Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Seharusnya Muslim Menyikapi Tahun Baru?

Dalih toleransi sering dijadikan alasan sebagian kaum Muslimin untuk turut berpartisipasi dalam perayaan hari-hari besar agama lain. Padahal, hari raya adalah masalah agama dan akidah, bukan masalah keduniaan, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pada hari Idul Fitri, إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا ”Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini (Idul Fitri) adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, turut merayakannya berarti ikut serta dalam ritual ibadah mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud, dan dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani). MENYAMBUT TAHUN BARU Entah direncanakan atau sekadar latah, pada malam itu orang-orang seakan secara serempak melonggarkan moralitas dan kesusilaan. Bunyi terompet diselingi gelak tawa (bahkan dengan minuman keras) bersahut-sahutan di setiap tempat. Sepeda motor mengepulkan asap hingga mirip ‘dapur berjalan’ meraung-raung. Mobil-mobil membunyikan klakson sepanjang jalan. Cafe, diskotik dan tempat-tempat hiburan malam sesak padat. Orang-orang ‘tumpah’ di jalanan dengan satu tujuan: merayakan Tahun Baru. Sebenarnya tahun Masehi adalah tahun yang baru bagi bangsa Indonesia, karena ia tidak memiliki akar kultur dan tradisi dalam sejarah bangsa ini. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung anggapan ini. Pertama, latarbelakang sosio-historis. Berlakunya tahun Masehi tidak bisa dipisahkan dari pengaruh teologi (keagamaan) Kristen, yang dianut oleh masyarakat Eropa. Kalender ini baru diberlakukan di Indonesia pada tahun 1910 ketika berlakunya Wet op het Nederlandsch Onderdaanschap atas seluruh rakyat Hindia Belanda. Kedua, karena latarbelakang teologis. Sebagaimana diketahui, kalender Gregorian diciptakan sebagai ganti kalender Julian yang dinilai kurang akurat, karena awal musim semi semakin maju, akibatnya, perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325, tidak tepat lagi. Kalender Hijriyah, disebut sebagai kalender Islam (at-taqwim al-hijri), karena ditetapkan sejak hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia ditetapkan sebagai tahun Islam setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat atas inisiatif Khalifah kedua, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu pada tahun 638 M (17 H). Hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditetapkan sebagai awal kalender Islam, menyisihkan dua pendapat lainnya, yaitu hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hari wafat beliau. Sejak kedatangan Islam hingga awal abad ke-20, kalender Hijriyah berlaku di nusantara. Bahkan raja Karangasem, Ratu Agung Ngurah yang beragama Hindu, dalam surat-suratnya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Otto van Rees yang beragama Nasrani, masih menggunakan tarikh 1313 Hijriyah (1894 M). Jadi secara historis dan kultural bangsa kita pun, tahun baru Masehi tidak perlu dirayakan. Terlebih lagi jika ditinjau dari sisi akidah al wala’ wal bara’ (loyalitas dan pelepasan diri) dalam agama Islam. Meski demikian, hal ini tidak bisa secara otomatis dijadikan sebagai justifikasi pentingnya merayakan tahun baru Hijriyah yang juga tinggal menghitung hari. Mengingat sejauh ini tidak ditemukan teks agama yang menganjurkan perayaan tahun baru Hijriyah. ULAMA MENYIKAPI HARI RAYA NON-MUSLIM (NATAL/TAHUN BARU) Fatwa Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaimin—rahimahullah Pertanyaan: Apa hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan hari besar keagamaan mereka? (Misal: Merry Christmas, Selamat hari Natal dan Tahun Baru dst, red.). Dan bagaimana kita menyikapi mereka jika mereka mengucapkan selamat Natal kepada kita. Dan apakah dibolehkan pergi ke tempat-tempat di mana mereka merayakannya? Dan apakah seorang Muslim berdosa jika ia melakukan perbuatan tersebut tanpa maksud apapun, akan tetapi ia melakukannya hanya karena menampakkan sikap tenggang rasa, atau karena malu atau karena terjepit dalam situasi yang canggung, atau pun karena alasan lainnya. Dan apakah dibolehkan menyerupai mereka dalam hal ini? Jawaban: Mengucapkan selamat kepada orang kafir pada perayaan Natal atau hari besar keagamaan lainnya dilarang menurut ijma’ (kesepakatan ulama). Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qoyyim—rahimahullah—dalam bukunya Ahkamu Ahlidz-dzimmah, beliau berkata, “Mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar kafir yang menjadi ciri khasnya adalah haram, menurut kesepakatan. Seperti memberi ucapan selamat kepada mereka pada hari-hari rayanya atau puasanya, sehingga seseorang berkata, “Selamat hari raya”, atau ia mengharapkan agar mereka merayakan hari rayanya atau hal lainnya. Maka dalam hal ini, bisa jadi orang yang mengatakannya terlepas dari jatuh ke dalam kekafiran, namun (sikap yang seperti itu) termasuk ke dalam hal-hal yang diharamkan. Ibarat dia mengucapkan selamat atas sujudnya mereka pada salib. Bahkan ucapan selamat terhadap hari raya mereka dosanya lebih besar di sisi Allah dan jauh lebih dibenci dari pada memberi selamat kepada mereka karena meminum alkohol dan membunuh seseorang, berzina dan perkara-perkara yang sejenisnya. Dan banyak orang yang tidak paham agama terjatuh ke dalam perkara ini. Dan ia tidak mengetahui keburukan perbuatannya. Maka siapa yang memberi selamat kepada seseorang yang melakukan perbuatan dosa, atau bid’ah, atau kekafiran, berarti ia telah membuka dirinya kepada kemurkaan Allah.” Akhir dari perkataan Syaikh (Ibnul Qoyyim—rahimahullah). Haramnya memberi selamat kepada orang kafir pada hari raya keagamaan mereka sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim adalah karena di dalamnya terdapat persetujuan atas kekafiran mereka, dan menunjukkan ridha dengannya. Meskipun pada kenyataannya seseorang tidak ridha dengan kekafiran, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk meridhai syiar atau perayaan mereka, atau mengajak yang lain untuk memberi selamat kepada mereka. Karena Allah tidak meridhai hal tersebut, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” [QS. Az Zumar 39: 7]. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan bagimu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS. Al Maaidah: 3] Maka memberi selamat kepada mereka dengan ini hukumnya haram, sama saja apakah terhadap mereka (orang-orang kafir) yang terlibat bisnis dengan seseorang (Muslim) atau tidak. Jadi, jika mereka memberi selamat kepada kita dengan ucapan selamat hari raya mereka, kita dilarang menjawabnya, karena itu bukan hari raya kita, dan hari raya mereka tidaklah diridhai Allah, karena hal itu merupakan salah satu yang diada-adakan (bid’ah) di dalam agama mereka, atau hal itu ada syariatnya tapi telah dihapuskan oleh agama Islam yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, telah diutus dengannya untuk semua makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Islam, artinya, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85]. Dan bagi seorang Muslim, memenuhi undangan mereka untuk menghadiri hari rayanya hukumnya haram. Karena hal ini lebih buruk dari pada hanya sekadar memberi selamat kepada mereka, dimana di dalamnya akan menyebabkannya turut berpartisipasi dengan mereka. Juga diharamkan bagi seorang Muslim untuk menyerupai atau meniru-niru orang kafir dalam perayaan mereka dengan mengadakan pesta, atau bertukar hadiah, atau membagi-bagikan permen atau makanan, atau libur kerja, atau yang semisalnya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia adalah bagian dari mereka”. [wahdah.or.id] Sumber: http://wahdahmakassar.org/bagaimana-seharusnya-muslim-menyikapi-tahun-baru/#ixzz2pY5p8vJH Follow us: @wimakassar on Twitter | wimakassar on Facebook

KESETARAAN GENDER ATAU PERBUDAKAN ? (1)

Kedudukan Wanita dalam Islâm Wanita di Masa Jahiliyah Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59) Islam Menjunjung Martabat Wanita Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33). Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97) Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini. Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27) Peran Wanita dalam Rumah Tangga Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah: “Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33) Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setipa orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.” Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum. Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33) Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab: 1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagamana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat. 2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’) Pekerjaan Wanita di dalam Rumah Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah: 1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33) 2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini: - Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ “Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi) Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356) - Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya. - Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda: خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi) - Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah. 3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala. Adab Keluar Rumah Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ “Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi) Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya: “Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36) Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu: a. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59. b. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah. c. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341) d. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31) e. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32) f. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan. g. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311) h. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31) i. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870) j. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978). Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35) Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggug jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5) Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya. Wanita adalah Sumber Segala Fitnah Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala. Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14). Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114) Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلِ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim) Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!!!! Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ “Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.” Keterangan: Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena didalam perawi-perawi hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416) sumber : alumnistiba-mks.blogspot.com

