiswa. Banyak dari mereka berlomba untuk bergabung dengan organisasi yang satu ini dengan semangat keorganisasian yang tinggi dan semangat Dakwah Islam. Selain itu juga, ROHIS cukup aktif dalam melakukan event-event keIslaman disekitar sekolah/kampus di setiap tahun, bulan, dan bahkan perminggunya dengan konsep yang sarat penuh ilmu dan Ukhuwah Islamiyah. Pemikiran-pemikiran baru mengenai dakwah islam terus berkembang dan cenderung merupakan ide brilian untuk terus direalisasikan.


Karena itulah, sekarang saatnya tepat ROHIS must go public, berdakwah langsung ke lingkungan masyarakat. Ini sangat berguna dalam peluasan proses dakwah islam dan juga memberikan peluang kader-kader baru untuk mencurahkan pemikiran-pemikiran dakwah mereka dan juga membangun ukhuwah Islamiyah yang lebih erat, baik itu dengan sesama kader maupun dengan masyarakat lainnya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukannya. Salah satunya, Pertama, ROHIS bisa mengadakan event-event keislaman perminggu atau perbulannya ke sekolah-sekolah/kampus dengan jadwal rutin dengan materi yang fresh bagi mereka dengan konsep yang berbeda, misalnya seminar motivasi, seminar Kepemimpinan (Leadership), Ceramah dengan konsep menyentuh dengan permasalahan yang ada dengan para audience dan juga Obrolan Santai namun penuh Ilmu. Dan ketika ini telah dilakukan, bukan hanya dakwah islam semakin menyebar namun Ini menjadi celah bagi ROHIS untuk berinteraksi dan menjadikan media yang tepat untuk berkerja sama, berbagi ilmu, ide, dan pengalaman dengan ROHIS lainnya serta merupakan usaha membangun relasi dan ukhuwah islamiyah yang kuat antar ROHIS demi majunya dakwah islam kedepannya.

Kedua, ROHIS bisa mengadakan kegiatan Sosial. mungkin ini tidak awam lagi dilakukan namun bisa dijadikan cara yang tepat untuk memberikan nilai islam ke masyarakat. Lalu apa yang menjadi beda disini? Nah inilah saatnya para kader ROHIS harus menunjukkan ide-ide dakwah briliannya. Sebagai contoh misalnya, mengadakan tafakur alam dengan anak-anak yatim piatu disertai penjelasan-penjelasah islam yang ringan oleh pembicara yang memang diundang untuk ikut. Dan menjadi puncak acaranya, diadakan penanaman pohon bersama serta shalat bersama dan diakhiri dengan seminar motivasi dan doa. Ini cukup menarik untuk dilakukan apalagi pengaruh globalisasi yang semakin pesat membuat para generasi muda menjadi jarang memperhatikan lingkungan disekitarnya dan yang menjadi menarik, adanya penjelasan-penjelasan islam selama tafakur alam berlangsung dan diakhiri dengan seminar motivasi dan doa bersama sebagai cara agar mereka lebih bersemangat dalam menjaga lingkungannya dan mendekatkan diri pada sang pencipta Allah Azza Wa Jallah.

Sekarang yang ketiga, ROHIS bisa mengadakan event bersifat dakwah islam yang sasarannya adalah remaja. Contohnya ROHIS bisa mengadakan festival band dengan tema aransemen lagu islam. Loh kok gak ngadain nasyid biar bener-bener islam? Alasannya adalah tidak semua remaja suka dengan aliran nasyid, hanya kalangan tertentu saja yang menikmatinya. Karena sebagian besar remaja lebih suka lagu-lagu band dan beraliran Pop Rock, inilah saatnya dakwah islam melakukan adaptasi sejauh tidak melanggar aturan agama. Agar unsur islam tetap ada dalam pergelaran festival tersebut, maka aransemen lagu islam merupakan pilihan tepat sebagai tema dari festival. Apalagi sekarang, banyak band-band nasional telah mengeluarkan album religinya dan peminatnya pun banyak.

Dan cara yang lainya bisa dicari oleh anggota ROHIS. Nah sekarang yang sering manjadi masalah dalam pelaksanaan itu semua dibutuhkan kelancaran pendanaan. Inilah saatnya anggota ROHIS dituntut memiliki jiwa wirausaha dan kemampuan negosiasi yang mumpuni. Dalam hal ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Buatlah rancangan proposal yang bagus dan memiliki alas an kenapa client yang akan kita ajak mau berkerjasama. Keuntungan apa yang akan mereka dapatkan ketika ikut berkerja sama.
2. Event yang akan dilakukan harus sudah siap baik itu SDM yang akan bekerja disana maupun tempat dan sasaran audience.
3. Kirimkan proposal kepada sasaran yang akan diajak kerjasama. Dan pantau setiap proposal yang dikirim.
4. Jika telah ada konfirmasi dari klien, buatlah outline/point list yang akan dibicarakan ketika negoisasi berlangsung. Tetapkan dengan mantap dana yang kerjasama sesuai proposal dan keuntungan-keuntungan yang akan didapat dari kerjasama tersebut. Jadi singkatnya, kita bukan meminta sumbangan dana namun dana kerjasama yang bersifat take and give.
5. Lakukan negoisasi dengan confident dan jangan pernah merasa kita dibawah mereka tapi bersikaplah kita adalah bos dari usaha yang akan kita lakukan dalam hal ini event yang akan digelar.
6. Ketika kerjasama berlangsung dengan lancar, untuk tahap selanjutnya akan semakin mudah. Kita hanya harus menjaga komitmen kerjasama yang dibuat dan berusaha tetap professional.
7. Terakhir, ketika acara telah berakhir. Buatlah laporan hasil dari event khususnya laporan keuangan untuk diberikan kepada klien. Ini perlu dilakukan untuk menarik kepercayaan klien sehingga nantinya akan gampang diajak kembali berkerjasama jikalau ada event lagi yang akan dilakasanakan.

Ketika itu semua telah tercapai, tinggal ROHIS berpikir bagaimana mengisi uang kas sendiri. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, antara lain:

1. ROHIS bisa menerbitkan mini koran gratis tentang informasi agama dan remaja islam untuk setiap event yang dilakukan. Penghasilan yang didapat adalah dengan menyediakan kolom advertising di mini Koran tersebut. Untuk itu ROHIS bisa menjalin kerjasama dengan pihak lain dengan keuntungan kerjasama yang jelas. Bayangkan kalau event dilakasankan perbulan atau perminggu, contohnya seminar kesekolah-sekolah, berapa banyak pemasukan yang akan didapat, apalagi jika mini Koran sudah memiliki klien tetap melihat lancarnya program tersebut.
2. ROHIS bisa berkerjasama dengan penerbit buku untuk menjual buku mereka di setiap event dengan system bagi hasil yang bagus.
3. ROHIS juga bisa menjual accessories bernuansa islam seperti pin, gantungan kunci, gelang, dan lainnya disetiap event.
4. Kalau sudah pesat perkembangannya, ROHIS bisa menerbitkan majalah islam dan sudah tentu pamasukkannya semakin banyak hasil dari advertising dan penjualan.
5. Dan banyak lagi yang lainnya

Nah, ketika telah program-program kerja terlaksana, Sponsorship dan Pemasukan ada, tinggal ROHIS dituntut untuk memperkuat strukutur Organisasi dan manajemen keuangan. Anggota yang memiliki tanggung jawab masing-masing harus professional bekerja sesuai bidangnya.

Well, sekarang waktu yang tepat kan untuk ROHIS GO PUBLIC!!!
http://mirfagah.wordpress.com/2008/10/28/rohis-must-go-public/#more-112



Dakwah Sekolah

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS 3:104, Ali ‘Imran)

MENDA’WAHKAN ISLAM

Menda'wahkan Islam berarti mengajak umat manusia kepada aqidah tauhid, membimbing mereka ke jalan yang lurus dan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat, serta mendapatkan keridlaan Allah Subhanahu wa ta’ala. Setiap muslim diharapkan memiliki komitmen da’wah dalam menyebarkan agama ini sebagai rahmatan lil ‘alamin. Da’wah Islam ditujukan kepada sesama muslim dan juga kepada setiap orang yang belum memeluk agama Islam.

Setiap muslim -termasuk pelajar di sekolah- harus berusaha memegang teguh komitmen da'wah Islam. Artinya, berusaha menda'wahkan Islam kepada umat manusia serta terlibat dalam aktivitas da'wah secara kolektif. Setiap pelajar muslim bertanggungjawab untuk melaksanakan da’wah di sekolah seberapapun kemampuan, partisipasi maupun prestasinya. Keterlibatan dalam aktivitas da’wah dapat dilakukan dengan pikiran (bilfikr) dengan tindakan langsung (bilhal), dengan ucapan (billisan), dengan harta (bilmal), dengan tulisan (bilqalam) maupun dengan jiwa (binnafs). Semakin intensif dan beragam jenis keterlibatannya dalam aktivitas da’wah semakin lebih baik.


BIDANG / SEKSI KEROHANIAN ISLAM

Bidang / Seksi Kerohanian Islam (ROHIS) adalah organisasi da’wah Islam di kalangan pelajar dalam lingkungan suatu sekolah. Biasanya di bawah Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Keberadaan ROHIS sebagai organisasi da’wah di sekolah mermiliki beberapa alasan, di antaranya:

1. Kebutuhan untuk berda’wah.
Dalam aktivitas sekolah diperlukan adanya pelajar-pelajar muslim yang peduli terhadap ‘amar ma’ruf nahi munkar. Kepedulian tersebut, insya Allah, akan membawa dan menjaga para pelajar muslim selalu berada di jalan Allah. Para mujahid da’wah tersebut termasuk orang-orang yang beruntung karena telah mengikuti perintah dan seruan Rabb-nya sebagaimana tersebut dalam Al Quraan Surah Ali ‘Imran ayat 104 di atas.

2. Perlunya berda’wah secara kolektif.
Misi da'wah di sekolah dapat dilaksanakan sendiri-sendiri oleh setiap pelajar, namun akan lebih baik bila diselenggarakan secara kolektif dalam sebuah organisasi da’wah. Dengan bekerja sama dalam ROHIS, insya Allah, akan memberi kemudahan untuk bekerja secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan.

3. Menyahuti kebutuhan da’wah.
Keberadaan ROHIS diharapkan mampu menyahuti kebutuhan da’wah di kalangan pelajar yang semakin beragam. Untuk itu, da’wah Islam di sekolah perlu diselenggarakan secara baik. Artinya, dilaksanakan dengan terencana, rapi, terarah dan detail, sehingga tujuan da’wah dapat tercapai.


TUJUAN, VISI DAN MISI ROHIS

Tujuan sangat penting karena memberi arah aktivitas yang dilakukan. Tujuan ROHIS tidak hanya berorientasi duniawi tetapi juga ukhrawi. Statement tujuan dinafasi nilai-nilai Islam, misalnya :

“Terbinanya pelajar yang beriman, berilmu dan beramal shalih dalam rangka mengabdi kepada Allah untuk memperoleh keridlaan-Nya “.

Visi memberi gambaran di masa depan. Visi diharapkan dapat menjadi bagian cita-cita yang akan direalisasikan. Visi ROHIS perlu dinyatakan secara jelas, mudah dipahami dan realistis, misalnya:

“Insya Allah, menjadi organisasi da’wah di sekolah yang handal, kreatif dan bermanfaat bagi pelajar ”.

Misi merupakan jalan yang harus ditempuh dalam mencapai tujuan. Contoh Misi ROHIS adalah:

1. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa.

2. Menyimpan, membuat dan mempublikasikan informasi Da’wah Islam.

3. Menyelenggarakan pelayanan, pengkajian dan pelatihan Da’wah Islam yang berkualitas untuk siswa.

4. Memasyarakatkan Da’wah Islam di Sekolah.

Implementasi Tujuan, Visi dan Misi dinyatakan dalam bentuk Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) yang disusun tiap tahun, dan ditindaklanjuti dalam aneka aktIvitas yang diselenggarakan secara profesional.


KEPENGURUSAN ROHIS

Organisasi ROHIS apabila merupakan suatu Seksi Kepengurusan OSIS, biasanya terdiri dari Ketua dan Sekretaris. Apabila berbentuk Bidang Kerja Kepengurusan OSIS, maka dapat terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Departemen. Departemen dapat diperluas lagi sesuai dengan fungsi atau aktivitas yang diselenggarakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kepengurusan ROHIS adalah antara lain:

A. Job Description.
Masing-masing personil pengurus perlu memiliki tugas yang dinyatakan dalam Penjabaran Kerja (Job Description). Berikut ini contoh Job Description untuk Bidang Kerohanian Islam (ROHIS) :

1. Ketua Bidang Kerohanian Islam
Pembantu langsung Ketua OSIS yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan Program Kerja Kerohanian Islam. Melaksanakan kegiatan organisasi antara lain :
a. Memimpin dan mewakili kegiatan rutin Bidang Kerohanian Islam.
b. Memimpin rapat Bidang Kerohanian Islam.
c. Mewakili Ketua OSIS berdasarkan asas pendelegasian.
d. Menyelenggarakan kegiatan keagamaan Islam, seperti: pengajian, peribadatan, pelatihan, bulletin, majalah dinding dan lain sebagainya.
e. Menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan keimanan, keilmuan dan ketaqwaan anggota OSIS.
f. Memberikan laporan tentang kegiatan Bidang Kerohanian Islam kepada Ketua OSIS.
g. Menyelenggarakan Rapat Bidang Kerohanian Islam minimal dua bulan sekali.
h. Menggantikan posisi Ketua OSIS apabila berhalangan tetap sebagai Pejabat Sementara Ketua OSIS.

2. Sekretaris bidang Kerohanian Islam.
Pembantu Ketua Bidang Kerohanian Islam dalam pelaksanaan program kerja kerohanian OSIS yang berkaitan dengan kesekretariatan dan administrasi. Melaksanakan kegiatan organisasi antara lain :
a. Mengatur dan mengelola surat menyurat Bidang Kerohanian Islam.
b. Membuat draft surat keluar sebelum ditanda-tangani oleh Ketua Bidang Kerohanian Islam, dan mendistribusikannya.
c. Membantu Sekretaris OSIS dalam menjaga kebersihan, kerapian dan keindahan Kantor Sekretariat OSIS.
d. Memberikan laporan administrasi Bidang Kerohanian Islam kepada Ketua Bidang Kerohanian Islam.
e. Menjadi sekretaris / notulis dalam rapat Bidang Kerohanian Islam.

3. Departemen Bidang Kerohanian Islam.
Pembantu Ketua Bidang Kerohanian Islam dalam pelaksanaan program kerja kerohanian OSIS. Melaksanakan kegiatan organisasi antara lain:
a. Membantu Ketua Bidang Kerohanian Islam dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan organisasi sebagaimana tersebut dalam point 1.
b. Mewakili Ketua Bidang Kerohanian Islam berdasarkan atas asas pendelegasian.


B. Program Kerja.
Program Kerja disusun secara periodik tiap tahun sekali sesuai dengan masa kepengurusan OSIS. Program Kerja dijabarkan dalam bentuk Rencana Kerja dan Anggaran (RKAP) tahunan. Rencana Kerja ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan, baik yang rutin maupun insidental.


C. Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah dalam bentuk rapat-rapat, baik Rapat Pengurus OSIS, Rapat Bidang Kerohanian Islam maupun Rapat Panitia.


D. Laporan.
Setiap kegiatan yang dilakukan ROHIS harus ada laporannya, baik Laporan Panitia, Laporan Bidang maupun Laporan Tahunan atau Laporan Pertanggungjawaban Pengurus OSIS Bidang Kerohanian Islam.


A K T I V I T A S

Aktivitas atau kegiatan ROHIS diselaraskan dengan misi-nya. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain:

a. Bimbingan membaca Al Quraan.

b. Pengajian rutin satu bulan sekali.

c. Shalat Jum’at di sekolah.

d. Kajian buku.

e. Mentoring agama.

f. Diskusi Panel untuk mengkaji masalah aktual.

g. Bulletin Da’wah.

h. Ramadlan di sekolah.

i. Majalah Dinding.

j. Pelatihan Khatib / Mubaligh.

k. Dan lain sebagainya.


PENUTUP

Hadirnya Bidang / Seksi Kerohanian Islam (ROHIS) dimaksudkan untuk mengaktualisasikan peran Da’wah Islam di sekolah yang diselenggarakan oleh pelajar sendiri. ROHIS yang dibentuk perlu merumuskan dirinya dengan menetapkan tujuan, visi dan misi serta aktivitas yang diselenggarakan. Selanjutnya, apa yang telah ditetapkan dapat dimengerti, dipahami dan diimplementasikan dalam kerja-kerja amal shalih para pengurusnya dengan dukungan siswa-siswi muslim lainnya.

Dengan mengembangkan metode da’wah yang mampu menyahuti keinginan dan kebutuhan pelajar, insya Allah, misi da’wah ROHIS dapat diwujudkan. Untuk itu perlu didukung para aktivis da’wah yang ikhlash dan istiqomah yang mengedepankan sikap mencari ridla Allah serta diikuti dengan kinerja yang profesional. Akhirnya, dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala para aktivis mencoba melangkah di jalan da’wah sekolah.

Semoga kiranya Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberi taufiq, kemudahan, kebajikan dan kesuksesan pada kita semua fiddunya wal akhirah. Amien.http://immasjid.com/cetak.php?id=749



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan