Tampilkan postingan dengan label edisi 04 bulan Shafar 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edisi 04 bulan Shafar 2010. Tampilkan semua postingan

Untuk Apa Kita Hidup

Sahabatku di jalan Allah…
Bukalah lembar-lembar sejarah peradaban kita yang penuh cahaya. Di sana ada banyak hikmah yang mengagumkan. Tapi yang terpenting –setidaknya menurut hamba Allah yang lemah ini- adalah kecerdasan mereka menjawab “untuk apa kita hidup?” Perjalanan kita sudah sejauh ini. Mungkin jarak antara kita dengan alam barzakh tidak lagi sejauh jarak yang telah kita tempuh di hari-hari yang lalu. Hm, sudah sejauh ini. Berhentilah sejenak –meski harusnya tidak cukup hanya sejenak-. Tanyakanlah pertanyaan ini pada hatimu saat engkau sendiri, “Untuk apa kita hidup?”
Manusia-manusia agung seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad ibn Hanbal, -dan sebutlah nama-nama lainnya dengan bibirmu-. Menurutmu apa yang melebihkan mereka dari diri kita? Sekali lagi, menurutku karena mereka sangat cerdas menjawab pertanyaan ini dengan amal mereka. Hanya itu.
Sahabatku dalam perjuangan…

Suatu ketika, aku diizinkan oleh Allah untuk menyiapkan penerbitan sebuah buku tentang kehidupan seorang mujahid besar abad ini, Syekh Ahmad Yasin rahimahullah. Terus terang harus kuakui, saat membaca buku itu, aku seperti baru saja mengenal mujahid yang lumpuh itu. Aku malu. Dan itu bukan basa-basi. Aku benar-benar malu pada Syekh itu. Menurutmu, dengan sekujur tubuh yang lumpuh seperti itu, apa yang akan engkau lakukan untuk masa depanmu? (Ingatlah, aku tidak sedang bertanya tentang “apa yang akan engkau lakukan untuk ummat ini dengan kelumpuhan seperti itu?”). Mengucilkan diri. Atau mencoba tersenyum dan mencoba bersabar. Bukankah kita patut malu pada Syekh tua itu? Mengapa kita tidak malu, dengan tubuh yang sedemikian sehat ini saja kita tak pernah benar-benar serius memikirkan masa depan ummat, apalagi dengan segala kelumpuhan fisik.
Hari itu, saat aku usai membaca tentang Syekh Ahmad Yasin, aku mencatat dalam pengantarku untuk buku itu kalimat-kalimat berikut:
“’Hidup ini sesungguhnya untuk apa?’. Itulah pertanyaan yang seharusnya bergelayut dalam pikiran dan benak kita sepanjang hari. Tidak untuk apa-apa, hanya sekedar untuk mengingatkan kita, apakah kelak bila kematian menjemput, ada jejak yang patut kita banggakan di hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil hisab. Bukankah hingga usia kehidupan kita sejauh ini, kita masih selalu saja melupakan hal itu? Kilap kemilau dunia terlalu sering membuat kita lalai menyiapkan “jejak-jejak kebaikan” yang menebarkan semerbak wewangian mengagumkan di dunia dan di akhirat kelak.
Banyak orang yang hidup. Dan sudah banyak pula yang beranjak menjemput kematian. Ke mana mereka semuanya pergi? Entahlah. Banyak yang meninggalkan dunia, dan menyisakan jejak-jejak laknat pada generasi berikutnya. Dalam pentas sejarah, nama-nama seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan Musailamah Al-Kadzdzab, adalah nama-nama yang menebarkan aroma laknat dan kejahatan. Sungguh jauh, ya, sangat jauh dengan aroma rahmat yang ditebarkan oleh Musa, Muhammad, Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar ibn Al-Khathab dan kafilah yang mengikuti mereka.
Banyak orang yang hidup. Fisik mereka sehat dan sempurna. Tapi saat kematian menghampiri, hampir tak satupun jejak-jejak kebaikan yang dapat dikenang dari mereka. Mereka pergi begitu saja dari dunia ini, tanpa ada yang kehilangan. Ada yang menangisi, tapi hanya untuk beberapa saat. Setelah itu, nama dan jejak mereka tak lagi pernah disentuh. Miris. Tentu saja. Tapi mungkin seperti itulah akhir hayat manusia yang tak pernah bertanya dengan jujur, “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”.
Dulu –tapi belum lama-, seorang pria tua dan lumpuh pernah hidup di antara reruntuhan negri dan bangsanya. Bagi manusia berhati lemah, reruntuhan itu mungkin tak akan pernah menyisakan harapan. Tapi tidak bagi “manusia berjiwa langit” ini. Kekuatan hatinya terlalu perkasa untuk dikalahkan oleh kelumpuhan fisiknya. Lihatlah wajah dan senyumnya! Dari situ saja, engkau akan mendapatkan energi kehidupan. Kekuatan dan energi itulah yang membuatnya menjadi manusia paling ditakuti oleh bangsa paling “cerdik” (baca: cerdas tapi licik) di dunia, Israel. Padahal menggerakkan tangannya saja ia tak sanggup, apalagi menarik pelatuk senjata.
Dan hari itu, 22 Maret 2004, di sebuah subuh yang dingin, pria tua dan lumpuh itu meraih impian tertingginya. Ketakutan Israel yang semakin membuncah mendorong mereka untuk menembakkan rudal dari sebuah helikopter Apache buatan Amerika…hanya untuk membunuh seorang kakek yang bahkan untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak sanggup. Subuh yang dingin itu menjadi saksi. Tembok-tembok rumah yang terciprat darah itu pun kelak menjadi saksi, bahwa di tanah itu, seorang “panglima berkursi roda” memenuhi janji Tuhannya.
Ahmad Yasin, nama kakek tua yang lumpuh itu. Ada banyak kata untuknya. Dan buku kecil ini adalah “sedikit kata” tentangnya. Jika hingga detik ini, Anda belum juga menemukan jawaban untuk “Hidup ini sesungguhnya untuk apa?”, bacalah buku ini. Insya Allah, Anda akan mengerti bagaimana seharusnya menjalani hidup, lalu kelak meninggalkan jejak-jejak semerbak di dunia dan di akhirat.” (Pengantar buku Syekh Ahmad Yasin; yang Membangunkan Ummat , hal.ix-xi)
Sahabatku…
Setiap kali aku membaca kalimat-kalimat yang kutulis sendiri itu, setiap kali itu pula aku perasaan malu dalam jiwaku membuncah. Entah apa yang sanggup kita katakan? Tubuh yang sempurna ini, bukankah kelak ia akan ditanya tentang apa yang telah kita perbuat dengannya? Mata yang indah ini, wajah yang sempurna ini, bibir yang cantik ini, kedua tangan yang lengkap ini, kedua kaki yang tegap melangkah ini; Sahabat, tentang semua nikmat ini, bukankah kita akan dihisab?? Tapi sejauh ini, jejak kebaikan apakah yang telah kita tinggalkan melalui setiap anggota tubuh dan panca indera kita yang luar biasa kenikmatannya itu?
Kita seringkali ditanya, dan jawaban kita pun menjadi klise belaka, “Hidup ini untuk beribadah.” Benarkah? Maksudku, benarkah jawaban itu keluar dari hati yang sungguh-sungguh meyakininya? Atau mungkin itu hanya menjadi –seperti biasa- pemanis bibir kita saja, terutama karena orang lain sudah terlanjur menganggap kita manusia shaleh kekasih Tuhan? Ah, sudahlah…Ini semakin membuatku malu. Seorang ulama salaf pernah mengungkapkan pada muriid-muridnya –ia heran mengapa mereka begitu betah duduk bersamanya-, “Seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan aroma yang busuk dari para pelakunya, maka pasti kalian tidak akan berlama-lama duduk di majelisku ini.” Demikian ungkapnya. Lalu kita, ya, kita, sahabat, apa yang akan kita katakan?
Sahabatku…
Maka mulailah menghitung jejak-jejak yang tersisa. Dan jangan pernah bosan untuk bertanya di setiap jejak-jejak itu, “Untuk apa aku hidup? Jejak apakah yang nanti akan tertoreh dalam catatan amalku?” Ingatlah, di kehidupan abadi itu sudah pasti kita tidak akan bersama lagi. Karena aku dan kau, setiap kita hanya akan mempertanggungjawabkan semua secara sendiri-sendiri. Yah, sendiri-sendiri. Tidak ada ayah, ibu, anak, istri, saudara atau sahabat seperjuangan. Hanya aku sendiri. Dan engkau pun sendiri. Sungguh menakutkan. Dan terlalu mencekam.
Cipinang Muara, 19 Rajab 1426H
Muhammad Ihsan Zainuddin
abulmiqdad.blogspot.com



Awas Bukan Mahram

Mahram, kata ini sering keliru diucapkan dengan “muhrim”. Sayangnya, yang lebih akrab dengan lidah kita adalah kata yang terakhir ini. Padahal artinya jauh berbeda. Muhrim adalah orang yang berihram, sedangkan yang dimaksud dengan mahram adalah orang-orang yang haram dinikahi.

Ada beberapa hal yang menjadikan seseorang mahram. Tidak hanya sebatas hubungan darah (baca: nasab), namun masih ada beberapa hal lagi. Seorang muslim perlu tahu akan hal ini, agar tidak terjatuh pada perbuatan dosa.


Pembagian Mahram
Orang-orang yang haram dinikahi ada dua macam, yaitu:

Pertama: Mahram Mu’abbad

Yakni para wanita yang haram dinikahi untuk selama-lamanya. Mereka berjumlah empat belas orang. Tujuh orang diharamkan karena nasab dan tujuh orang diharamkan karena suatu sebab. Hal ini sebagaimana telah disebutkan surah An-Nisa ayat 22-23.dalam firman Allah
”Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Berdasarkan ayat di atas, maka mahram terdiri dari:


Yang diharamkan karena nasab:


1. Ibu, nenek dan seterusnya ke atas, dari pihak bapak maupun pihak ibu.
2. Anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah.
3. Saudara perempuan, baik dari pihak bapak maupun pihak ibu (yang sebapak seibu atau yang sebapak atau seibu).
4. Bibi (dari arah bapak), dan seterusnya ke atas.
5. Bibi (dari arah ibu), dan seterusnya ke atas.
6. Anak perempuan, dari saudara laki-laki ke bawah.
7. Anak perempuan, dari saudara perempuan dari segala arah meskipun ke bawah.


Yang diharamkan karena suatu sebab:


1. Wanita yang telah dili’an (dilaknat). Suami haram menikahi wanita telahyang telah di-li’an-nya untuk selama-lamanya, karena Rasulullah bersabda: “Suami istri yang telah saling melaknat, jika keduanya telah bercerai maka tidak boleh menikah lagi selama-lamanya.” (HR. Imam Abu Dawud).

2. Diharamkan karena susuan sebagaimana diharamkan karena nasab. Maka setiap wanita yang diharamkan karena nasab, mereka juga haram karena susuan. Sebagaimana firman Allah, artinya, ”Ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.” (QS. An-Nisa: 23). Dan sabda Rasulullah: ”Diharamkan karena susuan sebagaimana diharamkan karena nasab.” (Muttafaqun ‘alaih).

3. Haram karena akad yakni istri ayahnya dan istri kakeknya. ”Janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu.” (QS. An-Nisa: 23).

4. Diharamkan istri anak laki-lakinya (menantu) dan seterusnya ke bawah.

5. Diharamkan bagi seorang laki-laki menikahi ibu istrinya(mertua) dan nenek-nenek istrinya karena telah ada akad.

6. Diharamkan pula anak perempuan istri dan anak-anak perempuan dari anak laki-lakinya jika ia telah bercampur dengan istrinya yang merupakan ibu mereka. Jadi dalam hal ini ada syarat jima’ (hubungan suami isteri) dengan istrinya yang merupakan ibu mereka. Hal ini berdasarkan firman Allah: ”Anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.” (QS. An-Nisa: 23).


Kedua: Mahram Muaqqat


Yakni para wanita yang haram dinikahi secara kontemporer atau untuk sementara waktu. Yang demikian ini ada dua macam, yaitu:


Diharamkan karena penggabungannya


1. Haram menggabungkan dua wanita yang bersaudara (sekandung, sebapak, atau sepersusuan) dalam satu ikatan perkawinan. Jika seorang laki-laki menikahi dua orang wanita yang bersaudara sekaligus, secara bersamaan, maka batal akad nikahnya, sedangkan jika tidak bersamaan, maka akad yang kedua batal.

2. Demikian pula diharamkan menggabungkan antara seorang perempuan dengan bibi dari ayahnya maupun dari ibunya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, ”Tidak boleh digabungkan antara seorang perempuan dengan bibinya dari pihak ayahnya dan tidak boleh digabungkan antara seorang perempuan dengan bibi dari ibunya.” Hikmah dari pelarangan ini telah disebutkan sejak 14 abad yang lalu, yaitu akan memutuskan taliRasulullah silaturahim di antara keduanya. Jika seorang wanita diceraikan dan telah habis masa iddahnya, maka saudara perempuan dari wanita itu, bibi dari ayahnya, dan bibi dari ibunya menjadi halal karena telah hilang hal-hal yang dilarang.

3. Tidak boleh mengumpulkan lebih dari empat perempuan dalam satu ikatan perkawinan. Jika terlanjur telah menikah demikian, maka wajib baginya untuk menceraikan sehingga hanya terkumpul empat orang istri saja.

Mereka yang pengharamannya karena penyebab yang bisa hilang (jika sebab itu hilang maka menjadi halal baginya)

1. Saudara perempuan istri (ipar), bibi istri (baik dari jalur ayah atau ibu) hingga istri tersebut dicerai dan masa iddahnya habis atau meninggal dunia.

2. Wanita yang bersuami hingga ia bercerai dengan suaminya, atau menjanda dan masa iddahnya habis.
Wanita yang sedang menjalani masa iddah, baik karena perceraian atau karena suaminya meninggal, hingga masa iddahnya habis.

3. Wanita yang sedang ihram (muhrimah) hingga ia bertahallul dari ihramnya. Demikian pula seorang laki-laki yang sedang ihram tidak boleh melakukan akad nikah dengan wanita yang sedang berihram.

4. Wanita yang telah ditalak tiga, hingga ia menikah dengan suami lain dan berpisah dengannya karena perceraian atau suaminya meninggal dunia.

5. Diharamkan menikahi wanita pezina hingga ia bertaubat dan habis masa iddahnya.

Demikianlah .penjabaran mahram dalam surah An-Nisa dan beberapa hadits Rasulullah Tapi perlu diingat, pembicaraan dalam ayat dan hadits tersebut di atas walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki, tidaklah menunjukkan bahwa di dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahram bagi perempuan. Karena mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) seperti dalam surah An-Nisa itu menjelaskan hal tersebut. Misalnya disebutkan dalam ayat, “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian”, maka mafhum mukhalafahnya adalah: “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.” Misal lain, disebutkan dalam ayat: “Dan anak-anak perempuan kalian.” Maka mafhum mukhalafahnya adalah: “Wahai anak-anak perempuan, diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian.” Dan demikian seterusnya.


AWAS, BUKAN MAHRAM


Selain yang telah disebutkan di atas, maka bukan mahram. Sehingga berlaku semua ketentuan syariat yang berkaitan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Seperti perintah menundukkan pandangan, larangan berkhalwat (berduaan), larangan saling bersentuhan—termasuk berjabat tangan, dan segala bentuk hubungan yang dapat membuka pintu-pintu zina. dalam alBatasan-batasan ini, semuanya telah dijelaskan oleh Allah dalam hadits-hQur’an, dan Rasulullah adits beliau.


Wallahu A’laa wa A’lam
Ayyub Soebandi
al-Fikrah No.09 Tahun X / 24 Rabi’ul Awwal 1430 H)
Maraji’:
Al Mulakhkhash al Fiqhiy karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sumber-sumber bacaan lainnya.



Primbon Itu Warisan Jahiliyah, Lho!

Kamu yang doyan melototin layar kaca, kayaknya pernah deh nemuin iklan kayak gini: “Kamu kan lahirnya Selasa Kliwon. Tak cocok kerja di air. Harusnya berdagang.” Terus nyaranin penonton untuk kirim SMS ke nomor tertentu.
Bro, memang lucu juga ya? Menentukan nasib lewat primbon. Sangat boleh jadi orang yang dalam adegan di iklan sebagai pekerja yang hubungannya dengan air itu justru sukses di tempat yang menurut primbon tidak cocok dengan tanggal lahirnya. Bisa aja pernyataannya jadi begini: “Kamu ini lahirnya Selasa Kliwon. Nggak cocok kerja yang berhubungan dengan air, kecuali jadi direktur PDAM…”
Hehehe…
Ngomongin soal primbon memang lucu abis sekaligus nggak abis pikir. Waktu saya SD juga ada tuh buku tentang primbon, tafsir mimpi di rumah orang tua saya. Tapi sejak kecil saya selalu nggak percaya karena banyak yang bertolak-belakang dengan kenyataan dan suka mengada-ngada. Ngarang, gitu lho.
Misalnya, ada orang yang diramal nasibnya berdasarkan tanggal kelahiran. Ada juga yang diramal rejekinya dengan indikator banyaknya bersin di jam tertentu, ada juga ukuran untuk menentukan jodoh dari tahi lalat dan seabreg tanda lainnya yang aneh-aneh banget yang dihubungkan dengan kepribadian atau nasib seseorang.
Jangan percaya primbon
Untuk memenuhi rasa penasaran manusia dalam hal yang supranatural dan serba ganjil, sering juga diciptakan mitos yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari yang dialami dan ada di sekitar manusia itu sendiri. Lalu dihubung-hubungkan dengan kehidupan yang telah, sedang, atau akan dijalani oleh manusia itu sendiri. Intinya, segala sesuatu yang aneh atau dianggap aneh akan dihubungkan dengan nasib manusia di masa depan.
Meski sering tak masuk akal, banyak di antara kita yang tetep aja percaya atau mungkin ada yang setengah percaya terhadap ramalan tersebut. Maka, jangan heran jika para dukun, tukang ramal, tukang tenung tumbuh subur sesuai kaidah supply and demand. Jika permintaan tinggi maka penawaran juga tinggi, gitu lho. Kalo animo masyarakat kita yang percaya pada ramalan tinggi, maka tukang ramal dan dukun juga banyak. Malah ada yang mungkin saja pura-pura jadi dukun atau tukang ramal.
Itu sebabnya, di masyarakat kita berkembang juga mitos tentang ramalan nasib yang dihubungkan dengan kejadian di sekitarnya atau ada yang memvonis nasib seseorang dari tanda-tanda di tubuh, berdasarkan mimpi, bentuk wajah, garis tangan dan lain sebagainya. Maka, untuk menguatkan argumentasi asal-asalannya dibuat dalam bentuk buku. Sekadar tahu aja, di masyarakat Jawa misalnya, ada kitab yang sangat boleh jadi lebih sering dibaca ketimbang al-Quran, yakni kitab Primbon.
Misalnya aja nih, karakter orang bisa dilihat dari bibir (www.primbon.com pada pembahasan tentang tanda di tubuh). Bila bentuk bibirnya agak lebar, memiliki kepribadian pandai mengatur uang, sabar, dan agak berani. Bila bentuk bibirnya agak kecil, memiliki kepribadian suka berterus terang, berhati kecil dan sering menganggap dirinya tidak bahagia. Bila bentuk bibirnya agak besar dan terbuka (menganga), memiliki kepribadian suka mementingkan diri sendiri namun rela berkorban untuk orang yang disukai. Bila bentuk bibirnya agak tipis, memiliki kepribadian cepat terpengaruh, tidak mempunyai prinsip. Bila bentuk bibirnya agak dower, memiliki kepribadian selalu mementingkan diri sendiri, tidak mau mengalah. Bila bentuk bibirnya agak kecil dan agak sempit, memiliki kepribadian selalu bimbang dan tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.
Apakah benar semua itu? Jawabannya bohong. Kalo pun kemudian ada yang mirip-mirip dengan apa yang ditulis dalam primbon tersebut, itu hanya faktor kebetulan. Karena apa? Sangat boleh jadi orang yang digambarkan dengan memiliki bibir dower justru kepribadiannya malah tidak mementingkan diri sendiri dan mau mengalah (bertolak belakang dengan penetapan yang asal-asalan itu). Iya kan?
Wadooohh.. lagian kalo kepribadian udah di-default kayak gitu di kitab primbon, jadinya nggak bisa ngerubah karakter dong ya? Buat apa ada sekolah kepribadian atau bermunculan trainer motivasi dan juga para ustad untuk memberikan pencerahan dalam kehidupan kalo dari bentuk fisik aja udah ‘divonis’ begini dan begitu dalam menentukan karakter seseorang. Iya nggak sih? Aneh-aneh aja deh ah.
BTW, ada yang lebih konyol tapi lucu di primbon juga dibahas nasib seseorang melalui bersin. Sekadar contoh aja ya. Bersin antara jam 01-02 pagi hari bermakna akan ada kabar yang kurang mengenakkan jiwa dan hati anda yang datangnya dari luar daerah. Bersin antara jam 02-03 pagi hari bermakna akan ada undangan yang datang kepada anda untuk dapat menghadiri suatu perayaan. Bersin antara jam 03-04 pagi hari bermakna akan ada teguran dari pimpinan untuk anda. Bersin antara jam 04-05 pagi hari bermakna akan ada penyambutan dari anda untuk tamu yang datang dari jauh. Bersin antara jam 05-06 pagi hari bermakna akan ada rasa yang sangat menggambarkan kenikmatan dan kebahagiaan kepada anda.
Hmm.. ini satu contoh prediksi tentang nasib yang asal-asalan bin ngawur. Gimana kalo kita sedang flu? Bila seharian kita sering bersin, berarti gimana dong nentuin nasib kitanya? Kayaknya yang bikin primbon juga bingung sendiri deh tuh.
Jangankan bersin, soal mimpi aja dibahas kok dalam primbon atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat saat ini. Misalnya aja kalo kita mimpi menjadi orang kaya, ternyata tafsirnya adalah kebalikannya, yakni kita akan tidak berhasil dalam jangka waktu yang lama. Duilee.. kejam amat ya? Gimana jadinya kalo kita sering mimpi jadi kaya? Berarti selama hidup kita nggak berhasil terus dong? Asal deh!
Ada yang cukup menggelikan yang ditulis dalam website primbon, kalo kita mimpi sedang berolahraga bermakna akan ada kemajuan dalam soal perjuangan (usaha yang anda harapkan akan tergapai). Hehehe.. perlu juga kita bertanya kepada orang-orang yang berhasil dalam hidupnya, pernah nggak tuh mimpi berolahraga? Tapi yang jelas dan pasti, Frank Lampard Cs di klub sepakbola Chelsea terus mengolah tubuhnya dan tekniknya bermain bola bukan di alam mimpi, tapi di dunia nyata supaya bisa berhasil menjadi klub yang kini cukup disegani di Liga Inggris itu. Iya kan?
Bukan warisan Islam
Benar banget. Kitab primbon itu bukan warisan dari ajaran Islam. Bahkan sebaliknya, itu adalah warisan budaya jaman jahiliyah alias jaman kebodohan dan kegelapan.
Bro, kalo kita percaya dengan semua yang diajarkan dalam primbon, ati-ati karena itu bisa menjerumuskan diri kita kepada hal syirik (menyekutukan Allah Swt. alias menduakan). Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik itu adalah dosa besar sebagaimana firmanNya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS Luqman [31]: 13)
Jadi, syirik adalah kezaliman yang paling zalim dan tauhid adalah keadilan yang paling adil. Hal-hal yang bertentangan dengan tauhid adalah dosa paling besar. Dan apa yang paling sesuai dengan prinsip tauhid adalah kewajiban yang paling wajib dan ketaatan yang paling diutamakan. Kesyirikan adalah hal yang paling bertentangan dengan tauhid, maka kesyirikan mutlak merupakan dosa yang paling besar (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Penawar Hati Yang Sakit, hlm. 153)
Bro and Sis, kalo sikap kita kepada ramalan primbon seperti itu juga, berarti kita pun nggak ada bedanya dengan orang-orang yang telah lebih dulu percaya sama dukun alias tukang ramal. Pokoknya nggak usah melibatkan dirimu dalam kancah ramal-meramal; kamu nggak boleh percaya bualan mereka yang membuat ramalan di primbon atau malah mendatangi dukun secara langsung. Hih, amit-amit deh.
Terus terang, bahwa manusia—siapa pun ia—nggak tahu dan nggak bakal dikasih tahu sama Allah tentang masa depan kehidupan dunianya; rizki, bahagia, sengsara, jodoh, usaha, dan juga kematian. Nggak ada yang tahu kecuali Allah. Kenapa? Karena masalah ini termasuk ke dalam ‘wilayah’ ghaib. Firman Allah Swt.:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) “ (QS al-An’am [6]: 59)
Dalam ayat lain diterangkan bahwa Allah tidak akan memberi semacam ‘bocoran’ kepada manusia tentang masa depan kehidupannya, kecuali hanya kepada Rasul yang diridhoiNya. Firman Allah Swt.:
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya." (QS al-Jin [72]: 26-27)
Imam al-Qurthubi menyebutkan—ketika menafsirkan ayat tersebut—bahwa ramalan bintang (termasuk dalam hal ini ramalan di primbon, red.) tak ada faedahnya sama sekali, dan tidak menunjukkan celaka atau bahagia (seseorang). Ramalan tersebut tiada lain adalah penentangan terhadap al-Quran yang agung. Sikap penentangan terhadap al-Quran ini berarti telah menghalalkan darah orang yang melakukan ramalan perbintangan itu.
Tanggung jawab bersama
Betul. Kita berharap banyak ada orang atau pihak yang bisa membela dan menyuarakan Islam dengan benar. Aksinya amat diperlukan dalam kondisi saat ini, lho. Bener. Di tengah gelombang arus informasi yang kian cepat ini, bukan mustahil kalo kita bakalan kebawa arusnya yang deras. Sementara, kita kudu mengakui, nggak semuanya informasi itu membawa berkah. Sebaliknya, justru malah membawa malapetaka. Contohnya soal ramalan zodiak, primbon dan sihir. Bagaimana pun, ide rusak yang dikemas dalam bentuk yang sangat menghibur, bahkan interaktif karena muncul di media massa canggih seperti televisi dan internet, maka bila tak ada langkah pencegahan, jangan salahkan mereka aja bila akhirnya kaum Muslimin jadi berantakan pemikirannya. Sebab, ada yang salah juga dari kita. Yakni, diem aja atau bahkan larut dalam gaya hidup yang diajarkan mereka (musuh-musuh Islam).
Kita, remaja Islam sebenarnya sangat berharap akan ada media Islam yang mampu bersaing dengan media-media lain. Apakah majalah atau tabloid, juga novel, pokoknya bisa tampil memikat, gaul, ngertiin gaya remaja dan tentu saja menampilkan wajah Islam yang ramah. Jangan malah media yang ada menjadi alat propaganda tahayul, tathayyur, sihir, primbon, ramalan bintang dan sejenisnya. Menyedihkan banget.
Lagipula, untuk urusan dakwah bukankah keikhlasan dan keseriusan menjadi prioritas. Sekarang pilih mana; membiarkan terus remaja dan anak-anak kita tenggelam dalam bacaan dan tontonan yang ‘menyesatkan’ atau memberikan bacaan dan tayangan alternatif yang ‘mencerahkan’? Kita pasti tahu jawabannya. Itu sebabnya, ini tugas bersama untuk mengatasi problem ini. Terutama pemerintah yang harus segera memberlakukan aturan dan sanksi bagi para penyebar propaganda kekufuran dan penyebar kesyirikan di tengah-tengah masyarakat.
Namun, kita juga masih sangsi alias ragu kalo pemerintah mau memberlakukan aturan dan sanksi yang tegas. Maklum, pemerintah masih bermesraan dengan kapitalisme-sekularisme yang memang telah memberikan jalan bagi para pemuja kebebasan. Itu sebabnya, hanya dengan Islam yang diterapkan sebagai ideologi negara, berbagai problem kehidupan umat ini bisa diselesaikan. Lagian, di Indonesia kan mayoritas penduduknya Muslim, sekitar 80-an persen. Wajar dong kalo diterapkan syariat Islam. Betul nggak?
Nah, bila kita berkaca kepada ajaran Islam, rasanya kita akan berpikir beribu kali sebelum melibatkan emosi kita dalam dunia klenik (perdukunan alias sihir) juga ramal-meramal semacam primbon dan zoidak tersebut. Kehidupan yang serba tak menentu bagi sebagian masyarakat kita, tidak lantas kemudian jatuh ke dalam pelukan para pembual alias para tukang sihir dan peramal yang mencoba menggoda dengan menawarkan jasanya. Yakinlah, bahwa Allah akan menjamin kehidupan setiap hambaNya selama hamba tersebut percaya bahwa hanya Allah Ta'ala lah yang wajib disembah dan dimintai pertolongan. Kita tak perlu mencoba meramal nasib, atau dengan alasan menjaga diri kemudian kita terjebak dalam dunia klenik tersebut.
Kehidupan sekarang boleh berubah, meski dengan perubahan yang menyebabkan sebagian dari kita bangkrut dalam kehidupan ini. Namun tak berarti bahwa kemudian merasa sah-sah saja ketika harus melibatkan diri dalam dunia klenik alias perdukunan, atau percaya kitab primbon, ramalan bintang, dan mendatangi para tukang ramal nasib. Jangan sampe deh.
Nah, daripada kita terbuai oleh ramalan bintang dan ramalan sejenisnya yang emang cuma bualan dan bikin akidah Islam kita cacat, mendingan energi kita disalurkan buat belajar tentang Islam. Islam sebagai akidah dan syariat. Itu berarti, selain kita telah melaksanakan salah satu kewajiban--yakni mencari ilmu--kita juga bisa lebih pandai dari orang yang nggak belajar. Walhasil, kita bakal tahu, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang untuk dilakukan.
Kita berharap juga kepada pemerintah supaya serius untuk menghentikan program pengrusakan akidah secara massal lewat media massa ini. Dan secara teknis kini kita kudu mulai ninggalin kebiasaan percaya sama ramalan zodiak, primbon, perdukunan dan sejenisnya itu. Bisa dosa lho. Eh, yang pasti emang itu nggak ada gunanya, kok. Oke? [solihin: osolihin@gaulislam.com]Buletin Gaul Islam 07 Oktober 2008 - 08:31 Eh, gaulislam edisi 050/tahun I (6 Syawal 1429 H/6 Oktober 2008)

Kuatkan Iman Bro!


Gue bingung nih, kok di Indonesia kini banyak sekali muncul aliran-aliran sesat dan tumbuh subur pula. Padahal mayoritas penduduknya kan orang Islam. Gue catet nih ya, ada Ahmadiyah, hadir juga Kerajaan Tuhan yang dikembangan Lia Eden, pernah ada Ahmad Mushadeq dan Amaq Bakri yang tiba-tiba ngaku sebagai nabi, ada juga pengajian Ilmu Kalam Santriloka yang bilang nggak perlu shalat dan nggak perlu puasa Ramadhan, plus menyalahkan sebagian isi al-Quran, dan aliran sesat lainnya. Celakannya, mereka juga mengaku bagian dari Islam. Padahal ajaran mereka nggak sesuai dengan ajaran Islam. Wah, gimana nih? Udah pada error kali ye.

Jadi kali ini gue akan membahas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan akidah. Meskipun mungkin bakal kurang nih space yang disediakan buletin kesayangan kamu semua yang makin cool aja untuk membahas tema ini. But, sedikit demi sedikit pasti ada gunanya buat kamu semua. Iya nggak sih?
Akidah Islam
Akidah Islam ialah beriman kepada Allah Swt., Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasuNya, hari kiamat, qadha dan qadar. Oya, yang namanya beriman tuh nggak boleh asal-asalan. Tapi harus berdasarkan dalil yang pasti. Jadi alasan untuk beriman itu nggak bisa sembarangan. Misalnya, elo beriman gara-gara ikut-ikutan seseorang yang bergelar profesor doktor dan serentetan gelar lainnya yang sepanjang gerbong kereta api jabodetabek. Nggak lah. Iman wajib diyakini bener-bener alias elo harus paham kenapa alasannya elo beriman Sebab, iman itu ialah sebuah pembenaran yang pasti, berdasarkan fakta-fakta yang ada, bukan karena taklid buta pada seseorang.
Nah, dalam Islam kita mengenal dua dalil yaitu dalil aqli (akal/yang dapat diindera) dan dalil naqli (sesuatu yang dijelaskan oleh al-Quran dan as-Sunnah). Dalam sarana meraih keimanan, akal mempunyai peranan yang sangat penting. Misalnya dalam memikirkan adanya Dzat Allah sebagai Tuhan semesta alam. Di dalam al-Quran dijelaskan tentang kisah Ibrahim (as) dalam mencari Tuhan. Allah Swt berfirman (yang artinya): “Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: “Inilah Tuhanku”. tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku Termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musryik” (QS al-An’am [6]: 76-79)
Bro en Sis, pencarian keimanan tak lepas dari akal. Sebab akal adalah karunia terbesar bagi manusia dan karena dengan akal juga Allah memerintahkan malaikat bersujud pada Adam. Banyak penekanan yang diberikan al-Quran agar manusia menggunakan akalnya. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Allah menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah) (QS al-Baqarah [2]: 269)
So, dalam Islam fungsi akal amatlah dibutuhkan. Akal tidaklah merongrong iman. Malah akal akan memperkuat dalam pencarian akan iman. Buktinya orang semakin memahami al-Quran semakin kuat pula keimanannya. Banyak bangsa di negara maju tertarik dengan Islam ketika membaca kandungan al-Quran atau malah menjadi muslim karena mencoba mengkritisi al-Quran. Firman Allah Swt. (yang artinya):”Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (QS ar-Ra’d [13]: 19)
Juga dalam firmanNya (yang artinya): “(al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan denganNya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS Ibrahim [14]: 52)
Wuih Bro, kayaknya masih banyak ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia mau berpikir dan menggunakan akalnya untuk beriman kepada Allah Ta’ala. Tapi gue nggak bisa nulisin semua nanti bisa-bisa kepanjangan deh nulisnya. Wacks!
Sobat muda muslim, dalam Islam keimanan haruslah utuh nggak boleh setengah-setengah. Nggak ada tawar-menawar pula. Cuma ada dua pilihan, yaitu iman dan kafir. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)’, serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenarnya. dan Kami sediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 150-151)
So, dalam akidah Islam nggak boleh tuh dikurang-kurangi. Nggak boleh kita cuma iman kepada Allah dan ingkar kepada rasul atau iman kepada Allah Swt. dan rasul tapi mengingkari al-Quran dan syariat yang tertera di dalamnya. Hey, nggak banget deh!
Hmm.. kalo iman elo itu memang bener-bener mantep, elo nggak perlu khawatir lagi deh. Sebab elo udah yakin bahwa sesuatu yang udah ditentukan oleh Allah Ta’ala adalah yang terbaik walaupun elo diancam orang supaya ninggalin keimanan elo. Mushab bin umair pun pernah diancam oleh Usaid bin Khudair dan Sa’ad bin Muadz, dua pemuka bani Abdil Asyhal. Tapi tetap teguh dengan Islam, tuh. Oya, kalo iman elo udah kuat, elo juga nggak akan dengan gampang ninggalin iman yang elo miliki ketika mengalami siksaan. Bilal bin Rabbah pun pernah ngalami siksaan dari kaum Quraisy dengan cara tubuhnya ditindih batu di terik matahari padang pasir. So, tetap istiqamah dan sabar di jalan Allah ya. Semangat!
Yang merongrong iman
Elo lihat sendiri deh, banyak tuh orang yang gaya hidupnya cenderung kebarat-baratan dan nggak selektif. Misalnya gue sering ngeliat anak-anak muda genjrang-genjreng di atas panggung sambil bawain lagu Underoath. Atau asik moshing ketika ngedengerin lagu-lagunya As I Lay Dying dan Demon Hunter yang merupakan gerombolan band Christian Metal yang berasal dari kulon (baca: Barat). So, karena lagi tren tuh lagu ya udah deh mereka happy-happy aja tanpa tahu makna dari lirik-lirik lagunya. Entah karena suara vokalnya yang kurang jelas atau mereka nggak ngerti bahasa Inggris, sehingga mereka nggak merasa risih dengan lagu-lagu kayak gitu.
Lagu-lagu itu sebenarnya kalo diperhatiin lagi ampir mirip sama ceramah pastur di gereja. Kalo gue sih sori-sori aja ngikut-ngikut kayak gitu walaupun gue masih suka maen skateboard (lho, apa hubungannya? Hehe…). Sebab, gue rasa nggak ada yang salah dengan alat olahraga tersebut karena hukum asalnya benda itu kan mubah, kecuali ada dalil syar’i yang mengharamkannya.
Oya, kejadian ini nggak cuma terjadi di kalangan anak muda. “Anak tua” pun sama kayak gitu juga deh. Gue geleng-geleng kepala sambil gantian bergumam: “Dasar anak tua jaman sekarang ada-ada aja!” Misalnya nih, ada shalawat yang dibawain Kiai Kanjeng–yakni kelompok musik yang dipimpin oleh Emha Ainun Nadjib–dengan menggunakan lagu Stile Nacht (malam kudus) yang diiringi instrument ala Franz Xaver Gruber dioplos sama Shalawat Badar terus dinamain Shalawat Universal. Memang, shalawat ada tuntunannya di al-Quran. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab [33]: 56)
Nah, yang jadi masalah adalah kalo dicampur kayak Shalawat Universal, itu nggak boleh. Coz, lagu malam kudus udah khusus produk budaya dari kaum agama lain. Apalagi sampe featuring sama biarawati. Gaswat bener jadinya kan?
Bro, dalam hal beribadah kita kan nggak boleh ikut-ikutan agama lain. Kalo kita baca asbabuun nuzuul alias penyebab turunnya ayat al-Quran—dalam hal ini adalah surat al-Kafirun—ternyata turunnya adalah ketika orang-orang Quraisy meminta Rasulullah saw. untuk mengikuti ibadah mereka, dan mereka pun akan mengikuti ibadah yang diajarkan Rasulullah saw. Tapi Rasulullah saw. menolak permintaan mereka. Jadi dengan dalil apapun shalawat yang dioplos dengan tata cara, instrument nada, dan lirik pemujaan yang sama dengan agama lain itu tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan firman Allah Swt. dalam surat al-Kafiruun tersebut.
Selain itu bukankah agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. itu sudah sempurna? Firman Allah Swt. (yang artinya): “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS al-Maaidah [5]: 3)
Umar bin Khaththab r.a berkata, “Dulu kami adalah kaum yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka setiap kami mengharapkan kemuliaan di luar Islam, Allah menghinakan kami. Karena itu seorang muslim, tidaklah akan mendapatkan kemuliaan bila ia mencarinya di luar Islam. Seorang muslim yang mencari kekuatan di luar Islam, pada hakikatnya ia lemah, meskipun merasa dirinya kuat; ia fakir, meskipun merasa dirinya kaya”.
Jadi nggak ada kemuliaan tuh dalam shalawat yang sejenis itu. Haram dilakukan. Udah jelas kalo yang haq dan yang batil itu terpisah dan tidak bisa dicampur seenaknya walaupun namanya shalawat. Kalo kita ngikut terus kayak gitu dan serba permisif bisa hancur deh keislaman dan keimanan kita. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Kamu akan mengikuti jejak langkah umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikuti mereka”. Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah mereka Yahudi dan Nasrani yang Rasul maksudkan? Nabi saw menjawab, “Siapa lagi”. (HR Muslim)
Bro en Sis, kalo ada yang beralasan bahwa shalawat seperti itu adalah untuk mempromosikan Islam kepada agama lain, itu juga nggak bisa dibenarkan. Sebab, nggak ada tuntunannya dari Allah Swt. dan RasulNya. Toh kiblat kita pun berbeda dengan mereka. Ngapain juga kita membuat-buat syariat baru untuk membuat orang lain beriman. Nggak boleh sembarang cara. Tapi tetap kudu ngikutin ajaran Islam.
Memang, kita adalah umat terbaik yang diseru untuk menyampaikan yang makruf dan mencegah yang munkar. Tapi sudah jelas seruan-seruan yang kita lakukan haruslah sesuai dengan syariat-syariat Islam. Sebab, kita sudah beriman dan akidah kita adalah akidah Islam. Ok?
Solusi yang gue tawarin
Karena zaman sekarang udah banyak amburadulnya, maka elo harus hati-hati bergaul. Inget nih, hati-hati bukan berarti menutup diri dari pergaulan. Tapi hati-hati adalah benar-benar menyeleksi setiap budaya yang masuk: apakah itu layak diterima atau nggak. Jangan menutup diri terhadap sesuatu yang baik. Elo kudu obyektif. Jangan gara-gara seseorang itu make sorban dan jubah terus pake gelar kiai, terus elo main gampang aja nerima setiap pendapat dia, padahal pendapat tersebut bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah.
Sebaliknya, kalo ada orang yang elo anggap penampilannya biasa-biasa aja tapi ngasih tahu elo tentang kebaikan berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, elo jangan sampe menolaknya. Apalagi sampe elo bilang: “Kamu udah hapal berapa hadits?”. Halah, bukannya nanya hadis itu sahih atau nggak eh malah nanyain jumlah, kan nyeleneh namanya tuh!
Yuk, kita ubah cara pandang kita. Pokoknya kalo sesuatu itu berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah, kita kudu terima karena kita adalah muslim. Inget lho, umat terbaik. Bukan umat yang hanya bisa bertaklid pada leluhur seperti orang jahiliyah dan malah menolak syariat Allah dengan alasan ketokohan. Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS al-Baqarah [2]: 170)
Bro, yuk terus kita sampaikan dakwah Islam dengan cara yang benar dan baik sesuai dengan syariat Islam. Jangan takut untuk menghadapi intimidasi dari orang-orang yang ingin menghancurkan Islam atau dari orang-orang yang bodoh tentang Islam tapi sok tahu. Tugas kita adalah menyampaikan apa yang telah Allah dan RasulNya turunkan. Soal hasil, itu adalah urusan Allah Swt. Kita nggak usah terlalu kecewa kalo nggak berhasil. Yang penting udah berdakwah. Baca dan tadaburi al-Quran, insya Allah iman elo makin kuat deh. Selain itu, tetep terus mengkaji Islam sebaik-baiknya, sedalem-dalemnya dan serajin-rajinnya ya. gaulislam edisi 106/tahun ke-3 (14 Dzulqaidah 1430 H/2 Nopember 2009)[ikrar: ikrarestart@gmail.com]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Lady Gaga, Salman Khan