Membela Kehormatan Sahabat Radhiyallahu 'Anhum

Akhir-akhir ini, kelompok Syiah semakin menampakkan geliat mereka di tanah air ini. Sebuah sekte yang menyandarkan ajaran mereka terhadap Islam, namun Islam sangat jauh dari klaim tersebut. Di antara akidah mereka yang menyelisihi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Jika ahlussunnah meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik generasi umat ini, maka Syiah mengatakan bahwa sahabat, khususnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhum adalah seburuk-buruk umat, para pengkhianat, bahkan telah murtad dan keluar dari Islam. Seperti itulah yang disebutkan dalam literatur-literatur standar mereka. DEFENISI SAHABAT Radhiyallahu anhum Sahabat adalah bentuk jamak dari shahabi, yaitu orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan demikian. KEUTAMAAN SAHABAT Radhiyallahu anhum Seorang muslim, wajib meyakini bahwa mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini, karena mereka terlebih dahulu beriman, menemani Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, berjihad bersama beliau, dan membawa serta menyampaikan syariat kepada orang-orang sesudah mereka. Dalil dari al-Qur’an 1. Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka dalam firman-Nya (artinya), “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100). Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji seluruh Muhajirin dan Anshar tanpa pengecualian, karena ال pada kata “al-Muhajirin” dan “al-Anshar” dalam ayat ini menunjukkan makna umum. Demikian pula seluruh yang mengikuti mereka dengan baik. Inilah hukum asal, maka tidak boleh mengeluarkan seorang pun Muhajirin atau Anshar dari keumuman ayat ini tanpa adanya dalil yang dengan tegas menunjukkan demikian. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka yang mengikuti para sahabat dengan baik. Lalu siapakah mereka para pengikut sahabat itu? Merekalah Ahlussunnah wal Jamaah, bukan Syiah, karena Syiah dengan jelas telah mengafirkan, atau paling tidak mencela, mencaci maki, dan menghinakan para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. 2. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya), “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29) Ayat ini dengan jelas menggambarkan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mendidik dan menjaga para sahabat seperti tunas-tunas yang muncul ke permukaan bumi, hingga akhirnya matang dengan sempurna, sehingga menyenangkan Zat yang memelihara dan menumbuhkannya, dan hal itu akan menjadi sebab kemurkaan orang-orang kuffar. Maka barangsiapa membenci dan dengki kepada mereka akan mendapatkan ancaman dari Allah. 3. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi.” (QS. Al-Anfal: 72) hingga ayat selanjutnya, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para Muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 73-74) Bukankah ini adalah penegasan dari Allah akan keimanan Muhajirin dan Anshar? Allah menegaskan bahwa mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman, Allah menjanjikan bagi mereka ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia. Maka barangsiapa yang meragukan keimanan para sahabat, maka berarti mereka telah mendustkan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta'ala Subhanahu wa Ta'ala Mahamengetahui segala yang akan terjadi, maka bisa jadi Allah sengaja mendatangkan ayat ini untuk membungkam siapa saja yang kelak datang setelah generasi sahabat dan dengan tanpa adab mencela dan menganggap mereka murtad. 4. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala (artinya), “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.” (QS. Al-Hadid: 10). Ayat yang mulia ini memuji mereka yang beriman sebelum penaklukan Mekah, dan berinfak di jalan Allah, dan berperang untuk meninggikan kalimat Allah, dan bahwasanya mereka yang datang setelahnya tidak akan mampu menyamai keutamaan mereka. Ini adalah persaksian yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bagi orang-orang berakal. 5. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9). Subhanallah, inilah penggolongan kaum Mukminin yang menakjubkan yang disebutkan Allah dalam ayat ini; Muhajirin, Anshar, lalu para pengikut Muhajirin dan Anshar yang senantiasa mendoakan para pendahulunya dan mencintai mereka. Perhatikan, hanya tiga golongan. Lalu di mana posisi Syiah dari tiga golongan ini? Jangankan untuk mendoakan dan mencintai Muhajirin dan Anshar, sebaliknya mereka justru melaknat dan menganggap mereka telah murtad. Dalam lanjutan kedua ayat di atas disebutkan, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapenyantun lagi Mahapenyayang." (QS. Al-Hasyr: 10). Bandingkan antara Syiah dan Sunni dari sisi pengamalan ayat ini. Anda akan melihat bahwa Syiah 180º membelakangi titah Allah Subhanahu wa Ta'ala ini. 6. Dalam ayat lain disebutkan, “Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat: 7). Dan masih banyak ayat lain yang menyebutkan keutamaan para sahabat. Inilah sebagian ayat yang menyanjung generasi para sahabat yaitu mereka yang berjihad di jalan Allah untuk mengibarkan panji-panji Islam. Tidakkah Syiah menyadari bahwa semua kebaikan yang ada pada dunia Islam sekarang ini disebabkan karena kegigihan perjuangan mereka? Kemudian datanglah setelah mereka generasi Ahlussunnah untuk menyempurnakan perjuangan itu. Berpindahlah din ini ke generasi-generasi selanjutnya. Negeri-negeri kuffar ditaklukkan, dan manusia pun beramai-ramai mengenal Islam. Sekarang, bisakah Syiah menunjukkan kepada semesta alam, sejengkal tanah dari negeri kufur yang telah mereka taklukkan? Bukankah Persia (Iran, negeri kebanggan Syiah) sendiri ditaklukkan pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu anhu yang mereka kafirkan? Kalaulah bukan karena Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian jasa Umar radhiyallahu anhu, tentulah Khomeini masih menyembah api. B. Dari Sunnah - Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mencela sahabatku, jika salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan setara dengan satu mud para sahabat, bahkan sekali pun setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Khalid bin Walid radhiyallahu anhu ketika mencela Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu anhu. Abdurrahman radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang awal-awal memeluk Islam, adapun Khalid radhiyallahu anhu masuk Islam setelahnya. Sesama sahabat pun dilarang untuk mencela sahabat lainnya, apalagi jika pencela itu adalah orang-orang yang datang setelahnya. Hendaknya para pelaknat sahabat itu malu terhadap diri mereka sendiri. Adakah setetes darah yang telah mereka teteskan untuk kejayaan Islam? Pernahkah tubuh mereka bersimbah peluh dan debu-debu perjuangan untuk meninggikan kalimat Allah? Ataukah setiap harinya mereka hanya berlari di belakang dunia, mengejar segala kenikmatan di dalamnya, lalu merasa diri mereka telah jauh lebih baik dari para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sehingga mereka merasa pantas untuk melaknatnya? - Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian masa setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Bukhari, 2652; Muslim, 2533). Dan masih banyak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mengabarkan keutamaan-keutamaan para sahabat secara umum atau yang menyebutkan nama-nama sahabat secara khusus. Pertanyaan: Mengapa Syiah begitu lancang mengafirkan para sahabat (kecuali empat sahabat menurut mereka) sementara Allah I dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memuji mereka? Jawabannya tidak keluar dari dua kemungkinan; entah karena Allah U tidak mengetahui perkara yang akan terjadi, bahwa suatu saat sahabat akan murtad (Ini Mustahil. Mahasuci Allah dari hal demikian), atau Syiah adalah ajaran menyimpang yang menyelisihi al-Qur’an dan Sunnah shahihah (dan inilah yang benar).Wallahu Waliyyut Taufiq. Dari berbagai sumber (Al Fikrah No.05 Tahun XIII/11 Shafar 1433 H) Link Buletin : http://www.stibamks.net/2012/01/membela-kehormatan-sahabat-radhiyallahu.html

Pesan Dakwah Dalam Surah Al Ashr

Ada satu surat dalam al-Qura’n, Imam syafi’I berkata tentangnya; Kalau saja Allah tidak menurunkan selain surat ini, maka surat ini sudah cukup untuk menjadi petunjuk bagi manusia, karena surat ini mengandung seluruh inti sari dari ajaran Islam, dan apa yang diinginkan oleh setiap manusia dari islam itu sendiri. Dan surat ini secara ringkas memaparkan hal tersebut. Allah SWT memulai surat ini dengan mengatakan; Demi masa; Dan ini merupakan sumpah, dan jika Allah bersumpah dengan makhluqnya, maka para ahli tafsir mengatakan; itu menunjukkan bahwa makhluq itu mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pandangan Allah SWT, dan kita melihat disini; masa dalam pengertian ulama Islam adalah; alwaqtu huwal hayaah; waktu itu adalah kehidupan itu sendiri. Jadi yang dimaksud masa adalah kehidupan itu sendiri. Selanjutnya Allah SWT membuat pernyataan umum, yang bunyinya; Sesungguhnya manusia semuanya benar-benar dalam keadaan rugi,(dalam kehidupan ini) kecuali, mereka yang memiliki 4 kwalifikasi berikut ini; Yang pertama (orang-orang yang tidak merugi) dalam surat ini adalah; Orang-orang yang beriman (kecuali orang-orang yang beriman) Ulama kita menafsirkan; kata iman disini dalam dua bentuk; - Bahwa iman itu adalah pemahaman terhadap kebenaran dan karena itu iman merupakan pengetahuan - Kebenaran itu selanjutnya diyakini dalam emosi dan perasaan, dan karena itu; iman merupakan keyakinan Jadi, intisari dari iman adalah; pengetahuan dan keyakinan. Oleh karena itu, iman juga merupakan perpaduan antara akal dan hati. Yang kedua; Selanjutnya Allah SWT mengatakan; Dan orang-orang yang senantiasa beramal shalih Dan dalam ayat ini Allah SWT menggunakan kata sambung “waw” yang berarti dan. Sehingga amal shalih merupakan buah dari keimanan, buah dari pengetahuan tentang kebenaran dan buah dari kebenaran yang diyakini dan kemudian melahirkan sikap keseharian seorang muslim, jika seseorang sudah beriman dan beramal shalih, kata Ibnul Qayyim; ia sudah sampai pada “al kamaal al fardiy” (kesempurnaan individu) akan tetapi, Allah SWT tidak menginginkan seorang muslim hanya menikmati keshalihannya secara sendiri. Allah menginginkan bahwa setiap muslim yang sudah sampai pada tahap “al kamaal al fardiy” ini juga harus mau dan berusaha untuk mentransfer keshalihannya kepada orang lain. Yang ketiga: Proses mentransfer keshalihan inilah yang selanjutnya Allah SWT sebutkan; Dan saling berwasiat kepada kebenaran Bahwa semua pikiran yang keluar dari kita, semua kalimat yang keluar dari lisan kita, dan semua tindakan yang keluar dari sikap kita seluruhnya berada dalam lingkaran kebenaran, dan karena itu, siapapun yang berdiskusi dengan kita, siapapun yang bergaul dengan kita akan mendapatkan ciprakan kebenaran itu. Dan inilah yang dimaksud dengan “watawaashauu bilhaq”. Yang keempat; Selanjutnya Allah SWT mengatakan; Dan mereka saling berwasiat kepada kesabaran Kesabaran maksudnya disini adalah; bahwa orang yang sudah sampai pada tahap mentransfer keshalihannya kepada orang lain, biasanya menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan orang-orang yang masih dalam tahap “al kamaal alfardiy” . Pada tahap al kamaal al fardiy, kita masih dapat menikmati iman itu secara internal. Tetapi, pada tahap “watawaashauu bilhaq”, kita mulai bergaul dengan orang lain. Dan dalam pergaulan itu, kadang-kadang kita memberikan yang terbaik tapi, justru kita menerima yang negatif . dan oleh karena itu, orang yang paling butuh wasiat kepada kesabaran adalah orang yang sudah berwasiat kepada kebenaran itu sendiri. Berdasarkan keempat hal tersebut, kita mengambil kesimpulan tentang landasan kwalifikasi manusia muslim yang sebenarnya adalah; Yang pertama; iman Yang kedua; beramal shalih Yang ketiga; berdakwah Dan yang keempat adalah; sabar Dan perlu kita ketahui bahwa keempat kwalifikasi ini adalah pembagian menurut al-qur’an, maksudnya; pembagian ini tidak akan pernah berubah sesuai dengan perubahan zaman. Setiap muslim yang memiliki keempat kwalifikasi ini, biasanya memiliki daya tahan hidup jauh lebih lama daripada muslim yang tidak memiliki kwalifikasi tersebut . Iman dan amal shalih adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Artinya; bahwa kita mengetahui kebenaran Islam dan kemudian kita meyakini kebenaran tersebut. Dan karena itu, kita harus merasa bahwa; kita adalah bagian yang sangat integral dengan Islam. Baik pikiran kita, perasaan kita maupun prilaku kita secara keseluruhan. Dan karena itu wujud afiliasi keberIslaman seseorang adalah komitmen akidah atau ideologi. Maksudnya adalah; kita harus mengetahui satuan-satuan ajaran Islam yang merupakan sistem yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur satuan-satuan kehidupan setiap muslim. Berdasarkan pengetahuan itu, maka kita bisa mengharapkan Islam dalam semua level; skala pribadi, keluarga, masyarakat, bahkan dunia secara keseluruhannya. Selanjutnya, ada proses yang kita sebutkan tadi yaitu; “watawaashauu bilhaq”. Dorongan watawaashauu bilhaq ini adalah; dorongan yang memotivasi setiap muslim untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosialnya. Bahwa keshalihan individunya, bukan untuk miliknya sendiri. Selanjutnya setiap partisipasi mengandung makna bahwa ada kerjasama. Oleh karena itu ayat tadi mengatakan; “watawaashauu” Kata watawaashauu dalam bahasa arab adalah bentuk kata kerja perintah yang pelakunya harus dua orang atau lebih dan tidak boleh satu. Karena kalau satu, seharusnya Allah SWT mengatakan; wa yuushii bilhaq bukan “watawaashauu bilhaq”. Dan jika ada dua orang dan setiap orang melakukannya, berarti ada kerjasama dan jika ada kerjasama berarti ada pengorganisasian dan jika ada pengorganisasian berarti ada pembagian tugas dan jika ada pembagian tugas, berarti ada spesialisasi. Karena tidak satupun dari kita yang bisa menjadi segala-galanya. Mungkin pada waktu tertentu ada orang yang bisa menjadi pemikir, ada orang yang bisa menjadi leader sekaligus administrator sekaligus orator, tapi orang yang seperti ini, hidupnya seperti “lilin”. Dia menyinari orang lain, tapi dia membunuh dirinya sendiri. Jama’ah sekalian yang dirahmati Allah SWT… Tahapan-tahapan kwalifikasi muslim yang disebutkan oleh Allah dalam surah tadi disebut dengan al ‘Aalim rabbaniy. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan al ‘Aalim Rabbaniy adalah; yang mengajarkan ilmu-ilmu yang kecil sebelum ilmu-ilmu yang besar. Ilmu-ilmu yang kecil disini adalah ilmu-ilmu yang asasi yaitu masalah tauhid atau iman. Inilah Ilmu yang sangat esensial/penting dalam keberIslaman seseorang. Tidak seperti yang kita lihat sekarang ini jama’ah sekalin… Banyak gerakan-gerakan dakwah yang lebih mengutamakan mengajarkan hal-hal yang tidak terlalu esensial/penting dalam syariat ini. Banyak diantara gerakan tersebut yang terlalu tergesa-gesa ingiin melihat kejayaan Islam sementara dia sendiri tidak mengetahui apa Islam itu. Akhirnya kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikannnya kepada agama ini. Timbulnya fitnah saat sekarang ini hanya disebabkan oleh orang-orang jahil yang terlalu semangat berdakwah kepada Islam. Akhirnya kerusakannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan.

Tipologi Artikulasi Gerakan Wahdah Islamiyah

Tipologi Artikulasi Gerakan Wahdah Islamiyah: Dari Militansi Hingga Transformatif-Emansipatoris Oleh Syarifuddin Jurdi Doktor Sosiologi Politik UIN Makassar, Peneliti Gerakan Islam PADA 17-20 Desember 2011, Wahdah Islamiyah akan menyelenggarakan Muktamar ke-2 di Kota Makassar, kota kelahirannya. Gerakan ini merupakan rangkaian dari Yayasan Fathun Muin yang berdiri pada 1988 (23 tahun yang lalu) dan pada 2002 berubah menjadi ormas Islam. Wahdah lahir dalam rangka merespons kebijakan Negara yang menerapkan azas tunggal Pancasila 1985, para tokoh yang mendirikan Wahdah Islamiyah adalah mereka yang menentang kebijakan Negara yang menerapkan azas tunggal, komunitas ini termasuk dalam barisan kelompok militan Islam. Aktivisme gerakan-gerakan Islam mengikuti pola umum aktivisme gerakan Islam yang berkembang di belahan dunia lain dengan replikasi-replikasi tertentu, baik dalam bentuk tarbiyah maupun aktivisme dalam arti luas. Wahdah Islamiyah memiliki corak tersendiri berkaitan dengan kecendrungan gerakannya, ia tidak menekankan corak lama pada nilai-nilai “ekslusivisme” Islam, tetapi memberi perhatian pada dinamika kehidupan masyarakat dewasa ini dengan terlibat aktif dalam memecahkan persoalan-persoalan keummatan secara langsung. Tipologi artikulasi Wahdah Islamiyah tidak dapat dimasukkan ke dalam model tipologi gerakan Islam yang berkembang di Indonesia secara umum, yang oleh para pengamat mengklasifikasinya ke dalam tipologi gerakan Islam; ada yang bercorak fundamentalis, radikal, modernis, tradisionalis, liberal, idealis moderat, idealis kritis, akomodatif, kiri Islam, Islam puritan dan lain sebagainya, kendatipun klasifikasi tipologi artikulasi gerakan Islam yang tersedia dapat membantu memahami eksistensi Wahdah Islamiyah. Dalam kaitan dengan tipologi ini, Wahdah Islamiyah mendayung antara kecendrungan pada satu kutub bergeser pada kutub yang lain, dari ekslusif bergeser ke inklusif sesuai dan sebangun dengan prinsip-prinsip gerakannya. Ini berbeda dengan kecendrungan umum gerakan transnasional yang tetap berjuang pada keyakinan ideologi gerakan seperti memperjuangkan tegak khilafah Islamiyah, negara Islam atau usaha-usaha legal formal agama dalam kehidupan politik. Tipologi gerakan transnasional kadang-kadang termasuk dalam tipologi yang bercorak fundamentalis atau orientasi yang serba ideologis-simbolik-politik. Tipologi artikulasi gerakan Islam ditentukan oleh kultur atau tradisi, tujuan dan manhaj suatu gerakan, kalau gerakan Wahdah Islamiyah mengambil corak yang rasional-inklusif, tentu muncul dari keyakinan dan cita-cita sosial gerakannya, setidaknya tipologi Wahdah Islamiyah dalam diklasifikasi dalam tiga kecendrungan berikut; Dari Ekslusif ke Rasional-Inklusif Gerakan Islam yang tumbuh dan berkembang di Indonesia merupakan manifestasi keimanan dan panggilan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan memahami akar sejarah Wahdah Islamiyah, maka gerakan ini pada dasarnya menerapkan bentuk aktivisme yang bersifat terbatas pada kalangan tertentu. Periode awal berdirinya, Wahdah Islamiyah merupakan organisasi yang “ekslusif”. Kecendrungan ekslusivisme ini berlangsung antara proses “perpisahan” para aktivisnya dengan Muhammadiyah sejak 1986 hingga pelembagaannya pada 1988, tahun dimana proses ekspansi gerakan diintensifkan ke sejumlah basis, khususnya pelajar dan mahasiswa. Antara 1988-1991, perhatian diorentasikan pada pelajar SMA di Makassar, dan tahun 1991, ekspansi meluas dengan menggarap kegiatan keagamaan mahasiswa di kampus-kampus. Inklusivisme mulai dikembangkan ketika berhasil melakukan ekspansi ke kampus-kampus di Makassar. Selain itu, aktivitas dakwah ke berbagai daerah intensif dilakukan, khususnya daerah-daerah yang ada di Sulawesi Selatan seperti Sinjai, Bulukumba, Takalar, Maros, Soppeng, Luwu dan lain sebagainya. Pergeseran sikap dari kecenderungan “bergerak di bawah tanah” pada periode 1988-1991, ke orientasi yang lebih terbuka, seiring dengan akomodasi negara terhadap Islam. Perubahan strategi dari orientasi yang bersifat “ekslusif” ke orientasi rasional inklusif didasarkan pada perubahan dalam struktur politik Indonesia. Sejak akhir 1980-an, rezim mengalami perubahan kebijakan terhadap umat Islam, tepatnya setelah Soeharto memecat L.B. Moerdani dari jabatannya sebagai Panglima ABRI pada 1988 dan menggantinya dengan Try Sutrisno, beberapa bulan sebelum dilangsungkan Sidang Umum MPR. Pada Desember 1990, Presiden mengijinkan Prof. Dr. Ing B.J. Habibie menjadi ketua umum ICMI dan seterusnya kebijakan yang mengakomodasi Islam diterapkan, termasuk mencabut SDSB dan mengijinkan pelajar Muslimah mengenakan Jilbab di sekolah dan kampus-kampus. Dalam situasi politik yang berubah itu, Wahdah mentransformasi gerakannya untuk menghilangkan kesan ekslusif, mendorong reformasi pemahaman keagamaan melalui suatu proses transfromasi dalam masyarakat Muslim dengan memilih “jalan tengah” dalam berdakwah amar ma’ruf nahi munkar yakni dengan jalan yang inklusif dalam berbagai bidang. Sikap terbuka dalam mensosialisasikan ajaran Islam mengindikasikan kuatnya pemahaman akan pentingnya keterlibatan aktif dalam memecah problem sosial politik umat Islam. Menghindari pilihan yang bersifat radikal-ekslusif dalam berdakwah sebagai bentuk penerimaan atas perubahan orientasi kebijakan politik rezim berkuasa terhadap Islam, Wahdah Islamiyah mengembangkan program inklusif dengan menggarap program pemberdayaan dan pencerahan sebagai investasi sosio-politik bagi tersedianya infrastruktur yang akan mendukung terlaksananya nilai-nilai Islam pada level individu, keluarga, masyarakat dan bahkan pada level bangsa dan negara. Dengan watak inklusifnya, Wahdah Islamiyah telah berkembang ke sejumlah daerah di Indonesia. Perkembangan Wahdah merupakan program nasional, bahkan dalam visi 2015 dinyatakan bahwa Wahdah Islamiyah akan menjadi gerakan Islam menasional dengan berdirinya gerakan ini pada seluruh ibukota propinsi seluruh Indonesia. Dalam laporan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah pada Muktamar I di Makassar tahun 2007 dinyatakan bahwa Wahdah Islamiyah telah berdiri di seluruh Sulawesi, Maluku Utara, Kalimantan Timur dan Selatan, DKI Jakarta, Yogyakarta, Bandung Jawa Barat, Nanggroe
Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat dan juga tengah berdiri cabang persiapan pada sejumlah kabupaten/kota di berbagai propinsi. Dari “Militan” ke Moderat-Akomodatif Ketika negara menerapkan ideologi monolitik Pancasila pada 1985, maka semua gerakan sosial dan politik harus menyesuaikan ideologinya dengan ideologi negara, tidak ada lagi “dualisme” ideologi dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Siapa pun yang menolak mencantumkan Pancasila sebagai azas dan ideologi gerakannya, akan dituduh sebagai kelompok yang ekstrem, ilegal, dan bahkan untuk kasus-kasus tertentu dituduh subversif, kalau dilakukan umat Islam, tuduhannya adalah “ekstrem kanan”. Kelompok Islam yang anti terhadap ideologi “buatan manusia”, kadang-kadang disebut dengan istilah “muta’ashibin” (orang-orang fanatik) atau pun “mutatharrifin” (orang-orang radikal), oleh pemerintah Orde Baru dianggap ingin mengganti ideologi negara dengan “negara Islam”. Dalam struktur masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan strategi pemerintah untuk memuluskan keinginannya menerapkan ideologi monolitik, memunculkan dugaan bahwa ekstreminitas keagamaan pada periode tersebut memang muncul disebabkan oleh dua faktor; pertama, faktor internal umat Islam. Aktivisme keagamaan kelompok-kelompok Islam yang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan kebijakan politik pemerintah yang menerapkan azas tunggal, memunculkan kelompok ekstrem yang secara laten membangun kekuatannya. Kedua, faktor eksternal. Dalam hal ini, Al-Qardhawi (1992) menyebut ekstreminisme keagamaan ini bukanlah suatu tuduhan, tetapi benar-benar ada yang justru direstui oleh pemerintah dan intel-intel negara, guna dijadikan alat pemukul terhadap gerakan Islam yang lain, dan sesudah itu, menghancurkan sampai tuntas setelah peranannya dianggap selesai. Kelompok yang menentang ideologi monolitik azas tunggal pada 1980-an dituduh sebagai kelompok “militan”. Meskipun tuduhan itu tidaklah sepenuhnya benar, barangkali awalnya muncul unsur-unsur militansi, tetapi dalam perkembangannya bergeser menjadi moderat, Allah berfirman “Demikianlah Kami jadikan kamu umat yang “tengah” (moderat) supaya kamu menjadi saksi atas manusia (QS. 2: 143). Namun sikap militant itu perlahan-lahan mengalami transformasi menjadi moderat dan akomodatif terhadap regulasi pemerintah, bukti akomodatif itu adalah kesediaan Wahdah mengikuti pemerintah dalam penentuan awal bulan ramadhan dan hari raya (idul fitri dan adha), kendayi sikap ini oleh sebagian kalangan dipandang sebagai keberhasilan rezim mengkooptasi Wahdah. Dalam struktur ideologi gerakan Wahdah, diperoleh kesan bahwa Islam sangat tidak menyukai sikap keterlaluan (ekstrem), dalam hadits riwayat Imam Ahmad dinyatakan bahwa Rasulullah bersabda“Hindarkanlah daripadamu sikap melampaui batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya”. Wahdah Islamiyah hingga kini menerapkan sikap moderat dan akomodatif dalam kaitannya dengan masalah-masalah muamalah yang luas dan tidak dalam kaitannya dengan akidah dan ibadah. Urusan duniwiyah seperti masalah sosial politik sepanjang itu untuk kepentingan kemanusiaan dan kemaslahatan umat akan diterima dengan positif oleh Wahdah. Pasca menjadi Ormas, Wahdah Islamiyah mengedepankan sikap akomodatif dalam bidang sosial dan pendidikan. Karena sikap itu, gerakan ini hingga 2009, telah mendirikan sekolah-sekolah umum, mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi, bahkan menurut salah seorang elitenya, ke depan syarat berdirinya suatu cabang harus ada amal usaha nyata yang dapat dirasakan masyarakat seperti berdirinya sekolah atau masjid dan amal usaha lainnya yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam dan aturan hukum negara. Dengan melihat perkembangan Wahdah Islamiyah belakangan ini, tidak arif dan tidak bijaksana menuduh gerakan ini sebagai gerakan Islam radikal, fundamentalis, atau ekstremis. Tuduhan semacam itu tidak didukung oleh fakta-fakta sosial dimana gerakan ini eksis. Tidak dapat dijadikan alasan atau dasar untuk menuduh kelompok Islam tertentu karena mereka memilih suatu sikap dan keyakinan pada pemahaman tertentu atau fiqh tertentu, karena agama bukanlah fiqh atau mazhab tertentu, tetapi pada ekspresi sosial politiknya. Dari “Tradisi” ke Transformatif-Emansipatif Gerakan Islam yang berorientasi ibadah dan spiritual seringkali dituduh sebagai kelompok yang tidak bertanggungjawab secara sosial politik bagi pemecahan masalah-masalah kemanusiaan. Gerakan Islam yang berorientasi ibadah dan spiritual pada dasarnya manifestasi dari penafsiran doktrin Islam yang tidak “utuh”, karena semua gerakan Islam dalam bentuk ekspresi yang radikal sekalipun tetaplah memberi perhatian pada persoalan sosial politik, meski dengan cara yang berbeda. Para ideolog gerakan Islam modern seperti Jamaluddin al-Afgani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha yang banyak dirujuk intelektual Indonesia sangat konsen pada persoalan kemanusiaan. Dalam konteks ini, gerakan Islam Indonesia banyak memadukan secara actual konsep Wahabi yang kuat dasar pijakan pada tradisi Islam dengan Afgani, Abduh dan Ridha yang menerjemahkan ajaran Islam secara rasional untuk memecahkan persoalan kontemporer. Orientasi pada wilayah sosial kemanusiaan merupakan hasil terjemahan terhadap perintah dan anjuran agama yang agung, Islam tidak hanya dibatasi pada ranah ritual dan tradisi-tradisi yang bersifat sempit. Fenomena yang paradoks ditemukan dalam praktek keagamaan elite-elite agama yang menjadi “karyawan” negara, satu sisi mereka memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi pada sisi lain perilaku sosial politiknya terkadang tidak mencerminkan ajaran Islam yang dianut dan dipahaminya. Tema penguatan identitas dan pengamalan nilai-nilai Islam autentik menjadi pilihan Wahdah Islamiyah, karena Islam seringkali dipergunakan sebagai alat legitimasi kaum elitenya dalam berkompromi dengan pengambil kebijakan, pada konteks ini nilai-nilai tradisi Islam mengalami marginalisasi. Dalam waktu yang lama, Islam tidak menjadi patron bagi perilaku dan tindakan individu, akibatnya korupsi, kolusi dan nepotisme terus tumbuh-subur, agama mengalami kooptasi dan hegemoni oleh kapitalisme dan kekuasaan. Inilah konteks yang melegitimasi perkembangan Wahdah untuk mengukuhkan kembali tradisi keagamaan sesuai dengan yang diteladankan oleh Rasulullah dan para shahabat-Nya serta orang-orang shaleh yang hidup setelah mereka. Penekanan pada ajaran fundamental Islam menjadi ciri khas Wahdah. Orientasi pada pemahaman keagamaan ini mengalahkan perhatian gerakan ini pada bidang-bidang kemanusiaan yang lain, bagi Wahdah Islamiyah periode awal lebih menekankan pada penguatan pemahaman keagamaan, mengamalkan ajaran Islam otentik dan terus mensosialisasikannya kepada masyarakat, Islam merupakan aturan tentang kehidupan yang sempurna dan dapat beradaptasi dengan setiap bangsa, negara dan setiap waktu, wahyu Allah bersifat universal mencakup seluruh aktivitas hidup manusia. Ajaran Islam yang diprioritaskan Wahdah Islamiyah pada periode ini mencakup konsep inti atau syariat Islam yang utama seperti syahadat, shalat, puasa, shaum, zakat dan haji. Tekanan pada monoteisme dan tidak ada politeisme menjadi cirri dasar gerakan Islam Indonesia, itulah syhadat. Dalam hubungannya dengan Allah, setiap muslim diberi kesempatan yang sama untuk berdialog secara langsung, itulah shalat. Dalam rangka memupuk solidaritas, kohesi dan harmonis sosial, Islam menganjurkan untuk berpuasa sebagai ekspresi kepedulian. Sementara untuk bertindak langsung dalam kebaikan kolektif dengan membantu fakir, miskin, dan orang-orang tidak mampu, Islam memerintahkan untuk berpuasa. Sedangkan ibadah haji menegaskan ekspresi seorang Muslim secara simbolik dengan aksi-aksi konkret baik secara individu maupun sosial (Kazuo Simogaki, 2004). Setelah mengalami proses sosio politik yang relatif lama, disertai dengan meningkatnya jumlah pengikut gerakan ini dan didukung oleh infranstruktur organisasi yang mulai tertata dengan baik, orientasi gerakan Wahdah Islamiyah pasca mengalami perkembangan (antara 1995-2002) tidak lagi semata-mata berkaitan dengan masalah-masalah akidah dan ibadah dalam arti yang sempit, tetapi berusaha menerjemahkan ajaran Islam dalam konteks kehidupan kemanusiaan dengan mengembang misi sosial dan dakwah. Misi ini diorientasikan untuk meningkatkan tingkat kesadaran keagamaan umat Islam dan juga tingkat kesejahteraannya. Pemaknaan terhadap misi Islam yang esensial sebagai misi kemanusiaan merupakan bentuk pemaknaan yang bersifat substansi dari ajaran Islam. Dalam sejumlah doktrin Islam dapat ditemukan betapa agama ini memberikan perhatian yang tinggi terhadap nilai kemanusiaan. Dalam surat al-Ma’un (ayat 1-3) misalnya Allah berfirman “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim; dan tidak mendorong memberi makan orang miskin”. Ayat ini memberitakan kepada orang-orang yang beriman bahwa memperhatikan anak yatim piatu dan orang-orang miskin sangat penting, tidak hanya sebagai misi sosial Islam yang agung, tetapi juga sebagai misi kemanusiaan, inilah misi profetik Nabi. Menerjemahkan kembali sejumlah doktrin kemanusiaan Islam akan memberi arah baru orientasi gerakan-gerakan Islam agar mengembang misi transformasi dan misi emansipasi, bahkan Hasan Hanafi untuk mengoreksi kecendrungan kekuasaan yang elitis dan kritiknya terhadap masyarakat kapitalis menyebut dengan istilah Islam kiri yang diartikan sebagai upaya untuk mengoreksi dan mengkritik kemapanan politik dan agama. Islam kiri lahir dari kesadaran penuh atas posisi tertindas kaum Muslim, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap seluruh bangunan pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Istilah kiri Islam bermakna transformasi atau sebagai gagasan alternatif pemikiran bagi perkembangan masyarakat, artinya ajaran Islam harus ditransformasi kepada individu Muslim dan menggugah kesadaran untuk menyongsong kebangkitan Islam. Misi utama Islam adalah kemanusiaan, karena itu Islam harus secara terus menerus menajdi kekuatan yang dapat memotivasi dan menstransformasikan masyarakat dengan berbagai aspeknya. Wahdah Islamiyah sebagai gerakan Islam perlu memberi perhatian pada masalah-masalah sosial ekonomi, tidak hanya semata-mata pada masalah teologi keagamaan, tetapi memperhatikan kualitas hidup masyarakat, pembangunan masyarakat, penyadaran hak-hak politik rakyat, advokasi terhadap berbagai aspek kemanusiaan seperti terlibat dalam membantu korban bencana alam dan sebagainya. Tipologi ini tidak akan berlaku abadi atau mutlak, bahkan sangat mungkin akan ada kejutan-kejutan baru yang dihasilkan dari Muktamar ke-2 Wahdah Islamiyah nanti, sangat mungkin akan lahir kebijakan yang lebih mengembangkan lagi corak pemikiran baru yang dapat mewarnai pemikiran Islam Indonesia. Selama ini, Wahdah hanya dikenal sebagai gerakan amal dan gerakan sosial, belum banyak memberikan kontribusi bagi pengembangan pemikiran Islam Indonesia. Wallahu a’lam bi shawab. Link Opini Penulis : Citizen Reporter Editor : Ridwan Putra

Ibrah dari Kisah Nabi Adam-alaihissalaam-

Oleh: Abu Nabiela eL Medina
Penciptaan Nabi Adam Alaihissalaam Segala yang berlaku di jagad raya ini tidak akan pernah terlepas dari takdir Allah Ta’ala yang menyimpan hikmah yang berharga terutama bagi umat manusia sebagai khalifah dimuka bumi. Allah Ta’ala telah memberikan amanah kekhilafaan kepada manusia dan jauh sebelum nabi Adam alaihissalaam diciptakan Allah telah mengabarkannya kepada para malaikat dalam firmannya; ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (al Baqarah: 30) khilafah adalah amanah yang sangat berat yang harus dijaga oleh Adam alaihissalaam dan anak cucunya kelak. Malaikat tahu bahwa amanah ini amatlah berat dan tentu saja manusia sebagai makhluk yang lemah bisa melanggar amanah ini. Oleh karena itulah, malaikat merasa prihatin dan berkata kepada Allah; mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" (al Baqarah:30) Apa yang menyebabkan malaikat bertanya dengan nada prihatin? Sebagai makhluk yang diciptakan sebelum manusia, malaikat telah melihat kerusakan yang diperbuat oleh kaum jin. Mungkin juga malaikat telah mengetahui bahwa unsur tanah sebagai penyusun manusia lebih dominan pada dirinya sehingga manusia bayak berbuat kezholiman dan kemaksiatan. Ada kemungkinan juga malaikat telah mendapatkan ilham/firasat dari Allah Ta’ala bahwa suatu saat hal yang ditakutkannya itu akan terjadi dan diperbuat oleh manusia sesuai takdir dan kehendak Allah Azza Wajalla. Oleh karena itulah malaikat menanggapi penciptaan Adam dengan pertanyaan yang mengandung keprihatinan dan rasa kasihan kepada manusia bukanlah maksud pertanyaan tersebut sebagai bentuk protes kepada Allah Ta’ala. Allah pun menjawab pertanyaan tersebut dengan firmanNya; Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(al Baqarah:30) Jadi, Pertanyaan malaikat sebenarnya menunjukkan bahwa mereka tahu bahwa diantara anak keturunan Adam, akan ada yang membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Padahal Malaikat adalah makhluk Allah yang senantiasa taat kepadaNya(berbeda dengan manusia). Malaikat tidaklah bermaksud hasad atau merendahkan keturunan Adam. Allah Ta’ala pun menjawab pertanyaan malaikat dengan mengatakan "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(al Baqarah:30). Yaitu, dalam penciptaanku ada hikmah yang tidak kalian ketahui. Allah Azza Wajalla menciptakan Adam sebagaimana diterangkan dalam sebagian hadits diantaranya; hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ary bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;” sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang digenggamnya dari seluruh (jenis)tanah, maka lahirlah keturunan Adam sesuai kadar tanah itu, maka diantara mereka ada yang lahir dengan (kulit)putih, merah dan hitam dan diantara itu(pertengahan), dan yang jelek, bagus, mudah(senang), sedih(susah) dan diantara itu(pertengahan)”. Jadi, Adam alaihissalaam diciptakan dari segenggam tanah, hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firmanNya; dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.(ar Ruum:20) firmanNya; Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.(Ali Imran:59) Nabi Adam –alaihissalaam- adalah manusia pertama. Beliau diciptakan pada hari jumat sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; “hari terbaik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu dia dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula ia dikelurakan darinya” (HR.Muslim) Setelah Allah telah menciptakan Adam dan menyempurnakannya, iblis pun berputar mengelilinginya. Hal ini dikabarkan dalam shshih muslim; setelah Allah menciptakan Adam, Allah meninggalkannya sesuai kehendaknya untuk membiarkannya, maka iblis kemudian mengelilinginya, maka ketika ia melihat Adam sosok yang ajwafa tahulah(iblis) bahwasanya Adam tidak mampu menahan(nafsunya)” Saudaraku, Ini menunjukkan bahwa permusuhan kita dengan Iblis sudah bermula dari diciptakannya Adam. Dan permusuhan ini tidak berhenti dan tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat. Bahkan setiap ada kelahiran anak manusia, setiap itu pulalah syaithan mengumumkan permusuhan dengannya. Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah; “ tidaklah setiap anak dilahirkan kecuali nakhasahu oleh syaithan, fayastahillu dengan keras dari naskhati syaithan, kecuali anaknya Maryam(Isa) dan ibunya”(HR. Muslim) Kelak di akhirat, syaithan akan berkhutbah di dalam neraka. khutbah itu akan menjadikan hati para pelaku maksiat dan orang kafir menjadi penuh dengan kesedihan, penyesalan dan kerugian. Sehingga siksaan mereka pun semakin bertambah. Allah berfirman; dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu". Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.(Ibrahim:22) Sifat Penciptaan Nabi Adam Alaihissalaam Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mengabarkan tentang sifat penciptaan Adam;” Allah Azza Wajalla telah menciptakan Adam dalam bentuknya; tingginya 60 hasta, setelah Allah menciptakannya, Allah berkata; pergilah, lalu ucapkanlah salam kepada kawanan itu(kawanan malaikat yang sedang duduk,pen-) dan dengarkanlah apa yang mereka jawab atas salam itu, karena sesungguhnya itu adalah ucapan tahiyatmu dan tahiyat anak cucumu. Maka Adam pun pergi lalu berkata; Assalaamu Alaikum. Maka para malaikat menjawab; Assalaamu Alaika Warahmatullah. Rasulullah berkata; maka mereka menambahnya(lafadz tahiyat) untuknya; warahmatullah. Rasulullah bersabda; jadi setiap yang masuk surga sesuai dengan bentuk Adam dan tingginya 60 hasta, makhluk senantiasa akan berkurang(tingginya) setelah Adam sampai sekarang(zaman Rasulullah). (Muttafaqun Alaihi) Dalam riwayat yang lain, dari Abu Huraira bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; “ di saat Allah telah menciptakan Adam dan meniupkan Ruh kepadanya, Adam pun bersin dan mengucapkan; Alhamdulillah, ia memuji Allah dengan izin dariNya.lalu berkatalah tuhannya kepadanya; Yarhamukallah wahai Adam,pergilah kepada mereka para malaikat(kepada para malaikat yang sedang duduk)…”(HR. Tirmidzi dan Hakim dengan sanad yang shahih) Peristiwa Yang Terjadi Antara Adam, Malaikat Dan Para Musuhnya Dari Kalangan Jin Sebagaimana yang telah kita jelaskan sebelumnya bahwa Allah Azza Wajalla menciptakan Adam dari segenggam tanah dan dengan meniupkan ruh dariNya kepadanya. Lalu Allah berkata dalam al-Qur’an; Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.(al Hijr:29) Perintah ini Allah tujukan kepada para malaikat yaitu hamba Allah yang mempunyai sifat yang mulia sebagaimana firman Allah; Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(at Tahriim:6) Jadi para malaikat taat kepada perintah tuhannya. Mereka pun sujud untuk Adam sebagai bentuk penghormatan kepadanya. Tak satu pun malaikat yang menyelisihi perintah ini, mereka semua sujud. Oleh karena itulah, Allah Azza Wajalla mengisahkan mereka dalam firmanNya; lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya,(Shaad:73) Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata; dan ini adalah penghargaan yang besar dari Allah Ta’ala kepada Adam, Allah (juga)memberikan nikmat(penghargaan itu) kepada keturunannya dimana Allah mengabarkan bahwa Dialah yang menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Ibnu Katsir-rahimahullah- juga berkata; jadi ini(penghargaan) ada 4 kemuliaan; Allah menciptakannya dengan tanganNya yang Agung, dan meniupkan ruh dariNya kepada Adam, dan Allah menyuruh malaikat sujud kepadanya,dan Allah mengajarkan nama-nama sesuatu(makhluk, pen-) kepada Adam…” Allah Mengajari Adam Kisah ini telah dikabarkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya; dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"(al-Baqarah:31) Ibnu Katsir berkata; posisi ini (pada ayat ini ) disebutkan di dalamnya tentang Adam dan keumuliaannya dibandingkan dengan para malaikat, karena Allah Ta’ala mengajarkannya ilmu yang belum diketahui malaikat….” Mujahid berkata; Allah mengajarinya nama setiap binatang, burung dan segala sesuatu, dan demikianlah pula yang dikatakan oleh beberapa salaf. Para malaikat sujud sebagai ketaatan atas perintah tuhannya, Allah berfirman; dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.(al-Baqarah:34) penolakan iblis untuk sujud disebabkan karena hasad dan kesombongannya atas Adam. Iblis beralasan sebagaimana dikabarkan dalam al-Qur’an; Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah".(alA’raf:12). Jadi, iblis menganggap dirinya lebih mulia dari Adam. Dalam masalah ini, alImam asy Syinqiithy -rahimahullah- dalam tafsirnya berkata: dan kiasan(alasan) iblis ini –semoga Allah melaknatnya- adalah bathil ditinjau dari tiga sebab; Yang pertama; bahwa kiasan itu adalah ungkapan yang salah karena ketidaksesuaiannya dengan nash(dalil) yang jelas sebgaimana yang telah dipaparkan. Yang kedua; bahwa kita tidak menerima (pernyataan) bahwa api lebih baik daripada tanah; bahkan tanahlah yang lebih baik dari api…” Beliau juga berkata; “jika anda ingin mengetahui kadar tanah, maka lihatlah taman yang hijau dan apa yang ada di dalamnya berupa buah-buahan yang enak, dan bunga-bunga yang cantik dan udara yang sejuk, (dari situlah) anda mengetahui bahwa tanah lebih baik dari api”. Saudaraku, dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat membuktikan bahwa api tidaklah lebih baik dari tanah, karena sifat api adalah membakar, merusak dan menghancurkan sesuatu. Berbeda dengan tanah. Ketika Anda menaburkan biji pada tanah, sungguh ia akan memberimu pohon, dahan,buah dan biji. Ia akan memberimu banyak manfaat. Yang ketiga; bahwa seandainya kita menerima dengan cara perdebatan bahwasanya api lebih baik dari tanah; maka sesungguhnya itu bukanlah suatu keharusan bahwa iblis lebih baik dari Adam karena kemuliaan asal(unsur asal) tidaklah mengharuskan yang cabang(unsur turunan) juga mulia. Bahkan bisa jadi yang asal itu tinggi nilainya dan yang cabang(turunan) itu rendah. Sebagaimana perkataan seorang penyair; Dan jika kamu berbangga dengan bapak-bapak(mu) yang memiliki kemuliaan Kami(pun) mengatakan, kamu benar akan tetapi betapa buruk apa yang mereka lahirkan(krturunannya) Apakah iblis berasal dari jin atau malaikat? Mungkin kita menyangka bahwa iblis adalah kalangan malaikat karena mereka iblis hidup bersama para malaikat. Namun pernyataan ini terbantahkan dengan firman Allah; dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil Dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.(al Kahfi:50) dalil ini secara tegas sudah menjelaskan bahwa iblis bukanlah berasal dari malaikat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “malaikat diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari api yang menyala, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan untuk kalian”(HR.Muslim) Iblis menolak untuk sujud kepada Adam, Allah pun berkata kepadanya yang artinya; 12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah". 13. Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang hina". 14. iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". 15. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk mereka yang diberi tangguh." 16. iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,(al A’raaf:12-16) Kemudian iblis meminta kepada Allah untuk ditangguhkan sebagaimana yang Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya; 79. iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan".(Shaad:79) Dan dengan ketetapan Allah Ta’ala, Iblis pun ditangguhkan hukumannya sampai hari kiamat. Allah Ta’ala berkata kepadanya; 80. Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang diberi tangguh, 81. sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)".(Shaad) Berikut hikmah dari penangguhan Allah Ta’ala terhadap Iblis; - Allah Ta’ala memberitahukan kepada Adam dan keturunannya tentang permusuhan mereka dengan Iblis, hal tersebut Allah jelaskan dalam firman-Nya: 117. Maka Kami berkata: "Hai Adam, Sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.(Thahaa) - Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada anak cucu Adam secara umum tentang tipu daya dan permainan iblis beserta tentaranya dari kalangan jin dan manusia; Allah Azza Wajalla berfirman; 27. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga….)al a’raf) Firma-Nya juga; 6. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala(Faathir) - Allah Tabaaraka Wata’ala menjelaskan kepada Adam dan keturunannya bahwa jalan iblis untuk menyesatkan mereka sangatlah banyak, diantaranya dengan memusatkan kerja mereka dengan menjauhkan manusia dari kebenaran; sebagaimana pernyataan tegas dari iblis dalam firman Allah; 16. iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,(al A’raaf) Iblis juga akan menyatakan bahwa mereka akan menyesatkan manusia dari segala penjuru, Allah Ta’ala berfirman; 17. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).(al a’raf) Mereka akan mendatangi manusia untuk menyesatkannya dari jalan Allah pada setiap penjuru dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala; 64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka[861].(al israa) Akan tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman. - Allah Ta’ala juga memberitahukan kepada Adam dan keturunannya bahwasanya iblis tidak akan mampu untuk mengganggu hamba yang ikhlas dalam beriman dan senantiasa taat kepada tuhannya, sebagaimana firman-Nya; 42. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, Yaitu orang-orang yang sesat.(al hijr) Saudaraku, sepatutnyalah seorang mukmin senantiasa memohon perlindungan dan bertawakkal hanya kepada Allah Azaa Wajalla karena dengan jalan itulah Allah akan menjauhkannya dari godaan setan dan iblis –la’natullahi ‘alaihi- Allah Ta’ala berfirman; 200. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan Maka berlindunglah kepada Allah[590]. 201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.(al a’raf) Dalam ayat diatas menjelaskan perisai seorang mukmin dalam melawan tipu daya iblis dan tentaranya. Keluarnya Adam dari surga Saudaraku di jalan Allah, telah kita ketahui bahwa Allah Azza Wajalla telah meankadirkan Adam dan isterinya Hawa tinggal di dalam surga. Hawa adalah isterinya yang diciptakan oleh Allah Azza Wajalla dari tulang rusuk Adam. Keduanya telah dibolehkan menikmati berbagai fasilitas di surga dan buah-buahannya. Namun, Allah Azza Wajalla juga memberikan satu syarat, sebagaimana firman-Nya; 35. Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini[37], yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.(al baqarah:35) [37] Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab Al Quran dan Hadist tidak menerangkannya. ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan. Dari ayat tersebut dapat kita cermati bahwa larangan Allah Azza Wajalla adalah mendekati pohon, namun maksudnya adalah larangan makan dari pohon itu karena dengan mendekati pohon tersebut, tentu akan berpeluang pada memakan buahnya. Jadi, barang siapa yang mendekati daerah larangan, maka besar kemungkinan ia akan masuk ke daerah itu. Yang jauh dari mata akan jauh dari hati, dan jika manusia mendekati perkara haram ia akan terjatuh ke dalamnya seperti seorang penggembala yang menggiring ternaknya di dekat daerah larangan, maka sangat besar kemungkinan ia akan masuk ke daerah larangan. Tinggallah Adam di surga dengan menikmati berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya, kenikmatan yang menyenangkan jiwa dan penglihatan. Beliau berpindah dari pohon surga yang satu ke pohon yang lain dan menjadikannya tempat berteduh, beliau juga memetik bunga-bunga surga, menikmati buah-buahannya, meminum air surga yang tawar. Beliau menikmati semuanya dengan ditemani oleh istrinya. Akan tetapi, iblis sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Adam dalam kesenangan dan kenikmatan itu. Iblis telah mengumandangkan permusuhannya kepada Adam dan anak cucunya. Maka, iblis pun mendatangi Adam untuk membangkitkan nafsu cintanya kepada keabadian, kekuasaan dan kekayaan, Allah Ta’ala berfirman; 120.Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?"(thaha) Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati, pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab Al Quran dan Hadist tidak menerangkannya. ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan. Juga firman-Nya; 20. Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk Menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka Yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".(al A’raf) Jadi, iblis membisikkan kepada keduanya dengan tipu daya bahwa dengan memakan dari pohon terlarang tersebut Adam dan istrinya akan menjadi kekal dan abadi. Namun, iblis tidak berhenti sampai disitu. Bahkan ia melakukan pengelabuan dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang penasehat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala; 21. Dan Dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah Termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",(al A’raf) Qatadah berkata; Iblis bersumpah dengan Allah Ta’ala kepada keduanya hingga iblis menipu mereka berdua, iblis pun berkata; sesungguhnya diciptakan sebelum kalian, dan saya lebih tau daripada kalian maka, ikutilah aku lalu akupun memberi kalian petunjuk. Adam pun memahami bahwa tidak ada makhluk yang berani bersumpah kepada Allah untuk berdusta. Sehingga, tanpa ragu ia pun menuruti rayuan iblis. Akhirnya keduanya makan dari pohon tersebut sehingga Allah menyingkap apa yang tertutup pada keduanya yaitu aurat mereka berdua. Atas kejadian itu, keduanyapun menutup aurat denngan daun surga Allah Azza Wajalla berfirman; 23. Keduanya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi.(al A’raf) Lalu Allah mengampuni dosa keduanya dan menerima taubat keduanya sebagaimana firman-Nya; 37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(al Baqarah:37) Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat. Peristiwa inilah yang menjadi sebab keluarnya Adam dan istrinya dari Surga dan diturunkannya mereka ke bumi. Sementara itu, permusuhan iblis terhadap manusia akan terus berlanjut di bumi. Demikianlah jalan hidup anak cucu Adam yang senantiasa dihiasi oleh suka dan duka, kebenaran dan kebatilan. Turunnya Adam beserta Istrinya ke Bumi adalah dengan mengemban amanah sebagai khalifah yang akan menjaga kemaslahatan. Tugas inilah yang dibebankan oleh Allah kepada umat manusia dari generasi ke generasi.

Sejarah Dakwah Dai untuk Dai

oleh: Abu Nabiela Peradaban tidak akan pernah lepas dari peran taarikh atau Ilmu sejarah, kita dapat merasa bangga dengan Islam dengan mempelajari Ilmu sejarah. Ilmu ini akan selalu hidup seiring dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia. Tentu saja sejarah harus berdasarkan data-data atau referensi yang konkrit dari para ahli sejarah yang amanah dan buku-buku yang terjamin kebenarannya. Sejarah menyimpan banyak hikmah dan pelajaran berharga dari pengalaman dan kejadian masa lalu untuk hidup yang lebih baik di masa yang akan datang secara umum dan secara khusus sejarah islam akan menjelaskan kepada ummat tentang ketetapan dan hokum Allah Azza Wajalla yang berlaku terhadap setiap jiwa dan masyarakat. Nah, dari sekian banyak sejarah yang ada, seorang muslim wajib meluangkan waktu untuk mempelajari perjalanan hidup Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersama para sahabat dan pengikutnya yang setia di atas jalan beliau. Mereka adalah para generasi pelopor yang mengusung dakwah ini. Mereka menjadi panutan ummat dari zaman ke zaman. Allah Ta’ala berfirman; mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.(al An’am:90) Sejarah dakwah nabi dan rasul akan menjadi bekal bagi para da’I dalam menghadapi medan dakwah baik dari segi akhlak maupun metode berdakwah dalam masyarakat. Metode dakwah mereka takkan pernah bisa digantikan oleh metode lain yang dibangun diatas hawa nafsu. Ingat! Merekalah rujukan utama kita dalam berdakwah. Ilmu sejarah dapat memberikan gambaran tentang kerakteristik kekufuran dan keimanan dalam jiwa manusia, memaparkan berbagai contoh yang dapat mempengaruhi hati setiap hamba untuk condong kepada keimanan maupun kekufuran. Namun, kita patut mensyukuri dakwah para nabi dan rasul yang membawa satu risalah dan satu aqidah yang lurus. Dakwah yang senantiasa mengajak pada keimanan. Allah Ta’ala berfirman tentang dakwah mereka; Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).(al ‘Araaf:59) Kisah-kisah mereka terjaga kebenarannya di dalam alqur’an dan al hadits yang shahih sehingga tak diragukan lagi kebenarannya, mereka menjadi acuan dalam berdakwah untuk seluruh manusia di penjuru alam. Sejarah dakwah tentu saja tidak terlepas dari kisah nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sumber utamanya adalah al-Qur’an al kariim. Jadi, semua kitab terdahulu harus sesuai dengan kabar dalam al-Qur’an dan tidak boleh bertentangan. Jika terjadi pertentangan atau ketidaksesuaian antara al-Qur’an dengan kitab para umat terdahulu yang notabene selama ini telah mereka ubah, koreksi dan telah mereka ganti, maka al-Qur’an lebih kita utamakan. Perbedaan mendasar dari sejarah dakwah kenabian ini adalah semua informasinya benar. Allah Ta’ala berfirman; Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.(al Kahfi:13) Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun de- ngan benar untuk orang-orang yang beriman. (al qashas:3) Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".(al maidah:27) Sejarah ini juga erat kaitannya dengan wahyu yang diturunkan kepada rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tidak seorang pun yang bisa menggambarkannya karena posisinya yang bersifat ghaib sehingga sekiranya tidak ada al-Qur’an, maka sungguh sejarah ini akan hilang bersama manfaatnya yang banyak itu. Allah Ta’ala berfirman; Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan Sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan) nya adalah Termasuk orang-orang yang belum mengetahui.(Yusuf:3) Juga firmanNya; yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.(Ali Imran:44) Kisah nabi dan rasul tentu saja tidak bisa kita samakan dengan cerita-cerita fiktif atau bayolan yang tidak mendidik. Kisah nabi dan rasul mengajak kita untuk menjadi hamba yang mulia jauh dari kehinaan. Bagaimana tidak, dakwah mereka adalah dakwah tauhid yang murni, mengajak hamba untuk taat kepada Allah sampai akhir hayatnya, menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Kalau kita menyelami dakwah Islam secara khusus yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tentu saja akan melahirkan decak kagum. Sebagai agama yang terakhir tentu saja Islam menjadi penyempurna dakwah para dai dan rasul terdahulu. Oleh karena itu, kita sering mendapati syariat terdahulu yang sesuai dengan syariat Islam masih didakwahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau tidak melarangnya. Terkadang beliau juga menceritakan kisah terdahulu kepada ummatnya supaya mereka dapat memetik pelajaran berharga di dalamnya. Beliau pernah bersabda; “sesungguhnya seorang (ada)laki-laki sebelum kalian yang dipisahkan antara daging dan tulangnya dengan sisir dari besi, (namun)tidaklah menggoyahkannya dari agama Allah Ta’ala”. Kita juga mendapati dakwah Islam adalah dakwah universal tak terkhusus untuk orang arab saja. Dakwah islam berlaku di setiap tempat dan zaman hingga hari kiamat kelak. Sejarah mencatat bahwa kota makkah dan madinah adalah tempat berkumpulnya berbagai kabilah dan agama seperti yahudi, nashrany, majusy, para penyembah bintang dan patung dan berbagai lapisan dan strata social dalam masyarakat, hingga datanglah Islam menyeru mereka untuk beralih kepada aqidah yang benar yaitu mengesakan Allah Ta’ala serta meninggalkan permusuhan antara suku, agama maupun bangsa. Islam berhasil mempersatukan mereka. Subahanallah! Kenapa kita mesti mengetahui kehidupan dakwah para nabi? Sebab pertama; karena Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengikuti jejak kehidupan mereka dalam ketaatan kepada Allah. firmanNya dan Itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) Yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh. dan Ismail, Alyasa', Yunus dan Luth. masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya), dan Kami lebihkan (pula) derajat sebahagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. mereka Itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, hikmat dan kenabian jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Maka Sesungguhnya Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang sekali-kali tidak akan mengingkarinya. mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. (al An’am:83-90) Allah Ta’ala juga telah memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya meminta petunjuk ke jalan yang benar dalam surah alfatihah yang selalu kita baca dalam shalat Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (al Fatihah:6-7) mereka yang diberi nikmat oleh Allah dalam ayat ini adalah para nabi dan orang-orang yang mentaatinya dari kalangan para syuhada dan shiddiiqin. Sebab kedua: Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk mereka karena kisah hidup mereka penuh dengan pesan dan ibrah yang bermanfaat. Baik itu dalam perkara keimanan mereka yang tulus kepada Allah, akhlak yang mulia, metode dakwah dan kesabaran dalam berdakwah. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah-; dan pada kisah-kisah masalah ini(para nabi dan rasul) merupakan ibrah(pelajaran) bagi orang-orang yang beriman, karena sessungguhnya mereka(orang-orang beriman) mesti diuji dengan yang lebih (ujian) yang lebih banyak dari yang demikian itu, dan janganlah mereka berputus asa jika mereka diuji dengan yang demikian itu, dan (hendaklah)mereka tahu bahwa telah diuji dengannya orang yang lebih baik(para nabi dan rasul) dari mereka, dan dampaknya adalah kepada kebaikan, maka hendaklah orang yang ragu menjadi yakin, dan orang yang berdosa bertaubat, dan keimanan orang mukmin menjadi kuat, maka dengannyalah perlunya mengikuti jejak para nabi….” Oleh karena itu, ketika anda mencermati kehidupan para nabi dan rasul Allah, anda akan tahu bahwa kehidupan mereka adalah kehidupan orang-orang terpilih dan sesungguhnya mereka telah terjaga dari penyimpangan akidah dan penyimpangan risalah yang mereka sampaikan. Allah Ta’ala berfirman;”dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih” (Maryam:58) Sebab keempat; untuk mengetahui ketetapan Allah untuk mengadakan perbaikan di muka bumi ini dan mengetahui sebab-sebab berjayanya dien ini. Semuanya itu menjadi bekal bagi calon dai dalam perjalanannya membela kebenaran dan membasmi kebatilan. Dimana para nabi dan rasul terkadang menggunakan hujjah atau penjelasan dan terkadang pula mereka harus menggunakan kekuatan dengan mengangkat senjata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala; mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.(al Baqarah:251) Ujian dan cobaan adalah sunnatullah(ketetapan Allah) Ta’ala terhadap hambaNya yang beriman. Para penentang akan senantiasa menghalangi dakwah ini dengan segala cara, namun Allah senantiasa pula akan menolong hambaNya yang beriman. Jadi, dengan mempelajari perjalanan hidup para nabi -alaihimussholaatu wassalaam- dengan niat tulus dan disertai dengan tekad besar tuk mengikuti jejaknya adalah jalan menuju kepada kemenangan yang telah mereka raih sebelumnya. Maka beruntunglah orang-orang yang mengikuti jejak dakwah mereka. Allah Ta’ala berfirman; dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.(an Nisaa:69-70) sebuah hadits dari Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang hari kiamat, lalu ia berkata; kapan hari kiamat? Rasulullah berkata; “apa yang telah kamu persiapkan untuknya? Ia berkata; tidak ada sesuatu pun kecuali bahwasanya saya mencintai Allah dan rasulNya. Maka Rasulullah bersabda; kamu bersama dengan yang kamu cintai” Anas berkata; sedangkan saya mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Abu Bakr dan Umar, dan saya berharap bisa bersama mereka karena cintaku kepada mereka, walaupun aku belum beramal sebagaimana amalan-amalan mereka.”

Keutamaan Berdakwah

Oleh: Abu Nabiela eL Medina Dakwah di jalan Allah adalah merupakan ibadah yang sangat agung dan menempati posisi yang sangat penting dalam syariat islam. Saking pentingnya, Allah menjadikannya sebagai tugas utama para nabi dan rasul. Selain itu dakwah ini akan tetap hidup oleh para wali-wali Allah yang senantiasa memperjuangkan Islam sampai akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman; Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".(yusuf:108) firmanNya pula "dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi."(al ahzaab:46) Dakwah adalah sebaik-baik perkataan juga sebaik-baik amalan, Allah Ta’ala berfirman; siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat:33) Saudaraku, Siapakah hamba yang paling mulia setelah para nabi dan rasul? Siapa lagi kalau bukan para da’I. merekalah yang menempati posisi mereka saat ini dengan berdakwah dan mengajak manusia ke jalan yang benar. Merekalah yang memberikan kabar gembira dan peringatan. Dengannya agama ini kembali pada kejayaan dan kemuliaannya setelah selama ini mengalami kemunduran akibat ummat yang menjauh dan tenggelam dalam kemaksiatan. Mereka jugalah yang menghidupkan sunnah yang terabaikan. Mereka berdakwah dalam naungan al-qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘ALaihi Wasallam. Mereka adalah para da’I yang sangat langka zaman ini. Ibnul Qoyyim-rahimahullah pernah berkata;” sesungguhnya kedudukan makhluk yang paling mulia di sisi Allah adalah kedudukan (pembawa)risalah dan kenabian, maka Allah memilih seorang rasul diantara para malaikat dan diantara manusia, bagaimana(pembawa risalah) tidak menjadi makhluk yang paling mulia di sisi Allah yang telah menjadikannya perantara antaraNya dan hamba-hambanNya dalam menyampaikan risalah-risalahNya dan memberitahukan nama-namaNya, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya serta hukum-hukumNya. Dan menjadikan martabat manusia yang paling mulia setelah mereka (yaitu) martabat pemerintahan(di muka bumi) dan perwakilan(pemegang amanah) pada ummat mereka dimana mereka(para dai) memerintah ummat di atas metode dan jalan mereka(para nabi dan rasul) dalam menasehati ummat, memberi petunjuk bagi yang tersesat, mengajar yang bodoh, menolong yang terzholimi, menindak orang yang berbuat zholim, memerintahkan kepada yang ma’ruf serta mengerjakan yang ma’ruf), melarang kepada yang mungkar serta meninggalkannya(yang mungkar), berdakwah di jalan Allah dengan hikmah kepada orang-orang yang menerimanya, dan nasehat yang baik bagi orang-orang mukmin yang lalai, dan membantah para penentang yang membangkang dengan cara yang baik…” Ketahuilah sobat, mempelajari dakwah dan memilih profesi sebagai da’I adalah pilihan yang tepat dan aktivitas utama yang perlu kita geluti dan sibuk di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman; Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(al Mujaadilah:11) dari ayat ini kita dapat pahami bahwa orang yang mempelajari ilmu dakwah, mengamalkan dan menyibukkan diri di dalamnya merupakan aktivitas yang lebih baik dari orang yang lansung berdakwah tanpa mempelajari dan memahaminya terlebih dahulu. Keutamaan dakwah secara garis besar adalah; sebagai tonggak berdirinya Islam, sebab dengan dakwah inilah syariat islam bisa diterapkan. mewujudkan masyarakat islam yang tangguh sebab dakwah ini akan menyebarkan ilmu yang bersumber dari al-qur’an dan hadits sehingga ummat akan menghidupkan sunnah nabi, mereka akan terhindar dari jurang kehinaan dengan hidupnya semangat jihad dalam hati mereka. Dari sinilah ummat islam akan memperoleh dua kekuatan penting yaitu kekuatan lahir dan batin untuk memperoleh kejayaan yang dinanti. menjaga eksistensi dakwah itu sendiri dimana dakwah ini akan terus hidup karena dakwah dari zaman ke zaman akan memberikan banyak pengetahuan bagi para da’I tentang keadaan ummat sehingga mereka dapat menyesuaikan diri dan mengambil metode dakwah yang tepat sasaran. Dengan demikian dakwah yang tepat akan menjadi tameng bagi dakwah di masa depan dari kemunduran ummat dan gangguan musuh. memperkenalkan islam sebagai agama yang sempurna kepada masyarakat, dimana islam adalah agama yang mengatur semua sendi kehidupan seperti aqidah, syari’ah juga politik dalam pemerintahan. Eitt…Jangan salah niat saudaraku, para dai haruslah mengetahui hakikat dari dakwah ini yaitu untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Jadi hendaklah setiap dai mengikhlaskan hatinya dalam menempuh tugas mulia ini. Karena dakwah yang ikhlas akan mengantarkan kita kepada pertolongan Allah Ta’ala sebagaimana firmanNya; dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang Rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.(ar Ruum:47) Selain itu dakwah ini harus sesuai dengan contoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sehingga dakwah yang ikhlas kepada Allah semata dan sesuai sunnah RasulNya akan membawa ummat Islam kepada kemenangan dan pertolongan Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya; (ar Ruum:47)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan