Tampilkan postingan dengan label buletin sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buletin sekolah. Tampilkan semua postingan

Islam Pilihan Hidup Gue

Hari gini kalau ngomongin soal remaja gaul pasti nggak jauh dari sosok cewek-cowok yang fashionable alias mereka yang selalu update penampilan sesuai tren; rambut bonding atau ala harajuku, di-highlight warna-warni, baju harus minimal distro atau FO (factory outlet). Parfum dengan segala jenisnya juga nggak ketinggalan dimasukkin ke dalam daftar belanja bulanan. Plus, supaya nggak dinilai mati gaya, handphone kudu yang 3,5G atau minimal yang GPRS connected supaya internet tetap online dan acara chatting jalan terus. Supaya nggak dianggap makhluk purbakala, info musik, film, olahraga, en fashion kudu jadi santapan harian. Eh, ada yang protes nih kayaknya. Gue nggak segitu-gitunya deh ya. Gaul emang kudu. Remaja gitu loh. Tapi, nggak harus juga kayak gitu. Belajar yang bener en jadi orang pinter itu yang harusnya jadi tujuan! Soal baju sih yang penting enak dipake dan nggak telanjang. HP jadul bekas lengseran bokap atau nyokap? Nggak apa-apa. Yang penting kan masih bisa buat nelpon dan sms-an. Iya, ada juga kok emang remaja yang rajin belajar, hemat, baik hati, en nggak sombong lagi. Swit..swiw… Kalau ditanya siapa remaja yang paling gaul, pasti deh pada berebut unjuk diri dengan ngeluarin semua bukti. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan dan rajin belajar, yakin deh banyak yang nggak mau ketinggalan. Kalau perlu nih, pada bawa rapor untuk diperlihatkan. Kalau ditanya siapa remaja peduli masa depan plus gaul, wah ini sih pasti lebih banyak lagi yang mengaku tanpa terpaksa. Entah yang beneran sesuai realita? atau cuma ngaku-ngaku biar dianggap hebat. Tapi, kalau ditanya siapa remaja yang relijius? Hmm… kira-kira pada berebut tunjuk tangan juga nggak ya? Kayaknya nggak tuh. Kebanyakan pada mundur. Remaja relijus? Wuih! Berat, bro. Agama gue emang Islam, tapi ya gitu deh Udah jadi hal yang umum banget para remaja lebih familiar sama urusan penyanyi papan atas, band-band ngetop, aksesoris branded. Fakta yang jamak juga remaja lebih ngerasa cool kalo ngedugem daripada ngaji. Hang out bareng temen ke kafe atau nikmatin nomat jadi hal yang kudu ada dalam agenda week end. Padahal sebagian besar remaja tersebut adalah muslim. So what gitu loh? Agama kita emang Islam, tapi bukan berarti kita harus ketinggalan jaman kan? Kayak gitu tuh respon yang biasanya muncul kalau soal agama diungkit-ungkit ke mereka. Ngomongin Islam dalam beraktivitas keseharian kayaknya yang gimana gitu. Kayak yang ogah banget. Udah deh nggak usah bawa-bawa agama kalo ngomongin soal fashion. Please deh nggak usah bawa-bawa Islam kalo ngomongin pacaran. Aduuuh, gue tuh cuma pengen cari hiburan, kenapa juga harus cari tahu dulu aturan Islam? Brotha, Sista, Islam diturunkan Allah Ta’ala. melalui Muhammad Rasulullah saw. sebagai aturan yang komplit dalam hidup dan berkehidupan. Sebagai aturan yang komplit, Islam ngatur semua urusan hidup. Urusan makan, minum, sikap ke ortu, menuntut ilmu, bergaul, nonton, denger musik, soal lingkungan hidup, kebersihan, cara ngedapetin harta, gimana ngeluarin harta, gimana hidup sehat, sampe urusan pertahanan-keamanan negara sampe politik ada semuanya dalam Islam. Dan juga, Islam sebagai aturan hidup pastinya nggak pernah bakal ketinggalan jaman. Never ever! Hidup manusia pasti harus maju dan berkembang. Masa’ iya kalo dulu jaman nenek moyang kirim berita pake jasa merpati, sekarang tetep begitu. Kan nggak. Hari gini, jaman facebook eksis gitu lho. Kalau dua ratus tahun yang lalu kemana-mana pake onta atau kuda, masa’ iya hari gini masih naik begituan. Nggak lah, kan udah jaman motor matic, mobil matic, bis dengan bahan bakar gas nih! Islam paham banget manusia dengan akal yang dikasih Allah Ta’ala pasti bisa bikin banyak teknologi yang memudahkan, makanya Islam nggak pernah ngekang manusia untuk terus berinovasi. Tapi, Islam juga punya aturan yang jelas gimana kemajuan teknologi nggak bikin manusia lupa diri. Nggak kayak sekarang, atas nama pembangunan berapa juta hektar hutan yang dikorbankan. Atas nama meraih identitas sebagai manusia modern jadi tega ngorbanin manusia lainnya. Sebagian kecil hidup dalam gelimang harta, sebagian besar lainnya dibiarkan hidup terlunta-lunta. Itu fakta yang terjadi saat ini, dan fenomena kayak gitu sama sekali bukan fenomena kehidupan manusia modern. Mana ada manusia modern nggak punya hati ngeliat manusia kanan-kirinya mati? Islam bikin hidup sukses, maju, sekaligus mulia dunia en akhirat, Bro,Sis! Setiap manusia yang lahir sejatinya adalah muslim. Ketika ruh ditiupkan saat kita berusia empat bulan dalam kandungan ibu-ibu kita, kita berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala. Ikrar yang nggak sembarang ikrar! Ikrar itu sumpah kita! Kalo kita udah bersumpah bahwa nggak ada Tuhan selain Allah Ta’ala, artinya nggak ada zat lain, nggak ada sesuatu yang lain yang seharusnya kita sembah, kita turuti segala perintah dan larangan selain Allah subhanahu wa ta’ala. Kita juga sebagai muslim pastinya bersyahadah bahwa Muhammad utusan Allah Ta’ala. Artinya, nggak ada manusia lain, satupun, di muka bumi ini, yang kita ikutin perkataannya, perbuatannya, dan diamnya, selain Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi remaja yang relijius, berarti remaja yang berusaha semampu mungkin untuk ngejalanin apa yang Islam perintahkan dan ngejauhin apa yang Islam larang, berdasarkan kesadaran syahadah kita pastinya. Nah, kalo menjadi sosok relijius emang konsekuensi dari syahadah, kenapa juga kita jadi minder? Kan, itu emang seharusnya. Malah kita harus berusaha keras supaya bisa mencapai level relijius itu. Tapi, bukan berarti kita juga harus sok koar-koar relijius ya. Itu sih sombong. Orang sombong nggak sesuai dengan ajaran Islam. En, berarti menodai makna relijius yang sebenarnya. Cuma untuk Islam Islam yang jadi jalan hidup jangan sampai deh cuma dipake kalau pas waktu tertentu aja. Pas Ramadhan aja pada rame tadarusan. Atau pas pesantren kilat, baru deh pada? rame pake jilbab. Ngejalanin Islam emang kudu harian. Tapi… gue nggak mau dibilang radikalis, fundamentalis, atau bahkan teroris. Siapa yang bilang kalau seorang muslim ingin menjadi sebenar-benarnya muslim terus jadi teroris? Ngebela diri dan agama yang dilecehin seperti yang dilakukan saudara-saudara kita di Palestina dan Irak masa’ dibilang teroris? Terus, kalau tentara Amerika dan Israel ngebantai saudara-saudara kita di sana kok nggak dibilang teroris gitu? Terus, istilah fundamentalis en radikalis sering dikaitin sama kekerasan. Kamus bahasa Indonesia juga memasukkan kata kekerasan untuk dikaitkan dengan radikalis dan fundamentalis. Padahal nih kalo kita mau liat-liat di kamus English to English (karena kan kata radikalis dan fundamentalis dari bahasa Inggris, jadi afdolnya kita kudu liat kamus dari bahasa yang sama), fundamentalis berasal dari kata fundamental yang artinya aturan, prinsip dasar. Nah, fundamentalis berarti orang yang menerapkan aturan dan prinsip dasar. Gimana dengan radikal? Radikal artinya dasar, perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Orang yang radikal berarti orang yang melakukan perubahan yang mendasar dan menyeluruh. Nah, apa salahnya coba dengan kata fundametalis dan radikal? Sebagai muslim, emang udah jadi keharusan kan untuk menerapkan aturan atau prinsip dalam Islam. Sebagai muslim kita juga kudu ngelakuin perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap kehidupan saat ini yang sangat tidak adil dan jauh dari sejahtera, supaya bisa menjadi adil dan sejahtera. Kalo ada cap orang yang fundamentalis dan radikal itu suka melakukan kekerasan, itu sih black campaign alias propapaganda negatif. Karena orang yang melakukan perubahan dengan Islam, dia pastinya harus tunduk kepada aturan Islam. Dan, Islam mengajarkan bahwa perubahan itu dilakukan dengan dakwah tanpa kekerasan. Kalo musuh Allah Ta’ala, musuh Islam, kasih label yang aneh-aneh ke kita itu supaya kita jadi ngeri sama Islam, terus jadi ngejauhin diri dari Islam. Kalo udah jauh dari Islam, kita jadi jauh sama tuntuntan hidup sebenarnya, kita jadi cupu, jadi lemah. Kita jadi gampang dipengaruhin sana-sini, “disuntik” pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan maunya penjajah. Kalo pemikiran kita, benar-salah menurut kita sama dengan benar-salah menurut penjajah, kita jadi gampang dijajah. Boro-boro berjuang ngusir penjajah, punya niat ngelawan aja nggak. Apa yang kayak gitu yang kita mau? Nggak lha yauw! Islam seharusnya bikin hidup kita beda! Remaja muslim bukan remaja pasaran. Kemana-mana dia pasti menampilkan pancaran yang khas, yang nggak biasa-biasa aja. Tegas dalam bersikap. Yang menurut Allah Ta’ala. dan Rasul-Nya itu benar (haq) maka akan tetap menjadi kebenaran. Yang menurut Allah dan Rasul-Nya itu salah (bathil), maka selamanya salah. Bukan tipe manusia plin-plan. Bukan manusia yang sukanya ikut-ikutan. Di saat yang sama dia juga tulus dalam berkasih sayang terhadap sesama. Cerdas dalam mencari solusi kehidupan, juga gaul terhadap perkembangan jaman. Pemberi solusi, bukan penyumbang masalah. Pembela kebenaran, pejuang keadilan, bukan tipe penjilat apalagi pengkhianat. Duh, jauh deh ya. Cuma Islam yang bisa bikin remaja begitu. Cuma Islam yang bisa bikin remaja jadi powerful untuk meraih cita-cita. Nggak gampang nyerah sama keadaan. Karena dia sadar kalo cita-cita yang dia perjuangkan adalah cita-cita yang membawa maslahat bagi umat di dunia dan akhirat. Islam wajib diperjuangkan! Ketika seorang muslim sudah menjadikan Islam sebagai pilihan hidupnya, jadi hal yang wajar kalau dia mati-matian memperjuangkan. Seperti para pejuang Islam berikut ini: Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah, membacakan al Quran di dekat Ka’bah di waktu dhuha di hadapan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul. Orang-orang Quraisy berdiri? menghampiri dia, lalu memukulinya. Tetapi Ibnu Mas’ud terus membaca al Quran sampai wajahnya babak-belur. Shafiyyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw, dialah wanita pertama yang membunuh kaum musyrikin. Di pertempuran Uhud, kala kaum muslimin tercerai-berai turun dari bukit tidak mendengar perintah Rasulullah, tinggallah Ali bin Abi Thalib, Umar bi Khatab, Zubair bin Awwam (putra Shafiyyah) , dan Abu Bakar ash-Shidiq. Salah satu gembong kaum kafir, Ubay bin Khalaf mendekat untuk membunuh Rasulullah dengan tombaknya. Namun, Rasulullah mampu merebut tombak itu dan menancapkannya ke tubuh Ubay. Di sisi yang berlainan, Shafiiyah tidak berkedip memperhatikan kondisi kaum muslimin yang mulai terdesak. Semangat juangnya membara dan semakin berkobar melihat pihak kaum muslimin terdesak. Bagai singa betina, dia segera meloncat ke punggung kuda dan menyambar pedang salah seorang muslimin yang sedang berlari. Bagaikan terbang Shafiyyah memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Pedang Shafiyyah berkelebat ke sana-sini mencari sasaran musuh. Tidak sia-sia karena banyak kaum kafir Quraisy yang tewas di tangannya. Itu sedikit contoh para pejuang Islam yang dengan segenap jiwa dan raga membela Islam. Ya iya dong. Kalo Islam udah jadi pilihan hidup, tentunya harus kita bela habis-habisan. Kalo jaman sekarang, kita bisa bela Islam dengan menampilkan sosok muslim sejati di diri kita, dengan kriteria seperti yang udah dijabarin di atas. Belum ngerasa sreg ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup? Bisa jadi karena kita belum kenal Islam secara mendalam. Kalau belum kenal, gimana bisa jadi sayang sama Islam. Kalau nggak sayang, pasti deh nggak bakal ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Nah, supaya bisa sayang, mulai sekarang kenal en gaul deh sering-sering sama Islam. Yang rutin jadwalnya (minimal pantengin terus deh buletin Salsabila: http://wahdahpulauburu.blogspot.com). Usahanya juga harus pol. Insya Allah kita pasti bakal jatuh cinta sama Islam dan akhirnya rela ngejadiin Islam sebagai pilihan hidup. Lagipula milih Islam nggak pernah ada ruginya, bikin kita selamat dunia-akhirat! Mau? Yes! [nafiisah fb: www.nafiisahfb.co.cc] Dengan beberapa perubahan seperlunya dari editor.

Seanggun Wanita Pemalu


Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.
Rasa malu merupakan bagian dari keimanan bahkan dia merupakan salah satu indikator tinggi rendahnya keimanan seorang muslim. Karenanya, manusia yang paling beriman -yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam- adalah manusia yang paling pemalu, bahkan melebihi malunya para wanita yang dalam pingitan.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang sangat pemalu, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, maka kami dapat mengetahuinya di wajah beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 6119 dan Muslim no. 2320)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)

Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Allah itu Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah Ta’ala.
Jadi, sumber sifat malu adalah muraqabatullah(merasa diawasi Allah) sifat itu hadir setika kita merasa di bawah pantauan Allah Ta’ala. Dengan kata lain, ketika kita dalam kondisi ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” begitu jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.

Bro and sis, Ingat! Peliharalah Rasa Malu. Jangan jadi pemalu dalam kebaikan.
Pemalu (khajal) adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang berlebihan. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang muslimah untuk belajar dan mencari ilmu. Contohlah Ummu Sulaim Al-Anshariyah.

Dari Zainab binti Abi Salamah, dari Ummu Salamah Ummu Mukminin berkata, “Suatu ketika Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah, menemui Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu pada kebenaran. Apakah seorang wanita harus mandi bila bermimpi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bila ia melihat air (keluar dari kemaluannya karena mimpi).’” (HR. Bukhari dalam Kitab Ghusl, hadits nomor 273)

Saat ini banyak muslimah yang salah menempatkan rasa malu. Apalagi situasi pergaulan pria-wanita saat ini begitu ikhtilath (campur baur). Ketika ada lelaki yang menyentuh atau mengulurkan tangan mengajak salaman, seorang muslimah dengan ringan menyambutnya. Ketika kita tanya, mereka menjawab, “Saya malu menolaknya.” Bagaimana jika cara bersalamannya dengan bentuk cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri)? “Ya abis gimana lagi. Ntar dibilang gak gaul. Kan tengsin (malu)!”
Bahkan ketika dilecehkan oleh tangan-tangan jahil di kendaraan umum, tidak sedikit muslimah yang diam tak bersuara. Ketika kita tanya kenapa tidak berteriak atau menghardik lelaki jahil itu, jawabnya, sekali lagi, saya malu.

Jelas itu penempatan rasa malu yang salah. Tapi, anehnya tidak sedikit muslimah yang lupa akan rasa malu saat mengenakan rok mini. Betul kepala ditutupi oleh jilbab kecil, tapi busana ketat yang diapai menonjolkan lekak-lekuk tubuh. Betul mereka berpakaian, tapi hakikatnya telanjang. Jika dulu underwear adalah busana sangat pribadi, kini menjadi bagian gaya yang setiap orang bisa lihat tanpa rona merah di pipi.

Begitulah jika urat malu sudah hilang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)
Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah itu.
Pertama, berupa ancaman. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala yang artinya: “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushhdilat: 40).

Kedua, perkataan Nabi itu memberitakan tentang kondisi orang yang tidak punya malu. Mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan.

Ketiga, hadits ini berisi perintah Rasulullah saw. kepada kita untuk bersikap wara’. Jadi, kita menangkap makna yang tersirat bahwa Rasulullah berkata, apa kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!

Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.

Ibnu Katsir berkata, “Pada zaman jahiliyah dahulu, sebagian kaum wanitanya berjalan di tengah kaum lelaki dengan belahan dada tanpa penutup. Dan mungkin saja mereka juga memperlihatkan leher, rambut, dan telinga mereka. Maka Allah memerintahkan wanita muslimah agar menutupi bagian-bagian tersebut.”

Menundukkan pandangan juga bagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan sendu, dan isyarat lainnya yang membuat berjuta rasa di dada seorang lelaki. Setiap wanita memiliki pandangan mata yang setajam anak panah dan setiap lelaki paham akan pesan yang dimaksud oleh pandangan itu. Karena itu, Allah Ta’ala memerintahahkan kepada lelaki dan wanita untuk menundukkan sebagaian pandangan mereka.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, ….. (An Nuur:31)
Wanita pemalu seakan telah menjadi ‘makhluk langka’. Mengentalnya budaya buka aurat di kalangan kaum wanita masa kini yang begitu merebak adalah cermin luruhnya rasa malu. Fenomena ikhtilat(campur baur) yang membuat iman tersayat, budaya pacaran dan pergaulan bebas yang membuat ‘iffah (kesucian diri) terhempas, juga adegan-adegan porno yang dipertontonkan secara sembrono dan sungguh memalukan, merupakan potret buram runtuhnya sifat malu (الْحَيَاءُ) dalam sanubari manusia masa kini. Dan, ini sungguh memilukan hati!!

Allah Ta‘ala berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan ‘pakaian takwa’ itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (Al-A‘raf [7] : 26). Dalam menafsirkan ayat ini, Ma‘bad Al-Juhanniy mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘pakaian takwa’ adalah rasa malu.” Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Malu adalah takwa yang paling ringan. Tidaklah seorang hamba itu takut sampai dia malu. Dan tidaklah orang-orang yang bertakwa itu masuk ke dalam takwa melainkan dari pintu malu.”

Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- pernah bersabda, “Malu dan iman itu adalah dua sejoli. Jika salah satunya dicabut, maka yang satunya pun akan tercabut.” (HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami‘ish Shaghir, hadits no. 3195)

Lalu, komentar apa yang kiranya akan meluncur dari bibir kita, tatkala menyaksikan sebagian saudari-saudari muslimah kita yang sampai saat ini masih suka mengumbar auratnya di depan khalayak? Bagian-bagian tubuh yang indah yang seharusnya dijaga keindahannya dalam balutan busana jilbab itu, tapi malah dipamerkan secara memalukan. Apa pula yang akan kita katakan terhadap kaum wanita yang tanpa malunya menjalin hubungan mesum dengan laki-laki, bahkan itu dipertontonkan secara vulgar? Malu dan iman itu terjalin dalam satu simpul yang erat. Jika salah satunya luruh, maka yang lainnya pun ikut luruh. Sungguh, rasa malu telah hilang dari hati mereka. Dan mereka pun kehilangan iman?

Betapa Anggunnya Wanita Pemalu

Al-Quran telah menampilkan anggunnya akhlak malu yang dimiliki oleh dua puteri Nabi Syu‘aib –alaihissalaam-. Keduanya keluar dari rumah yang mulia, penuh dengan sifat ‘iffah, kesucian, penjagaan, dan didikan yang baik. Allah Ta‘ala berfirman, “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami’…” (Al-Qashash [28] : 25)

Putri Nabi Syu‘aib itu berjalan dengan malu-malu, karena harus berbicara dengan lelaki yang bukan mahram. Malunya seorang anak perempuan yang mulia yang merupakan buah dari tarbiyah(didikan) yang baik. ‘Umar bin Khaththab –Radhiyallahu ‘Anhu- berkata, “Dia bukan wanita yang tak tahu malu yang sering keluar rumah. Dia datang dengan menutup seluruh tubuhnya. Ujung pakaiannya digunakannya untuk menutupi wajahnya karena malu.”

Ummul Mukminin ‘Aisyah a pernah bertutur, “Setelah Rasulullah –Shallallah ‘Alaihi Wasallam- dan ayahku (Abu Bakar –Radhiyallahu ‘Anhu-) dikuburkan, aku masuk ke dalam rumah tempat keduanya dikubur dengan melepaskan kain hijabku. Kukatakan, ‘Bahwasanya ini adalah suamiku dan ayahku.’ Namun, setelah ‘Umar –Radhiyallahu ‘Anhu- dikuburkan, demi Allah, aku tidak pernah masuk ke sana kecuali dengan memakai pakaian lengkap (dengan hijab), karena malu kepada ‘Umar –Radhiyallahu ‘Anhu-.”

Subhanallah. Jika terhadap orang yang sudah berada di perut bumi saja ‘Aisyah merasa malu jika tidak berhijab, lalu bagaimana rasa malu ‘Aisyah jika berhadapan dengan orang-orang yang berada di punggung bumi? Sungguh, keadaan wanita zaman ini berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan komitmen ‘Aisyah saat itu! Terhadap orang-orang di punggung bumi yang masih hidup, mereka beratraksi heboh buka-bukaan aurat dan ogah berjilbab, akankah terbersit rasa malu dalam hati mereka kepada orang-orang yang telah dikubur di perut bumi?

Sungguh, para wanita pengumbar aurat yang kini bertebaran di mana-mana, patut disadarkan jiwanya. Jangan-jangan dia selama ini telah turut andil besar mensupport terjadinya berbagai aksi ‘kejahatan syahwat’ yang kini makin marak terpampang sepanjang hari. Pemerkosaan, prostitusi, incest, video mesum, selingkuh…! Pamer aurat yang mereka banggakan selama ini telah ‘sukses’ membenamkan banyak orang ke dalam dengusan syahwat! Dan, mereka pun jauh-jauh hari telah sukses membantai rasa malu yang seharusnya menghiasi hati para wanita suci. Matinya rasa malu akan disusul dengan sekarat iman yang sungguh mengerikan. Tatkala iman telah ‘sekarat’, jiwa pun akan selalu mendorong untuk berbuat semaunya, termasuk berakrab-akrab dengan syahwat!! Na’udzubillah.

Wanita Beriman, Wanita Pemalu

Wahb bin Munabbih bertutur, “Iman itu telanjang, pakaiannya takwa, perhiasannya malu, dan hartanya adalah ‘iffah (menjaga kehormatan).” Maka, wanita beriman adalah wanita anggun-memesona yang selalu berhiaskan takwa, rasa malu dan ‘iffah dalam hidupnya.

sumber: http://akhialbani.wordpress.com/, http://al-atsariyyah.com/malu-bagian-dari-iman.html, http://www.dakwatuna.com/2008/sifat-malu-kaum-wanita/
Dengan beberapa perubahan seperlunya dari editor.


Cinta Tanpa Koma


gaulislam edisi 121/tahun ke-3 (1 Rabiul Awal 1431 H/15 Februari 2010)
Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.
Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan.
Ramai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan.
Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?
Cinta sejati yang terabai
Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.
Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.
Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.
Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?
Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.
Cinta sejati tak akan pernah menyakiti
Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”
Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)
Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.
Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.
Cinta tanpa koma
Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”
Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta’ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)
Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.
Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.
Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”
Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.
Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti
dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri
kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya
kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga
kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab
dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)
Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.
Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan. [nafiisah: http://nafiisahfb.co.cc]

Moeslimah Idol

Posted in OnlyGirl, Pernik by Farah Zuhra on the January 12th, 2009
Cantik, tubuh proporsional, pintar, gaul dan berperilaku baik. Itulah gambaran cewek ideal yang ada di benak setiap orang. Nggak heran kalo cewek yang memenuhi kriteria kayak gini sontak jadi idola di lingkungannya.
Nggak perlu jauh-jauh ikutan Indonesian Idol, AFI atau KDI, di sekitar kita tanpa kita sadari banyak loh idola-idola yang sering jadi buah bibir. Di sekolah atawa kampus misalnya, pasti ada aja satu-dua temen kita yang kelihatan paling menonjol dan jadi pusat perhatian. Jadilah doi jadi temen favorit yang disukai semua orang.
Bahkan bisa jadi di habitat dakwah kita, ada akhwat-akhwat tertentu yang karena kelebihannya jadi incaran para ikhwan, atau sebaliknya jadi teladan kalangan akhwat. Meski itu nggak diproklamirkan, toh fakta membuktikan akhwat macam gitu sering jadi pusat perhatian. Paling nggak, banyak ikhwan-ikhwan yang ngebet pengin mengkhitbahnya (ups).

Dulu saya punya temen kuliah nama bekennya Epot. Eit…jangan manyun, biar namanya nggak keren, tapi anaknya cakep. Udah bodi semampai, kulit mulus, otaknya juga encer. Cewek asli Tasikmalaya itu tutur bahasanya juga lemah lembut. Pembawaannya juga bersahaja, nggak banyak cing-cong. Jadilah doi banyak disegani cowok-cowok temennya. Mereka pada nggak berani ngegodain, malah pada ngeper.
Temen satu lagi namanya Meme. Cantik juga, tubuhnya mungil dan imut. Yang paling menonjol dari dia adalah: modis abis. Kalo kuliah, mulai ujung rambutnya yang keriting ampe ujung kaki didandani dengan warna senada. Kalo ijo, ijoooo semua…mirip ulat berjalan he..he…
Belum lagi kalo ujan, pake payung berenda-renda kayak cinderela. Wuih, pokoknya nyolok abis. Udah gitu ngomongnya juga heboh. Tapi doi juga baek dan pintar. Sama siapa aja mau gaul dan semua orang suka padanya. Uniknya, doi emoh jadi idola. Buktinya, Meme yang emang hobi nyanyi itu malah nolak ditawarin rekaman, jalan menuju kursi idola. ”Kalo mau jadi idola gampang, gue pernah ditawarin rekaman. Tapi buat apa jadi penyanyi, nggak lah yaw,” katanya.
Lain lagi ama akhwat yang satu ini. Sebut aja Anisa. Dari temen-temen seangkatannya, doi disebut-sebut sebagai the favorite. Soalnya, wajahnya paling manis dan nggak ngebosenin (kata temen-temennya). Dakwahnya? Tentu saja juga oke punya. ”Ah…masak sih. Itu kan kata temen-temen aja, saya sih nggak merasa gitu,” elaknya saat ditanya gimana perasaannya jadi yang “ter” di kalangan akhwat. Emang sih, dia mengakui, kadang ada juga perasaan bangga atau geer. Walaupun begitu dirinya tentu nggak pernah punya rencana untuk jadi idola.
Jaga diri
Sebenernya yang mencap seseorang itu idola justru lingkungan tempat dia berinteraksi. Dirinya sendiri mungkin nggak nyadar kalo selama ini jadi trend setter. Meski begitu ada juga yang sadar betul kalo dirinya jadi pusat perhatian. Misalnya para jebolan Indonesian Idol, AFI atau KDI kali ya. Mereka sih emang bener-bener diorbitkan buat jadi idola. Jadi, mereka diekploitasi banget untuk mendatangkan keuntungan. Tebar pesona sana-sini agar diakui eksistentinya. Padahal, nggak usah tebar pesona kalo yang namanya orang punya ‘kelebihan’ pasti akan kelihatan sendiri. Iya kan?
Makanya, buat kamu-kamu yang selama ini -merasa ataupun nggak-di posisi sebagai cewek idola di tengah-tengah habitatmu, kudu hati-hati membawa diri. Jangan sampai kelebihanmu sebagai cewek favorit malah menjerumuskan. Misal karena TP alias tebar pesona ke sana ke mari malah dianggap murahan. Hasilnya, paling-paling suka diusilin cowok.
Baiknya bersikap tawadhu, meski tetep bergaul ama siapa aja. Jangan sampai pilih-pilih temen yang selevel aja. Misal yang sama-sama cakep atau sama-sama pintar doang. Yang penting jangan sampai keseringan muncul virus geer. Maklum, ini penyakit yang biasa menyerang para idola. Geer alias gede rasa hanya bikin kecewa kalo ternyata apa yang diharapkan nggak tercapai. Apalagi kalo udah urusan ikhwan (suit..suit), bisa makan hati Non!
Moeslimah idol
Menjadi idola di tengah-tengah lingkungan kita tentu hal yang membanggakan. Tapi jangan sampai hal itu memunculkan perasaan sombong alias riya’. Sebaliknya, bagi kamu-kamu yang memiliki kemampuan biasa-biasa aja, jangan rendah diri nggak bisa jadi yang paling favorit. Toh, bisa jadi, seseorang diidolakan di hadapan manusia malah dihinakan di hadapan Allah. Na’udzubillahi min dzalik. Contohnya para ‘pahlawan’ di Turki yang di dunia dipuja-puja (Mustafa Kemal, misalnya), diidolakan dan dikasih penghormatan habis-habisan. Padahal mereka itu justru pengkhianat agama Allah Swt.
Jadi, mending kamu memupuk diri untuk menjadi idola sejati, yaitu menjadi muslimah dambaan Allah Swt. Syaratnya gampang banget, Cuma satu kata: takwa. Nggak perlu syarat macam-macam. Nggak perlu cantik, tinggi badan 170 cm, pintar dan berbudi luhur (Hik..hik…itu kan syarat jadi Putri Indonesia ya). Juga nggak butuh fotokopi KTP, kartu keluarga atawa slip gaji (emang mo kredit motor?).
Yup, untuk menjadi akhwat yang disayangi Allah Swt. kita hanya dituntut untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Nggak hanya dari sisi kuantitas yang kudu banyak, tapi lebih penting lagi kualitas. Nah, kalo berhadapan dengan Allah neh sah-sah aja kalo kita tebar pesona alias cari perhatianNya. Caranya, ya itu tadi banyak-banyaklah beramal saleh.
Iya dong, Allah pasti akan care ama kita yang berusaha mendekatiNya. Allah Swt berfirman (dalam hadis qudsi) yang artinya: “Dan jika hamba-Ku mendekati dengan berjalan, Aku mendekatinya dengan berlari. Jika ia melangkah sedepa, Aku melangkah sehasta.” Oke deh, selamat menjadi muslimah idol! [kholidah]
//BOX
Akhwat idola tetap jaga kehormatan
Siapa coba yang nggak bangga jadi akhwat idola. Udah shalehah, cantik, pintar dan supel. Dijamin pasti jadi incaran para ikhwan. Manusiawi emang. Para akhwat aja kalo liat ikhwan klimis juga membatin, bahkan jadi gunjingan. Iya apa iya? Nah, gimana kalo kamu termasuk akhwat idaman para ikhwan? Ada tips-tips yang kudu kamu perhatikan supaya nggak muncul penyakit hati:
v???? Jangan mudah geer. Yup, gede rasa bikin hati berbunga-bunga dan akhirnya hanya membayangkan yang indah-indah saja. Padahal realita nggak selamanya indah Non. Sadarlah, it is the real world. So, jangan baru dipuji aja udah melayang ke langit ke tujuh.
v???? Jaga pesona, jangan diobral. Yup, jangan mentang-mentang punya modal tampang keren, trus suka cari perhatian ke sana ke mari, padahal nggak ada urusan urgen. Apalagi kalo sering berkelebatan di hadapan para ikhwan. Malu dong. Lagian kasihan mereka Non, jangan bikin hati kebat-kebit. Sebab yang namanya ikhwan juga manusia, punya rasa, punya hati…
v???? Jangan sombong. Jangan mentang-mentang punya wajah di atas rata-rata para akhwat trus bersikap riya’. Yup, hilangkan penyakit hati yang satu ini karena bisa-bisa menggerus amal baik kita. Untuk itu jangan pernah pilih-pilih temen, entar dibilang somse.
v???? Jaga diri. Meski udah nutup aurat dengan sempurna, yang namanya wajah cantik tetep keliatan. Makanya tetep jaga diri jangan sampe jadi korban pelecehan. Tahu kan, cowok iseng nggak pandang bulu, biar udah berkerudung dan berjilbab tetep aja digodain. Nah, jaga diri jangan sampe jadi korban pelecehan.
v???? Jangan sok jual mahal. Biasanya akhwat yang jadi idola suka jual mahal. Apalagi kalo urusan ikhwan. Karena sadar jadi inceran, akhirnya jadi pilih-pilih banget. Kalo ada yang minat mengkhitbah (ehm..), sering nolak karena merasa masih ada ikhwan lain yang lebih cakep. Betul nggak? Jangan gitu-gitu bangetlah, entar bisa jadi boomerang loh. Saking pilih-pilihnya, salah-salah malah dapet yang biasa aja atau malah nggak kebagian (kue kalee…).[kholidah]
[diambil dari Majalah SOBAT Muda, edisi 13/Oktober 2005]

Segeralah Beramal Dalam Detik-DetikYang Tersisa Ini !


buletin dakwah Salsabila, ROHIS SMKN 1 Namlea,
Berbicaralah tentang dunia. Bertanyalah tentangnya. Maka jika engkau dituntun untuk menemukan jawaban yang hakiki, engkau akan dituntun pada satu jawaban. Bahwa ia –dunia itu- hanyalah bayangan yang tidak lama lagi akan hilang. Bahwa ia hanyalah setetes air bila dibandingkan lautan luas tak bertepi. Sebanyak apapun yang engkau rengkuh di sini, di dunia ini, maka ia hanya setetes. Oh, tidak. Bahkan kurang dari setetes. Karena setetes itu adalah untuk dunia seluruhnya, sementara engkau tak memiliki dunia seluruhnya. Hanya sepersekian dunia ini yang sanggup engkau nikmati.

Duhai, betapa celakanya engkau jika kau sangka dunia ini telah menjadi segala-galanya. Tidak, sahabat. Di sini, di tempat bernama dunia ini, tidak ada yang segala-galanya. Hanya manusia yang tak percaya keabadian akhirat yang akan menjadikan dunia ini segala-galanya. Ingatlah, dunia yang kau lihat gemerlap ini hanya bayangan. Hanya setetes air. Hanya beberapa nafas. Hanya beberapa tahun. Dan setelah itu, engkau akan memasuki gerbang keabadian. Di sana, -dengan limpahan RahmatNya padamu- hanya amalanmu yang akan menuntunmu menaiki anak-anak tangga kebahagiaan. Menuju surga, yang kenikmatannya tak pernah disaksikan oleh pandangan mata siapapun, tak pernah didengarkan oleh telinga siapapun jua dan tak pernah terbetik dalam pikiran dan hati makhluq manapun.

Tapi, di sinilah, di tempat bernama dunia inilah engkau menyemainya. Dunia ini adalah ladang akhiratmu. Di sinilah sumber kebahagiaan dan keberuntunganmu di akhirat. Hanya di sini engkau diizinkan olehNya untuk mengumpulkan bekal yang menguntungkanmu di sana. Di sinilah arena dan gelanggang para muttaqin, shiddiqin dan syuhada’ berlomba menuju ampunan Rabb mereka.

Hmm, kalau saja engkau tahu, dunia inilah yang selalu menjadi angan-angan para penduduk Surga dan para penghuni Neraka. Allah Ta’ala mengatakan tentang penghuni Neraka : “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata : “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah engkau –Muhammad- akan melihat suatu peristiwa yang memilukan.” (QS. 6 : 27)

Dalam ayat lain dikatakan : “Dan mereka (para penghuni neraka) itu berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan amal yang shaleh berbeda dengan dahulu telah kami kerjakan.” (QS. 35 : 37)

Angan-angan yang sia-sia belaka…Hari-hari dunia adalah hari-hari ‘amal, bukan perhitungan dan pembalasan. Tapi hari-hari akhirat adalah hari-hari perhitungan dan pembalasan, bukan ‘amal !

Tentang penghuni surga yang mengangankan dunia, ‘Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan : “ Sesungguhnya para syuhada’ itu bagaikan burung-burung hijau yang lepas bebas di surga ke mana saja ia mau. Kemudian ia akan kembali pada pelita-pelita yang bergantungan di ‘arsy. Dan ketika mereka berada dalam keadaan seperti itu, muncullah Rabb mereka di hadapan mereka seraya berkata : “Wahai hamba-hambaKu, mintalah kepadaKu apa saja yang kalian inginkan !”.
Mereka pun berkata : “Wahai Rabb kami ! Kami meminta padaMu agar Engkau mengembalikan ruh kami ke dalam jasad kami, lalu Engkau kembalikan kami ke dunia hingga kami dibunuh sekali lagi di sana (di jalanMu).”
Maka tatkala Allah melihat bahwa mereka tidak meminta selain hal itu, Dia pun meninggalkan mereka.” ( HR. Muslim)

Allah telah mengetahui bahwa mereka, para syuhada’ itu akan meminta untuk dikembalikan sekali lagi ke dunia dan bahwa mereka tidak akan dikembalikan ke dunia. Namun Allah Ta’ala hendak memberitahukan kepada orang-orang mu’min yang masih hidup di dunia bahwa kelak cita-cita mereka di surga adalah mati terbunuh di jalanNya. Ini tidak lain agar mereka semakin terdorong untuk meraih itu.

Sungguh jauh perbedaan antara kedua angan-angan itu. Sama-sama berangan untuk kembali demi melakukan amal shaleh. Namun yang satu karena merasakan dahsyatnya siksa neraka, sementara yang lain karena telah merasakan ni’mat yang tiada bandingnya.

Seorang salaf bernama Ibrahim At Taimy rahimahullah pernah mengatakan : “Aku membayangkan diriku berada di dalam surga, memakan buah-buahnya, memeluk bidadari-bidadarinya yang perawan dan menikmati segala kenikmatannya. Lalu aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Apa sesungguhnya yang engkau angan-angankan saat ini ??”.
Ia menjawab : “Aku mengangankan untuk dikembalikan ke dunia agar aku dapat menambah amal-amal yang menyebabkan aku mendapatkan semua nikmat ini.”
Lalu aku membayangkan diriku di dalam neraka. Dibakar dengan apinya yang menyala-nyala. Dipaksa untuk meminum air hamim-nya yang dipenuhi darah dan nanah. Dan memakan buah zaqqum-nya yang menjijikkan. Maka aku berkata pada diriku sendiri : “Apakah yang engkau inginkan saat ini ??”
Ia menjawab : “Aku ingin dikembalikan ke dunia lagi agar aku dapat mengerjakan amalan yang dapat menyelamatkan aku dari siksaan yang mengerikan ini.”
(Setelah membayangkan itu semua), akupun berkata pada diriku sendiri : “Wahai diriku ! Engkau telah mendapatkan angan-anganmu itu. (Kini engkau masih berada di dunia), maka segeralah beramal !”.

Sahabatku,
Bahkan ada seorang ulama salaf yang pernah menggali lubang kuburan untuk dirinya sendiri. Bila ia mengalami dan merasakan kejemuan dalam beramal, ia pun turun ke dalam lobang itu. Di sana ia menyelonjorkan tubuhnya. Lalu berkata : “Wahai diriku ! Anggaplah sekarang ini engkau telah mati dan telah berada dalam liang lahadmu, apakah yang engkau inginkan ?”.

Maka ia pun menjawab : “Aku ingin dikembalikan lagi ke dunia agar aku dapat beramal shaleh.”
Ia lalu mengatakan kepada dirinya sendiri : “Sekarang engkau telah mendapatkan apa yang engkau inginkan. (Engkau sekarang masih hidup di dunia). Bangunlah dan kerjakanlah amal shaleh itu !”.

Demikianlah sahabat. Jika engkau mengetahui tentang para penghuni kubur itu, engkau akan tahu apa yang selalu mereka angan-angankan. Mereka selalu mengangankan dapat bertasbih persis seperti yang engkau lakukan saat ini, walau hanya sekali saja. Mereka akan iri melihatmu tegak mengerjakan shalat. Duhai, andai kami dapat mengerjakannya walau hanya satu raka’at saja, begitulah kata mereka. Jika dahulu di dunia mereka adalah pemilik kekayaan yang melimpah, maka di sana, di alam kubur itu, mereka berharap dapat bersedekah meski hanya serupiah dua rupiah. Yang penting ada tambahan catatan kebajikan di sisi Allah. Yah, jika engkau berada di tempat itu, seperti itulah angan-anganmu sepanjang waktu.

Ibn Qudamah rahimahullah meriwayatkan dalam Washiyat-nya (hal.13) bahwa suatu ketika ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua raka’at di samping sebuah kuburan. Setelah itu ia bersandar hingga tertidur. Dan di dalam tidurnya ia bermimpi seperti melihat penghuni kubur itu berkata padanya : “Menjauhlah dariku !! Engkau telah menyakitiku. Demi Allah, sungguh dua raka’at yang engkau kerjakan itu jika saja aku yang mengerjakannya, maka ia jauh lebih aku sukai daripada dunia beserta isinya. Sungguh kalian yang masih hidup ini selalu beramal tapi sama sekali tidak mengetahui hakikat kematian ini. Tapi kami, kami telah mengetahuinya namun kami tidak dapat lagi mengerjakan amalan apapun.”

Maka, sahabatku…
Sadarilah bahwa masa hidup kita sungguh terbatas. Nafas kita hanya berbilang. Setiap tarikan dan hembusan nafas tak lebih dari sebuah pertanda bahwa usia kita di dunia telah berkurang. Sungguh sangat singkat usia duniawi kita ini. Karenanya, setiap penggalan bahkan setiap bagian terkecilnya adalah permata yang tak ternilai dan tiada bandingnya. Ingatlah, bahwa dengan kehidupan yang singkat ini akan terjadi sebuah kehidupan yang abadi, abadi dalam kenikmatan atau abadi dalam azab yang penuh pedih-perih.

Bila kita mencoba membandingkan kehidupan ini dengan kehidupan akhirat, akan sadarlah kita bahwa setiap nafas itu berbanding lebih besar daripada beribu-ribu tahun di akhirat ; entah itu dalam kenikmatan yang tak berbatas atau sebaliknya.

Karenanya jangan sia-siakan permata umurmu tanpa melakukan suatu amalan. Jangan engkau biarkan ia pergi tanpa mendapatkan balasan yang setimpal. Bersungguh-sungguhlah agar setiap tarikan nafasmu tak pernah kosong dari keshalehan dan taqarrub padaNya. Sebab jika engkau kehilangan sebutir permata duniamu, betapa sedihnya hatimu…Tapi bagaimana jika yang hilang adalah permata akhiratmu ? Bagaimana mungkin engkau tega menyia-nyiakan dan membuang detik-detikmu begitu saja ? Bagaimana mungkin engkau ‘tenang-tenang’ saja, padahal semakin banyak jejak-jejak usiamu di dunia ini yang terhapus ?

Bayangkanlah jeritan penyesalan para penghuni kubur dan neraka itu. Air mata darah sekalipun tak memberi mereka jalan untuk kembali ke dunia. Sia-sia belaka. Sahabatku, kini, aku dan kau masih di sini. Yah, masih di dunia fana ini. Tempat kita menyemai tanaman akhirat. Maka segeralah beramal ! [Muhammad Ihsan Zainuddin]
























Ikutilah Ta’lim Remaja !
Islamic Sciences
1. Fiqih Ibadah, setiap malam jumat ba’da maghrib
2. Hadits dan Akhlaq Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, setiap malam sabtu ba’da maghrib
3. Tafsir dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah, setiap malam ahad ba’da maghrib

Arabic Course;
1. Setiap malam rabu ba’da maghrib
English Course;
1. Setiap malam selasa ba’da maghrib
2. Setiap malam kamis ba’da maghrib



Tempat Ta’lim : Ma’had Khairul Huda







 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan