Tampilkan postingan dengan label edisi 05. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edisi 05. Tampilkan semua postingan

Kutitip Surat Ini Untukmu


Ditulis Ulang dari Buku : Kututip Surat Ini Untukmu, karya Ustadz Armen Halim Naro Rohimahulloh

Jika suatu ucapan dari lisan diterima oleh telinga, maka demikian pula ucapan hati akan diterima oleh hati. Tulisan ini adalah surat seorang ibu untuk anaknya, yang ditulis karena cinta dan di dorong oleh rasa kasih sayang. Yang menuliskan suratnya dengan air mata dan hatinya.

.:
Untuk Anakku yang kusayangi,
segala puji ibu panjatkan kepada Alloh Ta'ala yang telah memudahkan untuk beribadah kepadaNya,
sholawat serta salam ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Wahai Anakku, surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berfikir panjang ibu memutuskan untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun rasa ragu dan malu menyelimuti diriku. Setiap kali menulis setiap itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis. Setiap kutitikkan air mata setiap itu pula hati ini terluka.



Wahai Anakku, Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah tumbuh menjadi cerdas dan dewasa, karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engakau akan remas kertas ini dan akan engkau robek-robek, sebagaimana sebelumnya engkau telah meremas-remas hati ibu dan merobek-robek perasaan ibu.

Wahai Anakku, 25 tahun telah berlalu. Dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu datang dokter datang menyampaikan tentang kehamilan dan semua ibu sangat mengetahui arti dari kalimat itu. Bercampur rasa bahagia dan gembira dalam hatiku. Sebagaimana pula ia adalah awal dari perubahan fisik dan emosi ibu.

Semenjak kabar gembira itu 9 bulan ibu membawamu, tidur, berdiri, makan dan bernapas dalam kesulitan, akan tetapi itu semua tidak mengurangi rasa cinta dan kasih sayang ibu kepadamu. Bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku dalam kondisi lemah diatas lemah. Bersamaan dengan itu aku begitu gembira karena merasakan dan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu diperutku. Penderitaan berkepanjangan menderaku, sampailah pada fajar yang malamnya aku tidak bisa tidur sekejappun, aku merasakan sakit yang tak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Rasa sakit itu berlanjut hingga membuatku tidak dapat menangis, sebanyak itu pula aku melihat kematian dihadapanku. Hingga tiba waktunya engkau keluar ke dunia, engkau lahir. Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu, dan seketika itu pula sirna keletihan dan kepedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk dan cium dirimu sebelum meneguk setetes air.


Wahai Anakku, telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan kekuatanku membawamu dengan tangan kasih sayangku. Sari pati hidupku kuberikan kepadamu, aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu, harapanku pada setiap harinya agar aku selalu melihat senyumanmu, kebahagiaanku setiap saat adalah permintaanmu agar aku bebuat sesuatu untukmu. itulah kebahagiaanku.

…

Kemudian berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah. Mendo’akan selalu kebaikan untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang telah menghiasi wajahmu dan menambah ketampanammu wahai anakku.

Tatkala itu aku mulai melirik kekiri dan kekanan untuk mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu semakin dekat pula hari kepergianmu. Tatkala itu hatiku seraya teriris-iris, air mataku mengalir entah apa rasanya hati ini, bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia rasanya engkau telah mendapatkan pasangan, karena engkau telah mendapatkan jodoh, telah mendapat pendamping hidup. Sedangkan sedih karena engkau adalah pelipur hatiku yang akan berpisah sebentar lagi dengan diriku.

Waktu pun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat, kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu,
senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihanku, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam,
tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan kedalam kolam yang hening dengan dedaunan yang berguguran,
aku benar-benar tidak mengenalmu lagi. Karena engkau telah melupakan aku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati, hanya untuk ingin melihat wajahmu, detik demi detik kuhitung demi mendengar suaramu, akan tetapi penantianku seakan sangat panjang, aku selalu berdiri dipintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu, setiap kali berderak pintu aku menyangka bahawa engkaulah orang yang datang itu, setiap kali telepon berdering, aku merasa bahwa engkau yang akan meneleponku. Setiap suara kendaraan yang melintas, aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi semua tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping-keping, yang ada hanya keputus-asaan yang tersisa hanya kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh Alloh.

Anakku …
Ibumu tidaklah meminta banyak, ia tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan, yang ibu pinta kepadamu jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu, jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu dirumahmu. Agar ibu kembali dapat menatap wajahmu, agar ibu dapat kembali mengenang masa-masa kecilmu. Dan ibu memohon kepadamu, janganlah engkau pasang jerat permusuhan denganku. Janganlah engkau buang wajahmu ketika ibumu hendak memandangnya.

Yang ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah kesana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi atau sekiranya terpaksa engkau datang sambil kau tutup hidungmu sambil berlalu pergi.

Anakku …
Telah bungkuk pula punggungku, bergemetar kaki dan tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia, dan telah digerogoti oleh penyakit, berdirinya pun seharusnya telah dipapah, dudukpun harus dibopong,

akan tetapi yang tidak pernah sirna anakku … adalah cintaku kepadamu masih seperti dulu,
masih seperti lautan yang tidak pernah kering,
masih seperti angin yang tidak pernah berhenti bertiup,

sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikan dengan kebaikan. Sedangkan Ibumu mana balas budimu, mana balasan baikmu, bukankah seharusnya air susu dibalas dengan air yang serupa, dan bukankah Alloh Ta’ala telah berfirman :

“Bukanlah balasan kebaikan itu kecuali dengan kebaikan yang serupa”


Sampai begitukah keras hatimu dan sudah begitu jauhkah dirimu, setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu.

Wahai Anakku …
Setiap aku mendengar bahwa engkau bahagia dalam hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku.

Bagaimana tidak ?

Karena engkaulah buah dari kedua tanganku.
Engkau adalah hasil dari keletihanku,
Engkaulah laba dari semua usahaku.

Dosa apakah yang telah kuperbuat, sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu. Apakah aku pernah bersalah pada hari saat bergaul denganmu? Atau pernahkah aku berbuat lalai disaat melayanimu.

Tidak dapatkah engkau menjadikanku pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dirumahmu, yang mereka semua telah engkau beri upah?

Tidak dapatkah engkau memberikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebasaranmu. Dapatkah engkau sekarang menganugerahkan sedikit kasih sayang, demi mengobati derita orang tua yang malang ini. Dan Alloh Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai Anakku ..
Aku hanya ingin melihat wajahmu. Aku tidak menginginkan yang lainnya.

Wahai Anakku …
Hatiku serasa teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat, orang-orang sering mengatakan bahwa engkau adalah laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi.

Anakku …
Apakah hatimu tidak tersentuh, terhadap seorang wanita tua yang lemah, binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan? berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan?

Kenapa ? tahukah engkau itu?

Karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya,
karena engkau telah membalasnya dengan luka dihatinya,
karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu,
tepat menghujam jantungnya,
karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturahmi.


Wahai Anakku …
Ibumu inilah sebenarnya pintu surgamu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jembatan itu dengan senyuman yang manis, kemaafan dan balas budi yang baik, semoga aku bertemu denganmu disana dengan kasih sayang Alloh Ta’ala, sebagaimana dalam sebuah hadist disebutkan :

“Orang tua adalah pintu surga yang ditengah, sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah ia atau jagalah.” (H.R Ahmad)


Anakku …

Aku mengenalmu sejak dahulu, semenjak engkau telah beranjak dewasa, bahwa engkau sangat tamak dengan PAHALA, engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah, engkau selalu bercerita kepadaku tentang keutamaan Shof pertama, engkau selalu mengungkapkan tentang infaq dan sedekah, akan tetapi satu hadist yang engkau lupakan nak, Nabi Sholallohu’alaihi wa sallam menyampaikan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang paling utama. Ini aku anakku, ibumu, pahalamu, tanpa engkau harus memerdekakan budak atau banyak-banyak berinfak.

Anakku pernahkah engkau mendengar cerita.?

.:: Seorang yang telah meninggalkan keluarganya dan anak-anaknya ke negeri yang jauh untuk mencari tambang emas? Pernahkah engkau mendengar cerita itu? Seorang suami yang meninggalkan istri dan anak-anaknya ke negeri antah-berantah untuk mencari emas untuk menghidupi keluarganya, dia salami satu per satu, dia ciumi istrinya dia sayangi anak-anaknya.

Kemudian dia mengatakan : “Ayahmu, ayah kalian akan pergi ke negeri yang ayah sendiri tidak tahu, Ayah akan mencari emas, rumah kita yang reyot ini jagalah! ibu kalian yang tua renta ini jagalah!”, Lalu berangkatlah dia.

Suami yang berharap untuk pergi jauh agar mendapatkan emas, untuk membesarkan anak-anaknya, untuk membangun istana dari gubuk yang reyot. Akan tetapi apa yang terjadi? Setelah 30th dalam perantauan, yang ia bawa hanya tangan hampa dan kegagalan, dia gagal dalam usahanya.

Pulanglah ia kembali ke kampung halamannya, sampailah ia ketempat dusun yang selama ini ia tinggalkan. Setibanya dilokasi rumahnya, matanya terbelalak, ia melihat tidak ada lagi gubuk reyot yang ditempati anak-anak dan istrinya, akan tetapi ia telah melihat perusahaan besar tambang emas.
::.


Jadi ia mencari emas jauh ke negeri orang, kiranya orang mencari emas dekat ditempat ia tinggal. Demikianlah perumpamaanmu dengan kebaikanmu.

Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tetapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang lebih besar, disampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Di dekatmu ada ibu yang dapat menghalangimu untuk masuk ke dalam surga. Bukankah keridhoanku adalah keridhoaan Alloh? Dan bukankah kemurkaanku adalah kemurkaan Alloh juga wahai anakku?

Anakku …
Aku takutkan engkau, engkaulah yang dimaksudkan Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam di dalam hadistnya :

“celaka seseorang, celaka seseorang, celaka seseorang. Siapa itu ya Rasululloh ?, Dia adalah orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam usia tua, akan tetapi kemudian dia tidak masuk surga.”

(HR. Muslim)


Anakku …
Aku tidak akan mengangkat keluhan ini ke langit, aku tidak akan adukan duka ini kepada Alloh, karena sekiranya keluhan ini jika seandainya telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpalah kebinasaan dan kesengsaraan, dan tidak ada obatnya dan tidak ada pula tabib yang dapat menyembuhkannya.

Aku tidak akan melakukannya wahai anakku, tidak. Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku. Bagaimana ibumu ini sanggup menengadahkan tangan ke langit sedangkan engkau pelipur lara hatiku, bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah nak, bangunlah!
Bangkitlah nak, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua pula.
Aljazau min jinzil amal
sebagaimana engkau berbuat, sebegitu pula orang akan berbuat kepadamu,
ganjaran sesuai dengan amal yang telah engkau tanamkan,
engkau akan memetik sesuai apa yang engkau tanam.


Aku tidak ingin engkau menulis surat seperti ini, Aku tidak ingin engkau menulis surat yang sama dengan air mata kepada anak-anakmu kelak, sebagaimana aku telah menulisnya kepadamu anakku.

Wahai anakku …
Bertaqwalah kepada Alloh, berbaktilah kepada ibumu, peganglah kakinya, basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku …
Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu apakah engkau sadar, engkau akan kembali atau engkau akan merobeknya.

Sholallohu ala Nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa sohbihi wa sallam.


Dari ibumu yang merana.


Ditulis Ulang dari
Buku : Kutitip Surat Ini Untukmu,
Karya : Ustadz Armen Halim Naro Rahimahulloh


SIKAP ISLAM TERHADAP PERBUDAKAN


Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Ali Bassam
Sebenarnya perbudakan dahulu telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, tidak hanya pada zaman Islam. Bangsa Romawi, Persia, Babilonia dan Yunani seluruhnya mengenal perbudakan. Dan para tokoh Yunani, seperti Plato dan Aristoteles juga mengakuinya. Bahkan mereka memiliki banyak sebab untuk memperbudak seseorang , seperti adanya perang, tawanan, penculikan atau karena menjadi pencuri. Tidak hanya itu, merekapun menjual anak-anak yang menjadi tanggungan mereka untuk dijadikan budak, bahkan sebagian mereka menganggap para petani sebagai budak belian.
Mereka memandang hina terhadap para budak, karena itu para budak dipekerjakan untuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan kotor dan berat. Dan karena itu pula Aristoteles menganggap para budak hidupnya tidak kekal di akhirat, baik mereka di surga atau di neraka, jadi para budak tidak bedanya dengan hewan. Fir’aun pun memperbudak Bani Israil dengan perlakuan yang paling keji, sehingga dengan tega ia membunuh anak laki-laki Bani Israil dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Orang-orang Eropa pun ketika menemukan benua Amerika, mereka memberikan sikap yang paling buruk terhadap penduduk asli.
Begitulah perbudakan dengan sebab dan pengaruh-pengaruhnya yang sudah menyebar luas di luar Islam. Kami hanya bisa menyajikan sedikit gambaran dari keburukan dan kebiadaban sikap mereka terahadap para budak.
Sekarang marilah kita perhatikan pandangan Islam terhadap perbudakan.
[1]. Islam Mempersempit Sebab-Sebab Perbudakan
Islam menyatakan bahwa seluruh manusia adalah merdeka dan tidak bisa menjadi budak kecuali dengan satu sebab saja, yaitu orang kafir yang menjadi tawanan dalam peperangan. Dan panglima perang memiliki kewajiban memberikan perlakuan yang tepat terhadap para tawanan, bisa dijadikan budak, meminta tebusan atau melepaskan mereka tanpa tebusan. Itu semua dipilih dengan tetap melihat kemaslahatan umum.
Inilah satu-satunya sebab perbudakan di dalam Islam berdasarkan dalil naqli yang shahih yang sesuai dengan dalil aqli yang shahih. Karena sesungguhnya orang yang berdiri menghalangi aqidah dan jalan dakwah, ingin mengikat dan membatasi kemerdekaan serta ingin memerangi maka balasan yang tepat adalah ia harus ditahan dan dijadikan budak supaya memperoleh kesempatan mendengar dan mengetahui dakwah.
Inilah satu-satunya sebab perbudakan dalam Islam, bukan dengan cara perampasan manusia, ataupun menjual orang merdeka dan memperbudak mereka sebagaimana bangsa-bangsa yang lain.
[2]. Islam Menyikapi Para Budak Dengan Lemah Lembut Dan Penuh Kasih Sayang.
Karena itu Islam mengancam orang yang memberikan beban berlebihan kepada para budak, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Bertaqwalah kalian kepada Allah dan perhatikanlah budak-budak yang kalian miliki”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Budak memiliki hak makan/lauk dan makanan pokok, dan tidak boleh dibebani pekerjaan yang diluar kemampuannya”
Bahkan Islam mengangkat derajat mereka dari sekedar budak menjadi saudara bagi tuan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Mereka (para budak) adalah saudara dan pembantu kalian yang Allah jadikan di bawah kekuasaan kalian, maka barangsiapa yang memiliki saudara yang ada dibawah kekuasannya, hendaklah dia memberikan kepada saudaranya makanan seperti yang ia makan, pakaian seperti yang ia pakai. Dan janganlah kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang memberatkan mereka. Jika kamu membebani mereka dengan pekerjaan yang berat, hendaklah kamu membantu mereka”
Islam tidak hanya meninggikan derajat mereka dalam masalah sikap yang harus diberikan, akan tetapi juga di dalam berbicara dengan mereka, sehingga mereka tidak merasa rendah diri, karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Janganlah salah seorang diantara kalian mengatakan : “Hai hamba laki-lakiku, hai hamba perempuanku”, akan tetapi katakanlah, “Hai pembantu laki-lakiku, hai pembantu perempuanku”
Bukan hanya itu, Islam bahkan tidak menjadikan nasab atau atau jasad/tubuh sebagai standard kemuliaan seseorang di dunia dan di akhirat, namun kecakapan dan nilai maknawilah standard kemulian manusia.
“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah orang-orang yang paling bertaqwa” [Al-Hujurat : 13]
Karena itu, berbekal ilmu dan kemampuan yang dimiliki, beberapa bekas budak dapat menyamai kedudukan tuannya, baik dengan menjadi panglima perang, pemimpin umat, hakim atau jabatan-jabatan agung yang lainnya. Ini semua karena kemampuan mereka yang merupakan sumber kemuliaan.
Disamping mengangkat derajat mereka, syari’at juga mengawasi dan memperhatikan pembebasan budak dengan cara mendorong perbuatan tersebut dan menjanjikan keselamatan dari api neraka serta keberuntungan dengan masuk surga bagi seorang yang membebaskan budak. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
“Artinya : Barangsiapa membebaskan budak yang muslim niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota badanya dengan sebab anggota badan budak tersebut, sehingga kemaluan dengan kemaluannya”
Cukuplah didalam keutamaan membebaskan budak, hadits shahih diatas dan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Umamah dan sahabat yang lain.
“Artinya : Siapa saja seorang muslim yang membebaskan seorang budak yang muslim, maka perbuatannya itu akan menjadi pembebas dirinya dari api neraka”
Hadits dan atsar yang mendorong untuk mebebaskan budak banyak sekali, dan tidak ada perbuatan baik yang lebih besar daripada membebaskan seorang muslim dari perbudakan. Karena dengan kemerdekaan dirinya sempurnalah derajat kemanusiaan yang ia miliki setelah dahulunya bersetatus seperti hewan.
Kemudian Islam memiliki beberapa sebab kemerdekaan seorang budak, baik merdeka secara terpaksa atau merdeka secara ikhtiari.
Jalan merdeka secara paksa adalah.
[a]. Barangsiapa melukai tubuh budaknya maka ia wajib membebaskan budaknya tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang mengisahkan adanya seorang tuan yang memotong hidung budaknya, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada budak itu.
“Artinya : Pergilah engkau karena sekarang engkau orang yang merdeka”, maka budak itu berkata, “Ya Rasulullah saya ini maula (budak) siapa?” Beliau menjawab ; “Maula Allah dan RasulNya
[b]. Seorang budak dimiliki oleh beberapa orang, lalu salah seorang pemilik membebaskan bagiannya, maka pemilik tadi harus membebaskan bagian sekutunya secara paksa. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.
“Artinya : Barangsiapa membebaskan bagiannya dari seorang budak, maka ia wajib membebaskan seluruhnya”
Dalam hal ini perlu ada rincian yang memerlukan pembahasan tersendiri.
[c]. Barangsiapa memiliki budak yang ternyata masih kerabat dekatnya maka wajib atas pemiliknya untuk membebaskan secara terpaksa. Berdasarkan hadits.
“Artinya : Barangsiapa memiliki budak yang termasuk kerabatnya bahkan mahramnya maka budak itu merdeka”
Inilah sebab-sebab secara terpaksa yang menghilangkan hak milik tuan terhadap budaknya. Sebab-sebab terpaksa ini di syari’atkan karena adanya rahasia syar’iyah dan pengaruh khusus sehingga syari’at tidak menjadikannya sebagai sebab pilihan atau sebab yang bisa dirujuk/ di batalkan
Disamping mendorong untuk mebebaskan budak, syari’at juga menjadikan pembebasan budak sebagai kafarah pertama untuk selamat dari dosa-dosa, pembebasan budak sebagai alternatif pertama untuk kafarah bersetubuh di siang bulan Ramadhan, zhihar (seorang suami mengatakan kepada istrinya bahwa punggungnya seperti punggung ibunya, yakni suami tidak mau menggauli istrinya, -red) dan membunuh secara tidak sengaja

ISLAM AGAMA KEMULIAAN KEAGUNGAN DAN KEADILAN
Setelah keterangan diatas, bagaimana mungkin orang-orang Barat atau orang yang ke barat-baratan mencela sikap Islam terhadap masalah perbudakan. Kemudian mereka membuka mulut lebar-lebar serta meneriakan kemerdekaan dan hak asasi manusia, sedangkan merekalah yang memperbudak rakyat dan menghinakan banyak bangsa. Mereka memperbudak bangsa lain di tengah-tengah bangsa itu sendiri, merampas harta benda dan menghalalkan negeri untuk di jajah. Mereka mengangkat kepala untuk meneriakan HAM (hak asasi manusia) sedangkan mereka sendiri menyikapi golongan masyarakat di dalam negeri mereka lebih rendah dari pada cara bergaul dengan budak.
Dimanakah keadilan Islam dibandingkan dengan sikap orang-orang Amerika terhadap orang-orang Negro dengan adanya larangan masuk sekolah, menjabat atau bekerja sebagai pegawai negeri. Seolah-olah mereka menganggap orang-orang Negro sama dengan hewan.
Dan dimanakah “Ihsan” dan rasa santun Islam dibandingkan dengan tindakan orang-orang Barat kepada para tahanan yang kini masih terdapat di dalam penjara yang gelap, padang belantara dan tempat-tempat yang tidak dikenal (di daerah pembuangan).
Dimanakah negeri Islam yang penuh cinta kasih sayang yang memberikan keadilan kepada seluruh penduduknya dari berbagai jenis strata sosial, agama dan ras sebagai bangsa dalam hak dan kewajiban, bila dibandingkan dengan perbuatan kriminal orang-orang Prancis terhadap manusia - manusia merdeka di Aljazair, di tengah-tengah negeri mereka sendiri dan di tengah-tengah bangsa mereka sendiri. Nyatalah sudah bahwa tuduhan yang mereka kumandangkan adalah tuduhan palsu/bathil
Setelah keterangan ini, apakah belum tiba saatnya bagi para reformis dan pecinta perdamaian untuk membuka mata mereka kemudian kembali kepada ajaran Islam dengan penuh perenungan dan kesadaran, sehingga mereka menjadi sadar akan kebahagian manusia dalam ajaran Islam, baik untuk saat ini atau masa yang datang.
Sikap Islam Terhadap Perbudakan
Jumat, 16 Februari 2007 07:53:35 WIB
Halaman ke-2 dari 2
TAMBAHAN
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarh Al-Aqidah Al-Washitiyah juz 1 hal. 229-230 takhrij Sa’ad bin Fawwaz Ash-Shomil cet II Dar Ibnu Jauzi : “Disini kamu wajib mengingatkan perbuatan sebagian orang yang menggantikan (istilah) keadilan dengan persamaan. Ini merupakan kesalahan, keadilan tidak boleh dikatakan persamaan, karena kata persamaan terkadang menuntut adanya persamaan antara dua hal yang seharusnya dibedakan.
Karena seruan yang tidak adil ini (ajakan kepada persamaan) mereka berkata : “Apakah perbedaan laki-laki dengan perempuan? Samakanlah laki-laki dengan perempuan?”. Sampai-sampai orang –orang Komunis mengatakan : “Apakah perbedaan antara pemerintah dengan rakyat, tidak mungkin orang bisa menguasai orang lain meskipun orang tua dengan anak, orang tua tidak mungkin mempunyai kekuasaan terhadap anak”. Demikian seterusnya !.
Akan tetapi jika kita mengatakan “Keadilan” yang maknanya memberikan hak kepada setiap orang yang memiliki hak tersebut, niscaya hilanglah bahaya (dari istilah persamaan) ini dan (kalimat yang ) diungkapkan akan menjadi selamat dari makna yang batil. Karena itu selamanya tidak ada di dalam Al-Qur’an ayat yang berbunyi. “Sesungguhnya Allah memerintahkan persamaan”. Tetapi yang ada adalah.
“Artinya : Sesungguhnya Allah memerintahkan keadilan” [An-Nahl : 90]
“Artinya : Dan jika engkau menghukumi manusia maka hukumilah dengan adil” [An-Nisa : 58]
Maka orang yang mengatakan “Islam adalah agama persamaan” telah salah, akan tetapi yang benar adalah ‘Islam adalah agama keadilan”, yang bermakna menyamakan perkara yang sama dan memisahkan perkara-perkara yang berbeda. Jika yang dia maksudkan dengan persamaan adalah makna keadilan di atas tetapi dia menggunakan istilah persamaan, maka orang ini salah dalam memilih kata/istilah walaupun yang dimaksud benar.
Karena itu mayoritas ayat Al-Qur’an meniadakan persamaan seperti :
“Artinya : Katakanlah : Adakah orang yang mengetahui sama dengan orang yang tidak mengetahui?” [Az-Zumar : 9]
“Artinya : Adakah orang yang buta sama dengan orang yang melihat? Ataukah kegelapan-kegelapan sama dengan sebuah cahaya ?” [Ar-Rad : 16]
“Artinya : Tidaklah sama orang yang berinfaq dan berperang sebelum datangnya kemenangan (Fathu Makkah), mereka lebih besar derajatnya dari pada orang yang berinfaq dan berperang sesudah kemenangan-kemenangan (Fathu Makkah)” [Al-Hadid : 10]
“Artinya : Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (tidak turut berperang) yang tidak memiliki udzur dengan orang yang berjihad di jalan Allah” [An-Nisa : 95]
Dan selamanya tidak ada satu huruf pun dalam Al-Qur’an yang memerintahkan persamaan, yang ada hanyalah ayat yang memerintahkan keadilan, dan kata keadilan lebih diterima oleh jiwa.
Saya mengingatkan hal ini, supaya omongan kita tidak seperti ocehan burung beo, karena sebagian manusia meniru ucapan orang lain tanpa perenungan, tanpa dipikirkan apa isinya, siapa yang membuatnya dan apa maksud kata tersebut menurut orang yang membuatnya”.
Syaikh Abu Bakar Al-Jazairy berkata dalam Minhajul Muslim hal. 459 : “Jika ada orang yang bertanya : “Mengapa Islam tidak mewajibkan pembebasan budak, sehingga seorang muslim tidak memiliki alternatif lain dalam hal ini?
Jawaban
Sesungguhnya Islam datang pada saat perbudakan telah tersebar dimana-mana, karena itu tidaklah pantas bagi syari’at Islam yang adil, yang menjaga jiwa, harta dan kehormatan seseorang manusia untuk mewajibkan kepada manusia agar membuang harta mereka secara sekaligus. Sebagaimana juga, banyak budak yang tidak layak untuk dimerdekakan, seperti anak-anak kecil, para wanita, dan sebagian kaum laki-laki yang belum mampu mengurusi diri mereka sendiri dikarenakan ketidak mampuan mereka untuk bekerja dan dikarenakan ketidak tahuan mereka tentang cara mencari penghidupan.
Maka (lebih baik) mereka tetap tinggal bersama tuannya yang Muslim yang memberi mereka makanan seperti yang dimakan tuannya, memberi mereka pakaian seperti yang dipakai tuannya, dan tidak membebani mereka pekerjaan yang tidak sanggup mereka kerjakan. Ini semua adalah beribu-ribu derajat lebih baik dari pada hidup merdeka, jauh dari rumah yang memberi mereka kasih sayang dan jauh dari perbuatan baik kepada mereka untuk kemudian menuju tempat yang menyengsarakan laksana neraka jahim.
KESIMPULAN
Dari penjelasan diatas penerjemah menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
[1]. Perbudakan saat ini masih diakui oleh Islam
[2]. Syarat untuk diperbudaknya seseorang manusia adalah :
(a). Kafir (non Muslim)
(b). Menjadi tawanan kaum muslimin
(c). Ditawan karena peperangan
(d). Panglima perang muslim tidak memberikan alternatif lain kepada
orang tersebut.
[3]. Islam menilai sorang budak sebagai saudara bagi lainnya.
[4]. Disisi lain, Islam mengusahakan kemerdekaan seorang budak dengan beberapa jalan, baik secara paksa maupun sukarela atau sebagai kafarat (penebus) dosa
[Diterjemahkan oleh Aris Munandar bin S Ahmadi Al-Lampunji]
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/V/1421H-2001M Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo – Solo 57183]




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan